Pikiran Rakyat
USD Jual 14.039,00 Beli 14.137,00 | Hujan petir singkat, 22 ° C

Nasir: Harus Fokus pada Mutu Riset

Dhita Seftiawan
*/DOK. PR
*/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Mantan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir berharap pejabat selanjutnya fokus meningkatkan mutu riset. Ini karena, secara kuantitas, dalam 2 tahun terakhir publikasi jurnal ilmiah internasioal Indonesia sudah tertinggi di ASEAN. Inovasi riset juga harus sesuai rencana induk riset nasional (RIRN) yang sudah ditetapkan Kemenristekdikti periode 2014-2019.

Nasir menegaskan, mutu riset akan menentukan daya saing sumber daya manusia Indonesia di tingkat global. Kendati berorientasi pada mutu, para peneliti, perekayasa dan dosen juga diharapkan masih produktif mempiblikasikan jurnal internasional. Ia menuturkan, per Oktober 2019, jumlah riset internasional Indonesia sudah mencapai sekitar 35.000 jurnal.

"Jadi sudah saatnya mulai fokus meningkatkan mutu. Artinya membuat riset inovasi yang relevan dengan kebutuhan perekonomian nasional. Harus inovasi yang mudah diserap industri. Dengan begitu, akan turut membantu meningkatkan pendapatan negara. Selama saya pimpin, jumlah riset sudah meningkat sangat pesat bahkan mencetak sejarah," ujar Nasir di Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2019.

Nasir juga berharap Kemenristekdikti mempertahankan beberapa capaian yang sudah baik. Mulai dari tata kelola keuangan hingga sistem internal yang sudah terintegrasi dengan perangkat teknologi. Menurut dia, pendidikan tinggi dan teknologi harus menjadi yang terdepan untuk mencapai mutu SDM unggul seperti yang diinginkan Presiden Joko Widodo.

Nasir mengungkapkan ada dua hal utama yang dilakukannya saat memimpin Kemenristekdikti. Yaktu, memperbaiki birokrasi, terutama akuntabilitas anggaran dan mengefisiensikan layanan pada masyarakat melalui sistem online.

"Kita lihat dari sistem birokrasi yang ada di Kemenristekdikti, dulu kami di Kemenristekdikti mengurusi birokrasi itu saya ditugasi untuk menggabungkan Kementerian Riset dan Teknologi dan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," ungkap Nasir.

Kemenristekdikti juga mendapatkan opini opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) 3 tahun berturut-turut. Selama lima tahun terakhir Kemenristekdikti juga menerima penghargaan dalam bidang pengaduan masyarakat, layanan umum, dan penyebaran informasi program Kementerian melalui media utama dan media sosial. Perbaikan layanan online juga diterapkan untuk pendaftaran guru besar atau profesor yang kemudian mendorong penelitian, publikasi ilmiah, dan paten meningkat, terutama yang dilakukan langsung maupun yang dibina oleh profesor.

Selain itu, Nasir juga berharap program kendaraan listrik berjalan dan sesuai target. Selain inovasi dari perguruan tinggi, Kemenristekdikti juga harus terus mendorong mahasiswa dan masyarakat menggerakkan ekonomi Indonesia berlandaskan inovasi melalui program Calon Perusahaan Pemul Berbasis Teknologi (CPPBT) dan Perusahaan Pemul Berbasis Teknologi (PPBT).

"Setelah tidak jadi menteri saya akan kembali ke kampus. Jadi dosen mungkin di Universitas Diponegoro Semarang. Siapapun menteri selanjutnya, saya akan bantu jika diperlukan. Saya juga akan membantu pemerintah dengan pekerjaan lain dari dunia akademisi," kata Nasir.

Dalam informasi yang beredar di lingkungan wartawan, Kemenristekdikti kemungkinan besar akan diubah oleh Jokowi. Bidang pendidikan tinggi akan kembali digabung dengan Kemendikbud. Sedangkan urusan riset menjadi Badan Riset Nasional. Digabung dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Nasir menegaskan, BRN memang sudah direncanakan sejak lama oleh Jokowi dan menjadi bahan kampanye dalam Pilpres. Menurut dia, kehadiran BRN akan membuat mutu riset nasional lebih baik. "Jadi bidang riset yang dilakukan tidak tumpang tindih seperti sekarang karena semua kementerian dan lembaga terkait juga melakukan riset," kata Nasir.***

Bagikan: