Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Waspada Whatsapp Diretas Perusahaan Teknologi Israel, Nomor Asal Indonesia Terlibat

Yusuf Wijanarko
Whatsapp/DOK. PR
Whatsapp/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Kementerian Komunikasi dan Informatika terus memantau perkembangan kasus peretasan yang menimpa ribuan pengguna Whatsapp di sejumlah negara oleh spyware Pegasus buatan NSO Group.

"Sejauh ini kami pantau, belum terlihat itu (peretasan)," kata Menkominfo Johnny G Plate usai bertemu perwakilan Facebook, perusahaan induk Whatsapp di kantor Kementerian Kominfo, Kamis 7 November 2019.

Menkominfo Johnny G Plate enggan menyimpulkan apakah saat ini kasus peretasan tersebut terjadi di Indonesia. Namun, dia menyatakan terus bekerja bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) untuk kasus peretasan Whatspp.

Johnny G Plate menyatakan, dalam waktu dekat akan bertemu langsung dengan BSSN.

Johnny G Plate mengingatkan semua pengguna Whatspp untuk selalu memperbarui aplikasi mereka agar mendapat perlindungan keamanan siber terbaru, termasuk untuk mencegah disusupi spyware.

"Update karena software itu akan menjaga semua fitur-fitur di perangkat kita dengan baik," kata Johnny G Plate seperti diberitakan Antara.

NSO Group diduga membuat spyware yang disusupkan ke server Whatsapp untuk meretas pengguna terutama dari negara-negara yang berhubungan dengan Amerika Serikat.

Reuters melaporkan, peretasan itu berdampak pada 1.400 pengguna di berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, Bahrain, Uni Emirat Arab, India, Pakistan, dan Meksiko.

Peretasan diduga menargetkan pejabat senior pemerintahan. India menyatakan korban peretasan di negara mereka adalah jurnalis, pengacara, akademisi, dan pembela komunitas Dalit.

Facebook masih bungkam

Facebook belum bisa memberikan keterangan mengenai kasus peretasan Whatsaapp di Indonesia, yang melibatkan perusahaan teknologi asal Israel, NSO Group.

"Kami sedang memasukkan tuntutan terhadap NSO Group di Amerika Serikat... Tidak bisa menjelaskan secara rinci," kata Direktur Kebijakan Whatspp Asia Pasifik, Clair Deevy, usai pertemuan di Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Whatsapp belum bisa memberikan informasi yang berkaitan dengan Indonesia atau rincian lainnya tentang kasus tersebut karena sedang memasukkan tuntutan hukum di Amerika Serikat, yang mereka sebut komitmen untuk melindungi privasi pengguna.

"Kami menghormati privasi setiap orang di seluruh dunia," kata Deevy.

Sejumlah media memberitakan peretas menggunakan nomor asal Indonesia dalam kasus ini.***

Bagikan: