Senin, 24 Februari 2020

Ustad Yusuf Mansur dan Twitter Dakwah

- 7 Agustus 2012, 06:55 WIB
USTAD Yusuf Mansur saat bertausyiah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.*

YOGYAKARTA, (PRLM).- Dai muda kondang, Ustad Yusuf Mansur, sangat antusias terhadap teknologi informasi sebagai sarana dakwah. Dia memanfaatkan teknologi informasi dengan membuka jaringan sosial, di antaranya twitter, yang dianggapnya efektif sebagai sarana dakwah. Saat bertausyiah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Pemimpin Pondok Pesantren Daarul Quran Bulak Santri, Cipondoh, Tangerang dan pengajian Wisata Hati itu, menyatakan interaksi di media sosial dengan umat sangat efektif dan cenderung dinamis. Seperti kasus dialog ajakan bersalawat, dia mengingatkan setiap Muslim selayaknya bersalawat 1.000 kali setiap hari. Followernya menanyakan, “Mengapa salawat harus dibatasi dengan angka tertentu?. Dibantah ajakannya, dia pun berapologi kepada followernya, “Loh, itu bukan gue yang menentukan jumlah berapa kali bershalawat. Nabi Muhammad sendiri yang menentukan berapa kali sehari melafalkan kalimat tersebut,” ujar dia. Lelaki kelahiran Jakarta, 19 Desember 1976, itu pun terlibat tawar menawar dengan follower tentang jumlah salawat. Jika tak mau 1.000 kali salawat, boleh diskon menjadi 100 kali salawat. Itu artinya hanya 70 hajat yang memungkinkan dikabulkan kelak di hari kiaamat dan 30 terkabul di dunia.n “Follower masih saja mempertanyakan, emangnya ada batasan jumlah salawat?.” Membaca keberatan followernya tentang jumlah salawat, dia pun menurunkan jumlah minimum salawat per hari. “Jika 100 kali salawat masih belum bisa, maka 10 kali di pagi hari dan 10 kali di sore hari dalam bersalawat.” Jika batas minimum salawat 10 kali per hari masih menawar dan gagal dijalankan, dia beralasan yang bersagkutan pasti pelit. “Kriteria orang yang mencintai Rasululllah Muhamad saw adalah mudah bersalawat. Jika 10 kali salawat tidak bisa memenuhi, ente pelit banget,” katanya. Ketika follower belum juga memahami penjelasannya, dia menegaskan sindirannya, “Orang yang paling utama bagi Nabi di hari kiamat adalah orang yang paling banyak salawatnya kepada Nabi, bukan yang paling banyak duwitnya, bukan yang paling banyak gelar, bukan yang punya pangkat banyak” kata dia. (A-84/A-147)***


Editor: Administrator

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X