Sekolah Dilarang Gunakan Buku dengan Penulis tak Jelas

- 3 Mei 2016, 13:33 WIB
WAKIL Kepala Sekolah SMAN 9 Bandung Iwan Hermawan memperlihatkan salah satu isi buku Pendidikan Agama Islam yang dinilai kurang cocok untuk diberikan pada siswa, di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Sabtu 28 Maret 2015 lalu. Menurutnya salah satu isi buku yang berjumlah 440 eksemplar terbitan Kemendikbud Republik Indonesia itu, mengajarkan kekerasan dan tidak cocok untuk dibaca siswa.*
WAKIL Kepala Sekolah SMAN 9 Bandung Iwan Hermawan memperlihatkan salah satu isi buku Pendidikan Agama Islam yang dinilai kurang cocok untuk diberikan pada siswa, di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Sabtu 28 Maret 2015 lalu. Menurutnya salah satu isi buku yang berjumlah 440 eksemplar terbitan Kemendikbud Republik Indonesia itu, mengajarkan kekerasan dan tidak cocok untuk dibaca siswa.*

SOLO, (PR).- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, menyatakan bahwa kementerian yang dipimpinnya akan melarang penggunaan buku pelajaran yang tidak mencantumkan identitas penulisnya secara jelas. Larangan itu sebagai salah satu upaya memperbaiki kualitas buku ajar yang beredar di sekolah-sekolah dan akan diberlakukan mulai tahun ajaran 2016/2017. "Mulai tahun ajaran mendatang, buku-buku pelajaran yang masuk ke sekolah tanpa disertai identitas lengkap penulisnya dilarang digunakan di sekolah," ujar Menteri kepada wartawan, seusai membuka Solo Book Fair 2016 di kawasan Benteng Vastenburg, Solo, Selasa 3 Mei 2016. Keharusan bagi penerbit mencantumkan identitas penulis buku, menurut Anies, menjadi salah satu cara pemerintah untuk memperbaiki mutu buku pelajaran. "Silakan perhatikan buku-buku pelajaran yang beredar saat ini. Siapa penulisnya, alamatnya di mana, khalayak tidak mengetahuinya. Apa keahlian penulis itu, pengguna juga tidak mengetahuinya." Dia menyatakan, masalah itu berdampak terhadap penurunan kualitas buku pelajaran. "Seandainya identitas, keahlian, nomor telefon, alamat, akun Facebook dan curriculum vitae penulis tercantum dalam buku, pengguna bisa memberikan kritik serta masukan kepada penulis," tandasnya. Tanggapan khalayak itu, diyakini akan bisa memperbaiki kualitas penulisan buku berikutnya. "Masalahnya, selama ini pembaca dan penulis tidak berkomunikasi. Khalayak hanya sebatas mengetahui tim penulis, serta nama-nama anggota tim tersebut," sambungnya. Mendikbud menambahkan, identitas lengkap penulis juga penting untuk diketahui pembaca agar ia dapat dimintai pertanggungjawaban jika konten buku yang ditulisnya menyimpang. "Kenapa selama ini masih banyak ditemukan konten buku pelajaran yang tidak layak? Ya karena buku pelajaran yang beredar di sekolah juga tidak jelas siapa penulisnya," tandas Anies. Mendikbud juga menyoroti mahalnya harga buku di Indonesia. Ia menyatakan, masalah ini bisa diatasi kalau minat baca khalayak terus meningkat. "Di luar negeri, harga buku bisa murah karena banyak permintaan dari pembeli. Harga buku terjangkau karena banyak buku yang dibeli," katanya. Dia menambahkan, pemerintah akan berusaha mengimbangi tingginya harga buku dengan penurunan pajak bagi penerbitan buku baru.***

Editor: Tok Suwarto


Tags

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X