Minggu, 5 April 2020

Duka di Balik Foto Leonardo DiCaprio dan Gajah Sumatera

- 29 Maret 2016, 04:59 WIB

BANDA ACEH, (PR).- Aktor peraih Piala Oscar, Leonardo Dicaprio berwisata ke Indonesia, Minggu, 27 Maret 2016 lalu. Pemeran utama The Revenant (2015) itu juga datang bersama aktor lainnya Jack Driscoll dan Fisher Stevens ke Taman Nasional Gunung Leuser. Tepat di Stasiun Pengamatan Ketambe, mereka bertemu tiga orangutan Sumatera (Pongo abelii) dewasa. Dilaporkan Gunungleuser.or.id, DiCaprio tampak sangat terpukau melihat keindahan hutan, dan mendengar suara rangkong serta spesies burung lainnya. Selama hampir dua jam ia habiskan untuk menyaksikan perilaku orangutan Sumatera, satwa liar yang 97% genetikanya mirip dengan manusia. Dalam sebuah foto, ia pun tampak menyapa anak-anak Aceh dari bangku helikopternya. Sebuah foto yang ia unggah di akun berbagi Instagram, DiCaprio tampak tersenyum bersama gajah Sumatera. Namun, di balik senyum mengembang itu, DiCaprio menyimpan duka dan keprihatinan terhadap kondisi populasi sang gajah. “Dataran rendah #rainforest dari Ekosistem Leuser dianggap sisa habitat terbaik dunia untuk #elephant Sumatera yang terancam punah. Di hutan ini, jalur migrasi purba masih digunakan oleh beberapa kawanan #wild terakhir gajah Sumatera. Namun ekspansi perkebunan Kelapa Sawit yang memecah-belah #forest dan memotong koridor utama migrasi gajah, menyulitkan kawanan menemukan sumber yang cukup makanan dan air,” tulis Leo. Ia pun menjelaskan bahwa yayasannya Leonardo DiCaprio Foundation, mendukung mitra lokal di Indonesia untuk membangun suaka mega-fauna di Taman Nasional Gunung Leuser, tempat terakhir di bumi di mana orangutan Sumatera, harimau, badak dan gajah hidup berdampingan di alam liar. Selama ini, bintang film Titanic ini juga dikenal aktif mengkampanyekan perubahan iklim. Melalui lembaganya, ia aktif mendukung kegiatan konservasi di seluruh dunia. Di Indonesia, yayasan ini membantu juga konservasi di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh dan hutan Aceh. Empat hari lalu, ia pun sempat mengritik pembabatan hutan Sumatera untuk kepentingan bisnis. Melalui foto karya Jeremy Sutton-Hibbert yang ia unggah ke Instagram, ia menyampaikan bahwa lebih dari seperempat dari hutan Indonesia telah menghilang dalam 25 tahun terakhir. “Ditebang untuk membuat jalan bagi perkebunan, untuk digunakan dalam industri bubur kertas (untuk membuat tisu toilet yang kita gunakan) dan untuk membuat jalan bagi perkebunan kelapa sawit yang minyaknya digunakan dalam sabun, deterjen, lipstik, cokelat,....) diperkirakan 20% emisi karbon dihasilkan kerusakan hutan dan berpengaruh pada iklim setiap tahunnya,” tutur Leo.***


Editor: Gita Pratiwi A

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X