Kamis, 27 Februari 2020

Survei: Rakyat Indonesia Pilih Pancasila Daripada Khilafah

- 4 Juni 2017, 16:28 WIB

JAKARTA, (PR).- Sebuah survei menunjukkan bahwa mayoritas warga Indonesia lebih memilih Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara dibandingkan khilafah. Survei itu dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting terhadap 1.350 responden.

Latar belakang dilakukannya survei itu terkait dengan ancaman terorisme oleh ISIS dalam beberapa tahun terakhir. Konflik dengan simpatisan ISIS di wilayah selatan Filipina sepekan terakhir juga diduga mempengaruhi hasil survei. Selain itu, terdapat juga ormas yang dibubarkan pemerintah RI karena dinilai bertentangan dengan konstitusi, seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang menjadi perhatian dalam survei.

Saiful Mujani mengatakan, survei dilakukan dengan cara wawancara tatap muka yang dilakukan pada 14-20 Mei 2017. Wawancara terhadap 1.350 responden itu dikatakannya memiliki quality control sebesar 20% dari total sampel. Adapun margin of error rata-rata survei kurang lebih 2,7% pada tingkat kepercayaan 95%.

Hasil survei

Menurut Saiful, berdasarkan survei, sebanyak 79,3% responden lebih memilih NKRI yang bersandar kepada Pancasila dan UUD 1945. Sementara sebanyak 9,2% responden menginginkan dasar negara diganti dengan negara Islam atau khilafah.

"Bisa diartikan juga, hampir satu dari 10 orang Indonesia secara eksplisit menginginkan NKRI diganti menjadi khilafah," katanya ketika memberikan pernyataan pers, Minggu 4 Juni 2017 sore.

Pertanyaan tentang pilihan dasar negara itu merupakan salah satu ukuran yang diambil dalam survei. Ada 9 pengukuran dalam survei yang disajikan sebanyak 69 halaman itu. Pengukuran itu salah terdiri dari sikap tentang NKRI, awareness terhadap ISIS dan HTI, nasionalisme dan patriotisme, kondisi umum negara, dukungan atau penolakan terhadap demokrasi, pilihan terhadap partai politik, mobilisasi opini oleh tokoh agama, dan demografi.

Secara garis besar, Saiful menjelaskan, diambil kesimpulan dari survei bahwa hampir semua warga menolak cita-cita ISIS, khilafah, untuk menggantikan NKRI yang bersandar pada Pancasila dan UUD 1945. Hampir semua bahkan dikatakannya tidak menoleransi ISIS dan setuju bila organisasi tersebut dilarang.

"Rasa nasionalisme merupakan faktor paling penting yang memunculkan sentimen negatif warga pada ISIS. Bukan sentimen terhadap demokrasi maupun kondisi sosial-ekonomi, politik, hukum dan keamanan," katanya.

Selain itu, ujar Saiful, sikap positif/negatif terhadap pemimpin keagamaan tertentu cenderung berkorelasi kepada dukungan terhadap ISIS.

Halaman:

Editor: Muhammad Ashari

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X