Pikiran Rakyat
USD Jual 14.004,00 Beli 14.102,00 | Berawan, 25 ° C

Plot Twist Prabowo, Akhir Drama Tanpa Banyak Kata

Muhammad Ashari
PRESIDEN Joko Widodo menyerahkan petikan keputusan kepada calon Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dalam rangkaian acara pelantikan menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu 23 Oktober 2019.*/ANTARA
PRESIDEN Joko Widodo menyerahkan petikan keputusan kepada calon Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dalam rangkaian acara pelantikan menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu 23 Oktober 2019.*/ANTARA

IBARAT plot film, didapuknya Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan di kabinet Joko Widodo- Ma’ruf Amin seakan menjadi plot twist drama rivalitas dalam Pemilu lima tahun terakhir.

Sederhananya, plot twist adalah istilah yang menunjukkan adanya alur yang cara bertuturnya berubah secara drastis—biasanya menjelang akhir babak—sehingga menghasilkan efek kejutan.

Mungkin tidak ada yang mengira bahwa Prabowo, sebagai seteru paling gigih Jokowi dalam Pemilu 2014 dan 2019, akhirnya berdiri bersama 37 orang lainnya di Istana Negara untuk diambil sumpah sebagai Menteri Pertahanan di bawah arahan Presiden Jokowi.

Mungkin juga tidak terbayangkan Prabowo akan hadir bersama-sama anggota kabinet pemerintahan Jokowi ldi undakan Istana Merdeka untuk berfoto bersama.

Akan tetapi begitulah kenyataannya dalam suasana pelantikan anggota Kabinet Indonesia Maju di Istana Kepresidenan, Rabu 23 Oktober 2019. Rivalitas pemilu menunjukkan akhir yang tidak terduga.

PRESIDEN Joko Widodo menyalami Menteri Pertahanan Prabowo Subianto seusai pelantikan menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Rabu 23 Oktober 2019.*/ANTARA

Dalam Kabinet Indonesia Maju, Partai Gerindra akhirnya mendapatkan jatah dua menteri. Selain Prabowo, Wakil Ketua Umum Gerindra Edhy Prabowo didapuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, menggantikan Susi Pudjiastuti.

Penunjukkan dua orang itu mengakhiri spekulasi sikap politik Partai Gerindra terhadap pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Kini, terpampang jelas bahwa Partai Demokrat dan PAN harus berada di luar pemerintahan bersama-sama PKS.

Tak banyak kata

Seusai pelantikan, Prabowo Subianto tidak banyak membicarakan sikap politiknya yang memilih bergabung dengan pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin. Saat itu, dia lebih banyak membicarakan mengenai tugas barunya di Kementerian Pertahanan.

Dia mengatakan, masih ada penyesuaian yang perlu dilakukan terlebih dahulu terkait dengan tugasnya sebagai Menhan.

“Saya harus lihat kantor kementerian dulu, tanya pejabat di sana. Ada proses serah terima. Saya akan belajar dulu situasi yang terakhir, baru kita akan mulai kerja,” katanya.

Prabowo Subianto tidak banyak memberi kesempatan wartawan untuk bertanya saat itu. Dia langsung melambaikan tangan dan meninggalkan tempat konferensi pers saat awak media yang ada di sana riuh bertanya.

Dalam kesempatan lain, Prabowo Subianto sempat membicarakan tentang sikap politiknya itu. Dia bersedia membangun negara dengan mengenyampingkan perbedaan politik.

Saat proses wawancara calon menteri berlangsung, Prabowo Subianto sempat mengatakan bahwa partainya akan membantu Jokowi-Ma’ruf Amin bila diminta.

“Partai Gerindra siap membantu pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin bila diminta. Kini permintaan itu telah secara resmi disampaikan dan kami sudah sanggupi untuk membantu,” ujarnya, Senin 21 Oktober 2019.

Edhy Prabowo menyoal kekecewaan pendukung

Ditemui di sela-sela pelantikan, Menteri KKP Edhy Prabowo mengatakan bahwa penunjukkannya sebagai Menteri KKP adalah kehormatan besar yang diterimanya dan juga yang diterima partainya. “Yang jelas saya dapat amanah ini. Berarti harus saya jalankan,” katanya.

Saat itu, Edhy Prabowo ditanya juga mengenai kemungkinan ada pendukung yang kecewa dengan keputusan Partai Gerindra. Dia belum mendengar adanya nada kekecewaan yang disampaikan secara langsung.

“Selama ini kita belum dengar langsung. Kita selalu terbuka untuk mendengarkan, menerima masukan,” katanya.

Dia mengatakan, persoalan seperti sikap politik partai, pada dasarnya merupakan urusan internal partai. Begitu juga perihal kemungkinan pendukungnya yang kecewa.

“Sejauh ini sudah kami sampaikan dan saya pikir itu menjadi urusan kami,” katanya.***

Bagikan: