Hasil Survei, Stroke Sebagai Pembunuh Nomor 1

- 7 April 2016, 05:27 WIB

JAKARTA, (PR).- Berdasarkan survei Kementerian Kesehatan, penyakit tidak menular yang menjadi pembunuh utama. Hal itu antara lain, stroke, lalu penyakit jantung, diabetes dengan komplikasi, TBC, hipertensi dengan komplikasinya, dan penyakit paru-paru kronis.
 
Survei itu menyebutkan, perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia mengubah proporsi kematian. Contohnya, pada tahun 1990-an, stroke hanya menempati urutan keempat, kini menjadi pembunuh nomor satu. Demikian siaran pers Cigna Indonesia di Jakarta, Kamis 7 April 2016.
 
Disebutkan, penyakit jantung dan pembuluh darah dari tahun 1990-an tidak masuk 10 besar, kemudian pada tahun 2000-an naik ke posisi kelima, saat ini malah berada di urutan kedua.
 
Belum lagi penyakit diabetes mellitus di mana pada tahun 1900-an tidak masuk di 10 besar penyakit mematikan, ternyata di tahun 2000-an menjadi penyakit mematikan urutan keenam. Kemudian pada tahun 2014, penyakit itu menduduki peringkat ketiga.
 
Sebelumnya, dalam sebuah diskusi, Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany menilai, perlu gerakan serius dalam 10 tahun ke depan untuk menurunkan faktor risiko dari penyakit tidak menular yang kini menjadi pembunuh utama masyarakat Indonesia. “Juga diperlukan kerja sama antara pemerintah dengan swasta, bahkan kerja sama lintas negara karena ini sudah menjadi masalah global," kata dia.
 
Hasbullah mengatakan, penyakit kronis membutuhkan waktu yang sangat lama untuk berkembang, karenanya orang menjadi kurang peduli. "Misalnya saja penyakit kanker paru atau kanker mulut pada perokok butuh waktu 30 tahun. Makanya, orang yang baru 5 tahun merokok merasa dirinya sehat-sehat saja," ujarnya.
 
Sementara itu, menurut dokter dari divisi kedokteran keluarga, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dhanasari Vidiawati Trisna, di antara penyakit tidak menular, stroke menjadi pembunuh nomor satu masyarakat Indonesia di tahun 2015 diikuti serangan jantung dan kanker. “Kita lihat, penyakit-penyakit ini tergolong tidak menular," kata dia.
 
Sejumlah faktor risiko seperti hipertesi, diabetes melitus, hiperkolesterol, obesitas, merokok, kurang berolahraga menjadi sederet pendukung angka kejadian stroke di masyarakat saat ini. Menurut dia,  sudah seharusnya masyarakat menerapkan pola perilaku hidup sehat, mulai dari rutin mengkonsumsi sayuran dan buah 400 gram per hari, mengatur asupan garam 5 mg per hari, aktif bergerak minimal 30 menit per hari, hingga menghentikan kebiasaan merokok.
 
Ditambahkan, dalam survei global yang digelar Cigna secara online pada tahun 2015 dengan melibatkan 15.000 responden, termasuk masyarakat Indonesia, terungkap, naiknya biaya hidup dan kesehatan di Indonesia, menjadi kekhawatiran kebanyakan orang Indonesia, khususnya untuk penduduk berusia 30 -40 tahun.
 
Negara-negara miskin dan berkembang dinilai sangat rendah dalam upaya pencegahan penyakit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, penyakit kritis menjadi penyebab utama kematian di dunia di mana penyakit itu  membunuh 38 juta orang setiap tahun.
 
Dari sejumlah penyakit kritis dan tidak menular, penyakit jantung menjadi penyumbang kematian terbesar dengan jumlah 17,5 juta jiwa per tahun. Posisi kedua adalah kanker dengan 8,2 juta jiwa per tahun, penyakit pernapasan (4 juta), dan diabetes (1,5 juta).
 
Sementara itu, World Economic Forum (WEF) melansir, penyakit tidak menular bisa menggerus biaya hidup sehari-hari masyarakat Indonesia hingga 4,5 triliun dolar AS. Jumlah itu lima kali lipat dari GDP Indonesia antara tahun 2012 hingga 2030.
 
CEO & President Director Cigna Indonesia Tim Shields mengatakan, saat ini masyarakat global sudah lebih sadar akan kesehatan dan kesejahteraan mereka sendiri. Kesejahteraan lebih dari sekadar kesehatan fisik saja.
 
"Malah, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menjadi lebih aktif dan mengikuti tren dalam mempromosikan hidup sehat. Meskipun demikian, perubahan gaya hidup di masyarakat Indonesia juga meningkatkan beban terhadap penyakit tidak menular," kata Tim Shields.
 
Berdasarkan survei Kementerian Kesehatan, penyakit tidak menular yang menjadi pembunuh utama antara lain, stroke, lalu penyakit jantung, diabetes dengan komplikasi, TBC, hipertensi dengan komplikasinya, dan penyakit paru-paru kronis.
 
 
 
Stroke menjadi pembunuh nomor satu masyarakat Indonesia di tahun 2015 diikuti serangan jantung dan kanker
 
Survei itu menyebutkan, perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia mengubah proporsi kematian. Contohnya, pada tahun 1990-an, stroke hanya menempati urutan keempat, kini menjadi pembunuh nomor satu.
 
Penyakit jantung dan pembuluh darah dari tahun 1990-an tidak masuk 10 besar, kemudian pada tahun 2000-an naik ke posisi kelima, saat ini malah berada di urutan kedua.
 
Belum lagi penyakit diabetes mellitus di mana pada tahun 1900-an tidak masuk di 10 besar penyakit mematikan, ternyata di tahun 2000-an menjadi penyakit mematikan urutan keenam. Kemudian pada tahun 2014, penyakit itu menduduki peringkat ketiga.
 
Sebelumnya, dalam sebuah diskusi, Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany menilai, perlu gerakan serius dalam 10 tahun ke depan untuk menurunkan faktor risiko dari penyakit tidak menular yang kini menjadi pembunuh utama masyarakat Indonesia. “Juga diperlukan kerja sama antara pemerintah dengan swasta, bahkan kerja sama lintas negara karena ini sudah menjadi masalah global," kata dia.
 
Hasbullah mengatakan, penyakit kronis membutuhkan waktu yang sangat lama untuk berkembang, karenanya orang menjadi kurang peduli. "Misalnya saja penyakit kanker paru atau kanker mulut pada perokok butuh waktu 30 tahun. Makanya, orang yang baru 5 tahun merokok merasa dirinya sehat-sehat saja," ujarnya.
 
Sementara itu, menurut dokter dari divisi kedokteran keluarga, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dhanasari Vidiawati Trisna, di antara penyakit tidak menular, stroke menjadi pembunuh nomor satu masyarakat Indonesia di tahun 2015 diikuti serangan jantung dan kanker. “Kita lihat, penyakit-penyakit ini tergolong tidak menular," kata dia.
 
Sejumlah faktor risiko seperti hipertesi, diabetes melitus, hiperkolesterol, obesitas, merokok, kurang berolahraga menjadi sederet pendukung angka kejadian stroke di masyarakat saat ini. Menurut dia,  sudah seharusnya masyarakat menerapkan pola perilaku hidup sehat, mulai dari rutin mengkonsumsi sayuran dan buah 400 gram per hari, mengatur asupan garam 5 mg per hari, aktif bergerak minimal 30 menit per hari, hingga menghentikan kebiasaan merokok.
 
Ditambahkan, dalam survei global yang digelar Cigna secara online pada tahun 2015 dengan melibatkan 15.000 responden, termasuk masyarakat Indonesia, terungkap, naiknya biaya hidup dan kesehatan di Indonesia, menjadi kekhawatiran kebanyakan orang Indonesia, khususnya untuk penduduk berusia 30-40 tahun.***
 
 
 

Editor: Satrio Widianto


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X