Sistem Kesehatan Indonesia Dinilai Terburuk di ASEAN

- 6 November 2016, 23:51 WIB

YOGYAKARTA,(PR).- Sistem pelayanan kesehatan di Indonesia dinilai yang terburuk di kawasan ASEAN. Demikian diungkapkan Pemerhati Kedokteran dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Nugroho Wiyadi di Yogyakarta, Minggu (6/11/2016). Alasannya, kata dia, pelaku pelayanan primer yang secara profesi tidak memiliki kompetensi dan kewenangan yang memadai, sehingga penanganan penyakit tidak sesuai standar.Selain itu, sering terjadi pemakaian berbagai obat secara tidak tepat yang pada akhirnya mengakibatkan ketidakefektifan biaya, dan juga masalah-masalah lain seperti resistensi obat akibat pemakaian obat antibiotik. "Pemahaman masyarakat yang lemah tentang sistem pelayanan kesehatan primer, baik puskesmas maupun pada dokter praktek umum, dan sekunder di rumah sakit, mengakibatkan mereka tidak mengikuti sistem rujukan yang ada," tuturnya. Masyarakat pada kelas ekonomi lemah, kata dia, cenderung memilih pelayanan kesehatan yang paling dekat dan murah, tidak peduli apakah petugas yang dia mintai pertolongan tersebut memiliki kewenangan dan kompetensi yang memadai. Disisi lain, menurutnya, masyarakat pada kelas ekonomi menengah ke atas cenderung langsung memeriksa diri ke dokter spesialis dengan berbagai risiko ketidaktepatan pemilihan jenis dokter spesialis yang dipilihnya. Untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat dapat dilakukan melalui penyediaan pelayanan yang bermutu dengan menerapkan kebijakan desentralisasi kesehatan. "Fokus dari kebijakan desentralisasi kesehatan tersebut lebih ke arah perubahan kewenangan dan kelembagaan, yang dalam sistem pelayanan kesehatan primer dimanisfestasikan adanya semi otonomi pengelolaan puskesmas, yang sayangnya belum menyentuh reformasi sistem pelayanan primernya itu sendiri," katanya. Sementara itu, sebelumnya Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia dari tahun ke tahun meningkat, walaupun saat ini Indonesia masih berada pada ranking 108 dari 187 negara di dunia. Pembangunan manusia pada dasarnya adalah upaya untuk memanusiakan manusia kembali. Adapun upaya yang dapat ditempuh harus dipusatkan pada seluruh proses kehidupan manusia itu sendiri, mulai dari bayi dengan pemberian ASI dan imunisasi hingga lanjut usia, dengan memberikan jaminan sosial. "Kebutuhan-kebutuhan pada setiap tahap kehidupan harus terpenuhi agar dapat mencapai kehidupan yang lebih bermartabat," ujarnya. Seluruh proses ini, kata dia, harus ditunjang dengan ketersediaan pangan, air bersih, sanitasi, energi dan akses ke fasilitas kesehatan dan pendidikan. alam rangka mendorong pembangunan manusia secara menyeluruh, perlu perhatian pada kesehatan sejak dini atau sejak Balita. "Kita lihat bahwa sangat penting untuk melakukan investasi yang tepat waktu agar pertumbuhan otak anak sampai usia 5 tahun dapat berjalan dengan baik, untuk menghindari loss generation," tuturnya. Menurut Nila, salah satu ancaman serius terhadap pembangunan kesehatan, khususnya pada kualitas generasi mendatang, adalah stunting. "Dimana rata-rata angka stunting di Indonesia sebesar 37.2%. Menurut standar WHO, persentase ini termasuk kategori berat," ucapnya.***

Editor: Wilujeng Kharisma


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X