Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian cerah, 30.2 ° C

Indonesia Butuh Banyak Pahlawan Masa Kini Hadapi Radikalisme

Siska Nirmala
SISWA SMP Sumatera 40 menabur bunga, seusai mengikuti ziarah di Taman Makam Pahlawan, Jalan Cikutra, Kota Bandung, Minggu, 10 November 2019. Ziarah yang diikuti sejumlah pejabat dan unsur muspida itu, dilakukan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Tingkat Provinsi Jabar 2019.*/ADE BAYU INDRA/PR
SISWA SMP Sumatera 40 menabur bunga, seusai mengikuti ziarah di Taman Makam Pahlawan, Jalan Cikutra, Kota Bandung, Minggu, 10 November 2019. Ziarah yang diikuti sejumlah pejabat dan unsur muspida itu, dilakukan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Tingkat Provinsi Jabar 2019.*/ADE BAYU INDRA/PR

JAKARTA, (PR).- Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo menilai Indonesia membutuhkan banyak pahlawan masa kini untuk menghadapi ancaman intoleransi dan radikalisme yang saat ini dianggap sebagai musuh utama bagi kedaulatan bangsa.

"Saat ini perjuangan yang kita lakukan bukan lagi mengangkat bambu runcing ataupun senjata. Ancaman nyata saat ini adalah masalah intoleransi dan radikalisme. Tugas kita bersama untuk menjaga keutuhan NKRI," ujar Bambang Soesatyo di Jakarta, Senin, 11 November 2019, seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Ia menilai, Indonesia memerlukan banyak pahlawan masa kini yang siap sedia memerangi musuh nyata NKRI yakni intoleransi dan radikalisme.

Bambang pun menyerukan agar seluruh lapisan masyarakat di Indonesia tak hanya sekadar mengingat jasa para pahlawan yang telah mendedikasikan dirinya untuk kemerdekaan Republik Indonesia. “Namun juga menerapkan spirit para pahlawan dengan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Sekretaris Jenderal Generasi Optimis (GO) Indonesia Tigor Mulo Horas Sinaga sebagai wadah dan organisasi kaum milenial, pihaknya menyatakan setuju bahwa seluruh elemen bangsa, khususnya kaum muda, harus meneruskan perjuangan yang telah dirintis para pahlawan.

Menurut dia, pahlawan masa kini adalah mereka yang mengisi kemerdekaan dengan kegiatan yang positif. Selain berkontribusi dan mencintai serta mengharumkan nama bangsa Indonesia dengan selalu menjaga nilai-nilai luhur Pancasila.

"Pahlawan berasal dari Bahasa Sansekerta, phala-wan yang merujuk pada orang menghasilkan buah phala berkualitas bagi bangsa, negara, dan agamanya. Atau yingxiong dalam bahasa Mandarin," kata Horas.

Pahlawan secara harafiah adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran dan berjuang dengan gagah berani.

Pengamat politik dan intelijen itu mengajak semua elemen bangsa untuk menghidupkan semangat kepahlawanan di era post-milenial ini dan bersama menjaga kedaulatan bangsa dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

"Bung Karno, Bung Hatta, Sam Ratulangi, Cut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Sisingamangaraja XII, Kapiten Pattimura, Patih Jelantik, dan semua pahlawan bangsa ini telah berjuang pada zamannya masing-masing. Semua demi Ibu Pertiwi. Bagaimana dengan kita sekarang,” tegas Horas.

Dalam kesempatan yang sama, Dewan Pembina Generasi Optimis Indonesia, Mangasi Sihombing pun menyoroti tingginya praktik intoleransi akhir-akhir ini mendesak untuk segera diatasi mulai dari dunia pendidikan.

"Pendidikan mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi sudah disusupi gerakan intoleransi. Karena itu kami mendukung Presiden Jokowi memaksimalkan peran Kemendikbud, Kemenag, Kemendagri, dan elemen-elemen lain yang terkait untuk mengatasi praktik intoleransi," kata Mangasi.

Ia mengatakan bahwa kurikulum pelajaran sejarah bangsa dan negara dalam mata pelajaran, baik di tingkat SD, SMP, dan SMA harus segera dimasukkan kembali oleh Kemendikbud melalui Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Hal tersebut sangat krusial karena generasi muda juga wajib mengenal sejarah bangsanya sendiri serta mengenal perjuangan para pahlawan untuk kemerdekaan Republik Indonesia.***

Bagikan: