Pikiran Rakyat
USD Jual 14.004,00 Beli 14.102,00 | Berawan, 26.8 ° C

Jokowi Jawab Kontroversi Pemilihan Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan

Muhammad Ashari
PRESIDEN Joko Widodo bertemu dengan para wartawan di Istana Merdeka, Kamis 24 Oktober 2019.*/MUHAMMAD ASHARI/PR
PRESIDEN Joko Widodo bertemu dengan para wartawan di Istana Merdeka, Kamis 24 Oktober 2019.*/MUHAMMAD ASHARI/PR

JAKARTA, (PR).- Tidak lama setelah Sidang Kabinet Paripurna perdana usai, Presiden Joko Widodo mengadakan audiensi dengan wartawan di Istana Merdeka, Kamis 24 Oktober 2019. Dalam pertemuan itu, Jokowi menjawab berbagai pertanyaan seputar Kabinet Indonesia Maju, termasuk jabatan Menteri Pertahanan yang kini dipegang Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Pertanyaan mengenai jabatan Menhan mengemuka karena penunjukkannya kontroversial dan tidak lepas dari kritik. Beberapa pihak menilai keputusan tersebut bisa berdampak kepada lemahnya oposisi pemerintahan dan demokrasi.

Menanggapi kontroversi seputar jabatan Menhan, Jokowi mengatakan, dia ingin membangun demokrasi gotong royong. Membawa masuk Prabowo Subianto ke dalam kabinet menjadi upayanya membangun demokrasi gotong royong tersebut.

“Kalau itu (mengundang Prabowo Subianto) baik untuk negara, baik untuk bangsa, kenapa tidak,” ujarnya.

Alasan yang dikemukakan Jokowi itu tidak bisa dilepaskan dari konteks situasi kampanye Pemilu 2019 yang berlangsung panas di tataran pendukung masing-masing calon presiden kala itu.

Dengan mengajak bergabung Prabowo, Jokowi berharap bisa mengurangi tensi politik akibat Pemilu yang telah berlalu itu.

Bergabungnya Prabowo Subianto ke dalam kabinet juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi partai politik. Banyaknya partai yang berkompetisi dalam Pemilu, disinggung Jokowi. Menurut dia, dengan partai politik yang banyak, demokrasi di Indonesia tidak bisa disamakan dengan demokrasi di negara lain, seperti di Amerika Serikat yang hanya punya dua partai politik.

“Memang sistem presidensial yang kita miliki ini tidak seperti di luar (negeri), biasanya ada dua partai besar. Ini tidak. Meskipun dua (capres) yang berkompetisi, tapi partainya banyak,” ujarnya.

Persoalan yang terjadi di seputar pemilihan anggota kabinet dan sistem presidensial dengan banyaknya partai politik, dinilainya menjadi bagian dari proses demokrasi yang tengah berjalan di Indonesia. Meski masih berproses, Jokowi mengharapkan arahnya semakin baik.

“Kita memang masih menuju pada sebuah proses demokrasi bernegara ke depan. Memang kita semuanya masih dalam proses, tapi saya lihat menuju sebuah koridor yang semakin baik ke depan,” katanya.

Jokowi juga ditanya mengenai alasannya memilih Menhan sebagai bentuk akomodasi politik terhadap Prabowo Subianto. Dia menjawab, posisi itulah yang sesuai dengan keahlian Prabowo Subianto. “Ya, memang pengalaman beliau besar ada di situ,” ujarnya.***

Bagikan: