Keluh Kesah Warga Muara Baru Jakarta: PPKM, Pelan-Pelan Kita Mati

- 20 Juli 2021, 13:47 WIB
Ilustrasi - Suasana pemakaman korban meninggal akibat Covid-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta, Minggu 4 Juli 2021.
Ilustrasi - Suasana pemakaman korban meninggal akibat Covid-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta, Minggu 4 Juli 2021. /Antara/Muhammad Adimaja

PIKIRAN RAKYAT - Herdayati, warga Muara Baru, Jakarta Utara, mengungkapkan rasa frustrasinya atas keadaan saat ini lewat sebuah humor gelap yang memelesetkan singkatan PPKM: Pelan-Pelan Kita Mati (seharusnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).

Herdayati, berusia 48 tahun, adalah ibu dari 6 orang anak sekaligus tulang punggung bagi keluarga.

Penerapan PPKM Darurat oleh pemerintah demi menekan lonjakan kasus Covid-19 memiliki dampak yang sangat besar secara ekonomi bagi Herdayati.

Hidup Herdayati dan keenam anaknya kini terancam oleh 2 hal: virus corona dan kelaparan.

Baca Juga: Berganti Peran, India Sumbangkan Oksigen ke Indonesia

Dikutip Pikiran-rakyat.com dari Reuters pada 19 Juli 2021, lebih dari separuh populasi Indonesia yang berjumlah sekira 270 juta orang, rata-rata hidup dengan biaya kurang dari 60 dolar AS atau sekira Rp872.804 per bulan.

Hal itu membuat Indonesia menjadi negara kedua di dunia yang masyarakatnya paling rentan secara ekonomi, Herdayati termasuk satu di antaranya.

Selain rawan terpapar Covid-19 karena lingkungan tempat tinggalnya padat penduduk, orang-orang seperti Herdayati kini mesti menghadapi seretnya pemasukan karena aktivitasnya mencari nafkah terhambat penerapan PPKM Darurat.

Baca Juga: Update Corona Dunia, 20 Juli 2021: Hanya Indonesia Kasus Kematian di Atas 1.000 Orang

"Orang-orang seperti mereka tinggal di kawasan padat penduduk yang mana Covid-19 akan mudah sekali menyebar," sebut Arief Anshory Yusuf, pengamat ekonomi.

"Isolasi (di tempat padat) hampir mustahil dilakukan. Mereka di sisi lain juga kesulitan mengakses rumah sakit. Mereka rentan kehilangan sumber pendapatannya," kata Arief menambahkan.

Herdayati kini hanya bisa berusaha mengamalkan apa yang pernah dinasihatkan seorang tetangganya, "Jangan sampai sakit, Bu."

Baca Juga: Tak Tega Jika PPKM Diperpanjang, Ganjar Pranowo Minta Pemerintah Dengar Suara Rakyat

Penyaluran Bansos Tak Lancar

Pemerintah sebenarnya punya program paket bantuan sosial (bansos) bagi masyarakat yang rentan terdampak secara ekonomi selama PPKM Darurat.

Namun, sebagaimana dikatakan Presiden Jokowi pada 19 Juli 2021, penyaluran bansos oleh Kepala Daerah kepada masyarakat masih lamban.

"Saya melihat angka-angka yang berkaitan dengan dana bantuan UMKM, dana bantuan sosial, dana desa," kata Jokowi.

Jokowi menyebutkan, anggaran untuk membantu para pelaku UMKM totalnya mencapai Rp13,3 triliun untuk 514 kabupaten/kota.

Baca Juga: Kisah Getir Covid-19: Ayah Wafat Akibat Percaya Hoaks

"Yang dipake (tersalurkan) baru Rp2,3 triliun. Padahal kita ini sekarang butuh sekali. Rakyat butuh sekali. Rakyat menunggu," sebut Jokowi.

Selain itu, anggaran bantuan perlindungan sosial (Perlinsos) mencapai Rp12,1 triliun.

"Realisasi baru Rp2,3 triliun. Belum ada 20 persen semuanya, padahal rakyat menunggu ini," katanya.

Sementara dana BLT Desa yang anggarannya mencapai Rp28 triliun, realisasinya baru Rp5,6 triliun.

"Ini yang saya minta semuanya dipercepat. Dengan kondisi seperti ini, percepatan anggaran sangat dinanti oleh masyarakat," ujar Jokowi.***

Editor: Rio Rizky Pangestu

Sumber: Reuters


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X