Jumat, 24 Januari 2020

Agama Masih Dijadikan Alat Perekrutan Anggota Teroris

- 9 Juni 2016, 15:33 WIB

JAKARTA, (PR).- Pengkaderan melalui pendekatan radikalisme atas nama agama ternyata masih menarik sebagian orang untuk bergabung dengan organisasi terorisme. Sebelumnya kader-kader teroris identik dengan orang-orang yang "taat" dalam menjalankan ibadah serta memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat dimana ia tinggal. Namun, saat ini perekrutan serta pengkaderan untuk menjadi teroris ternyata "terbuka" bagi mantan residivis maupun pelaku yang terlibat dalam tindak kriminalitas. Seperti halnya dalam penangkapan tiga pelaku terorisme di Jalan Lebak Timur dan Lebak Agung Surabaya pada Rabu 7 Juni 2016. Diketahui bila terduga teroris itu bernama Priyo Hadi Purnomo, Jefri, dan Feri Novendi. Priyo merupakan mantan narapidana dalam kasus narkoba yang telah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan Porong Sidoarjo pada April 2014. Priyo menjalani masa hukuman selama 6 tahun. Diduga selama menjalani hukuman itu ia mengenal beberapa narapidana yang telah lebih dahulu mendekam dalam kasus terorisme. Begitu juga dengan Jefri yang sama-sama menjalani hukuman di LP Porong, setelah divonis bersalah dalam kasus kekerasan rumah tangga dan pengeroyokoan terhadap sesorang. Lain lagi dengan Ferry Novendi yang ditangkap di rumahnya di Jalan Lebak Agung. Ia dikenal sebagai pribadi yang sangat tertutup. Berdasarkan pengakuan tetangganya kepada polisi, Ferry tidak pernah bergaul dengan masyarakat, ia pun nyaris tidak pernah terlihat menjalankan salat di musala yang dekat dari rumahnya. "Tetangganya hanya tahu kalau dia itu bekerja di sebuah perusaha emas di kawasan Surabaya Timur," ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri Boy Rafli Amar di Jakarta, Kamis 9 Juni 2016. Menurut Boy, pemahaman agama yang dangkal menyebabkan orang dengan mudahnya masuk dan bergabung dalam organisasi terorisme. Bahkan, Priyo yang menjadi otak perakitan bom di Surabaya rela melakukan bom bunuh diri atas dasar keyakinannya sebagai jihad. Dari hasil penelusuran sementara polisi, diketahui bahwa kelompok terorisme Surabaya ini merupakan bagian dari jaringan terorisme ISIS. Berbeda dengan kelompok Alqaidah yang menjadikan target serangan kepada kepentingan negara barat, ISIS akan melakukan serangan terhadap kelompok manapun termasuk Islam, apabila tidak sejalan dengan pemikiran mereka. "Mereka akan melakukan penyerangan di tempat-tempat keramaian, apalagi saat Ramadan dan menjelang lebaran fasilitas publik akan menjadi sasaran mereka. Begitu juga dengan aparat keamanan yang sedang bertugas, perlu berhati-hati karena setiap saat ancaman itu akan selalu ada," ujar Boy. Dari hasil penyitaan yang dilakukan oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror yang didapatkan dari dua lokasi berbeda diperoleh tiga buah bom rakitan aktif, bahan peledak berdaya ledak tinggi, 2 senjata laras panjang, 1 senjata api laras pendek dan amunisinya, kabel, sangkur, ponsel dan alat-alat rakitan lainnya yang siap untuk mereka ledakan. Dari pengakuan Priyo diperoleh kerangan bahwa bom itu akan diledakkan di beberapa pusat keramaian yang ada di Surabaya.***


Editor: Puga Hilal Baihaqie

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X