Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sedikit awan, 24.4 ° C

Letusan Merapi Mencapai 1,5 Kilometer dari Puncak, Hujan Abu Tipis di Sejumlah Desa

Gita Pratiwi A
LETUSAN Gunung Merapi terlihat dari Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu, 9 November 2019.*/ANTARA FOTO
LETUSAN Gunung Merapi terlihat dari Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu, 9 November 2019.*/ANTARA FOTO


YOGYAKARTA, (PR).- Gunung Merapi, Sabtu, 9 November 2019, pukul 6.21 WIB mengeluarkan awan panas letusan dengan kolom letusan terpantau 1.500 meter dari puncak.

TRC BPBD Kabupaten Sleman pun langsung melakukan pantauan hujan abu di wilayah Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo, dan Dusun Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, tidak terjadi hujan abu vulkanis.

"Awan panas letusan tercatat di seismogram dengan amplitudo maksimal 65 milimeter dan, durasi kurang lebih 160 detik. Kolom letusan setinggi 1.500 meter dari puncak condong ke Barat," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman Makwan di Sleman, seperti dikutip Antara.

Makwan mengatakan, status Gunung Merapi saat ini masih waspada, sejak 21 Mei 2018. Rekomendasi jarak aman untuk aktivitas warga tetap tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Hujan abu tipis

Kantor Berita Antara juga melaporkan desa di Kecamatan Sawangan dan Dukun Kabupaten Magelang, Sabtu pagi,terkena hujan abu tipis akibat terjadinya awan panas letusan Gunung Merapi.

Petugas pengamatan Gunung Merapi Pos Babadan Magelang, Yulianto mengatakan selain beberapa desa di Kabupaten Magelang, hujan abu tipis juga terjadi di Tlogolele wilayah Kabupaten Boyolali.

Ia mengatakan letusan pagi ini tidak membuat masyarakat panik, karena mereka sebelumnya telah mendapatkan sosialisasi.

Ia menyampaikan setelah terjadi letusan tahun 2010, letusan Gunung Merapi cenderung kecil. Hingga sekarang status aktivitas Gunung Merapi tetap waspada. 

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida menyatakan fenomena awan panas letusan Gunung Merapi pada Sabtu pagi kembali dipicu tekanan akumulasi gas vulkanik dari dalam gunung, sama dengan letusan pada 14 Oktober 2019.

"Masih sama penyebabnya, adanya akumulasi gas," kata Hanik. Tekanan akumulasi gas muncul seiring berlangsungnya suplai magma Gunung Merapi yang diproduksi secara kontinu. Gas yang terakumulasi di bawah kubah lava dan terlepas secara tiba-tiba, mendobrak kubah lava sehingga runtuh menjadi awan panas.

Diketahui, pasca kejadian tanggal 14 Oktober, volume kubah lava susut hingga 397 meter kubik dari 483 meter kubik. Artinya, berkurang hingga 90 meter kubik.

"Kalau baru meletus begini, kita tidak bisa secara eksak memberi info. Yang jelas itu letusan kecil yang kemungkinan tidak berpengaruh terhadap volume," kata dia.***

Bagikan: