Napi Koruptor Jadi Penyuluh Antikorupsi, Mardani Ali Sera: Justru Jangan Beri Panggung

- 25 Agustus 2021, 10:32 WIB
Politisi PKS Mardani Ali Sera.
Politisi PKS Mardani Ali Sera. /ANTARA/HO-Humas Fraksi PKS

PIKIRAN RAKYAT - Program Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru-baru ini menjadi sorotan publik, sebab KPK akan menggandeng napi koruptor untuk menjadi penyuluh antikorupsi. Nantinya mereka akan ditugaskan untuk mengedukasi masyarakat dan mendengarkan testimoni dari para napi koruptor itu.

Namun, menanggapi hal tersebut politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera mengingatkan kepada KPK agar jangan memberikan panggung bagi para napi koruptor.

Menurut Mardani Ali program KPK ini sangat ironis dengan apa yang dilakukan KPK terhadap pegawainya, yakni dia menyinggung soal nasib 75 pegawai KPK yang disingkirkan melalui tes wawasan kebangsaan (TWK).

"Bismillah, KPK berencana menggandeng napi koruptor untuk penyuluhan anti korupsi. Program yang amat ironis jika melihat yang KPK lakukan terhadap pegawainya, seperti nasib 75 pegawai KPK yang disingkirkan melalui TWK. Ketika pegawai2 tersebut 'divonis' tidak bisa diperbaiki, tapi koruptor justru sebaliknya," kata Mardani Ali, sebagaimana dikutip Pikiran-Rakyat.com dari akun Twitter @MardaniAliSera.

Baca Juga: Pimpinan KPK Akui Sulit Lakukan Penyadapan: Calon Koruptor Sudah Belajar dari Praktik Sebelumnya

Selain itu, Mardani Ali juga mengingatkan kepada KPK terkait integritas, independensi dan transparansi dalam pemberantasan korupsi.

Apalagi dengan melibatkan koruptor, menurutnya hal itu kontradiktif dengan nilai-nilai tersebut, untuk itu, dia menegaskan jangan malah memberikan panggung kepada napi koruptor.

"Apakah KPK lupa nilai2 yang diperjuangkan selama ini? Integritas, independensi sampai transparansi dalam pemberantasan korupsi. Agenda pelibatan koruptor amat kontradiktif dengan nilai2 tersebut. Jangan justru memberikan panggung kepada para koruptor," kata Mardani Ali Sera.

Sebelumnya, Deputi Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK Wawan Wardiana menyebut hanya ada tujuh napi korupsi yang lolos skrining, sehingga layak menjadi penyuluh antikorupsi.

Baca Juga: Pimpinan Bantah Rem Kegiatan Penindakan di KPK: Selama Ada SDM, Kami Kebut

"Dari 28 (di lapas Sukamiskin) melalui beberapa tes, hanya empat orang yang memungkinkan karena ada juga yang ingin," kata Wawan dalam konferensi pers di Gedung KPK Jakarta, Jumat.

Kendati begitu, dia mengatakan setelah diuji oleh psikolog tidak memungkinkan, kemudian di Lapas Tangerang dari 22 orang, hanya tiga orang yang memungkinkan.

Sementara itu, pada tanggal 31 Maret 2021, KPK melakukan penyuluhan antikorupsi terhadap 24 narapidana kasus korupsi sebagai bagian program asimilasi yaitu yang masa tahanannya akan segera berakhir. Kegiatan tersebut juga dilakukan di Lapas Wanita Tangerang pada tanggal 20 April 2021.

"Karena pandemi ini yang empat dan tiga orang ini belum sempat dilakukan perekaman testimoninya. Mudah-mudahan nanti kalau PPKM sudah mulai turun levelnya atau bahkan hilang, kami akan melanjutkan program untuk mendengarkan testimoni dari mereka," ujar Wawan.

Baca Juga: Statusnya Dinonaktifkan, Pegawai KPK Ungkap Kerinduan Lakukan OTT Kasus Korupsi

Menurut Wawan, KPK memilih narapidana yang masa hukumannya tinggal beberapa bulan atau tahun untuk mengikuti program tersebut.

“Jadi, hanya bagi mereka yang tinggal sebentar lagi keluar untuk itu disosialisasikan dampak dari korupsi diingatkan kembali,” ujar Wawan.

Dia berharap kepada mereka, untuk bisa memberikan testimoni yang akan menjadi pelajaran bagi para penyelenggara atau masyarakat secara umum

Menurut Wawan, testimoni tersebut berisi mengenai kehidupan di penjara dan tahapan mereka menjadi narapidana kasus korupsi.

"Ke depan akan kami sebar luaskan, jadi edukasi bagi semua pihak untuk memetik pelajaran dari perjalanan mereka bagaimana perihnya pada saat mulai disebut sebagai tersangka, kemudian bagaimana perasaan mereka, keluarga, anak, baru jadi tersangka, divonis, dan seterusnya," ujar Wawan.

Menurut Wawan, cerita para napi itu cukup menyedihkan. Apa yang terjadi lagi ternyata lebih menyedihkan bagi pihaknya yang mendengarkan. Akan tetapi, baru mengobrol saja, belum merekam.

"Baru mendengarnya saja kami sendiri sudah merasa sesuatu yang bagus untuk semua pihak. Mudah-mudahan setelah pandemi ini turun kami akan melakukan rekaman terhadap beberapa teman-teman yang bersedia." kata Wawan.***

Editor: Ikbal Tawakal

Sumber: Twitter @MardaniAliSera


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X