Pesan di Balik Pilihan Busana Adat dan Perayaan HUT ke-76 RI, Puan Maharani: Jangan Lupakan Bali

- 17 Agustus 2021, 12:51 WIB
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Wapres Ma'ruf Amin (kedua kanan) dan Ketua DPR Puan Maharani menyapa anggota parlemen saat menghadiri Sidang Tahunan MPR Tahun 2021 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin 16 Agustus 2021.
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Wapres Ma'ruf Amin (kedua kanan) dan Ketua DPR Puan Maharani menyapa anggota parlemen saat menghadiri Sidang Tahunan MPR Tahun 2021 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin 16 Agustus 2021. /Antara Foto/Bagus Indahono

PIKIRAN RAKYAT - Busana Payas Agung Bali yang dikenakan oleh Ketua DPR RI Puan Maharani saat menghadiri Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD tahun 2021 di Ruang Rapat Paripurna, Gedung Nusantara pada Senin 16 Agustus 2021, membuat kita teringat Bali dan rencana untuk berlibur lagi ke pulau dewata tersebut. 

Puan Maharani mengaku tidak ada desainer khusus yang membantunya memilih busana untuk acara kenegaraan tersebut. Ia hanya menggunakan pakaian koleksi pribadi. “Ini baju saya sendiri, nggak ada desainer. Saya yang pilih kainnya. Ini kain Bali sidemen,” terangnya dalam keterangan, Selasa 17 Agustus 2021. 

Payas Agung adalah satu dari tiga pakaian adat Bali selain Payas Madya, dan Payas Alit. Tiap jenisnya memiliki peruntukan yang berbeda saat penggunaannya. Payas Agung biasanya dikenakan saat acara penting dan upacara keagamaan. 

Puan Maharani memilih busana Payas Agung Bali sebagai penyemangat bagi masyarakat Bali untuk kembali bangkit dan terus berjuang di tengah pandemi Covid-19 ini. 

Baca Juga: Astra Honda Distribusikan 1.100 Paket Sembako untuk Veteran Perang dan Korban Covid-19

Ada kurang lebih 5.000 hotel di Bali, lebih dari separuhnya terpaksa tutup dalam setahun terakhir. Hotel yang tetap buka, hanya memiliki tingkat hunian rata-rata 5 persen. Sekitar 300.000 pekerja hotel dan restoran dirumahkan. Demikian pula dengan 75.000 pekerja sektor transportasi dan 360.000 pekerja industri pendukung lainnya. 

Lebih dari separuh perekonomian Bali ditopang oleh industri pariwisata. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Bali turun hingga 12,28 persen pada kuartal III-2020, dan kontraksi 12,21 persen pada kuartal IV-2020 jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019 (year on year/yoy). Secara kumulatif, ekonomi Bali sepanjang 2020 mengalami kontraksi 9,31 persen yoy. Hal ini belum pernah terjadi sepanjang sejarah. 

Tentu saja pemerintah tidak tinggal diam. Pemerintah Provinsi Bali juga bergerak dengan menggencarkan program vaksinasi terutama bagi peserta industri pariwisata dan merumuskan berbagai kebijakan untuk membuat Bali tak lagi bergantung sepenuhnya pada sektor pariwisata. 

Baca Juga: Bung Jokowi Jadi Panggilan Baru, Respons Megawati dan Kader Demokrat

Pemerintah pusat meluncurkan program WFB (Work From Bali) yang tentu saja kontradiktif dengan pembatasan kegiatan masyarakat berjilid-jilid. Tapi bagaimanapun juga itu adalah usaha yang patut diapresiasi, walau belum tentu bisa dilaksanakan. 

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X