Pikiran Rakyat
USD Jual 14.039,00 Beli 14.137,00 | Cerah berawan, 26.6 ° C

FPKS: Hari Santri Mesti Jadi Ajang Meneladani Perjuangan Ulama

Muhammad Irfan
KETUA Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini dalam Seminar dengan Tema “Peran Santri Dalam Menjaga Kedaulatan NKRI” yang digelar di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa, 22 Oktober 2019.*/MUHAMMAD IRFAN/PR
KETUA Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini dalam Seminar dengan Tema “Peran Santri Dalam Menjaga Kedaulatan NKRI” yang digelar di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa, 22 Oktober 2019.*/MUHAMMAD IRFAN/PR

JAKARTA, (PR).- Peringatan hari santri nasional 2019 hendaknya menjadi ajang masyarakat untuk meneladani semangat para ulama dalam menjaga karakter bangsa dan menjaga kedaulatannya. Hal ini disampaikan oleh Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini dalam Seminar dengan Tema “Peran Santri Dalam Menjaga Kedaulatan NKRI” yang digelar di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa, 22 Oktober 2019.

Jazuli menyebut tak berlebihan jika santri dikatakan sebagai tulang punggung NKRI. Mereka yang mewariskan NKRI, mereka juga yang menjaga kedaulatannya. Pergerakan kemerdekaan Indonesia bertabur nama besar ulama dan santri pejuang karena memang kesadaran hubbul wathon minal iman diajarkan di pesantren-pesantren sejak dulu.

"Itulah sifat dan karakter pendidikan pesantren yang sangat nasionalis sehingga layak dijadikan soko guru pendidikan nasional,” kata Jazuli.

Selain itu santri adalah gambaran nyaris sempurna visi pendidikan nasional dalam Pasal 31 UUD 1945 yaitu siswa didik yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, karakter pendidikan pesantren diperkuat melalui UU Pesantren yang berhasil disahkan DPR kemarin.

“Di samping itu, UU juga mengamanatkan kepada negara dan pemerintah agar memberikan perhatian dan dukungan yang lebih kuat terhadap kemajuan, anggaran, dan sarana prasarana pesantren,” ucap dia.

Sementara itu,  Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Netty Prasetyani menyampaikan agar momentum Hari Santri tidak hanya menjadi selebrasi, tapi harus menjadi spirit bagi generasi milenial dalam membangun jiwa patriotik, rela berkorban, dan cinta tanah air. Kaum santri harus dapat menjawab tantangan Presiden Jokowi untuk menjadi bagian dari SDM unggul di tengah dunia yang penuh risiko, sangat dinamis, dan kompetitif dengan berani mengembangkan cara-cara baru dalam dunia pesantren.

“Kaum santri harus memiliki kemampuan beradaptasi dalam lingkungan yang terus berubah dan mengambil peranan penting dalam membangun negara. Ruh santri adalah ruh jihad, ruh bersungguh-sungguh, penuh semangat perjuangan, kerja keras, dan rela berkorban. Dengan ruh mulia ini, kaum santri harus menjadi bagian dari iron stock masa depan Indonesia,” ucap Netty.

Oleh karena itu, momentum ini mesti dimaknai sebagai cara untuk kembali 'nyantri', kembali membangun semangat perjuangan, jiwa patriotik dan rela berkorban untuk NKRI. Dulu rakyat dan santri berjuang dengan fisik, senjata, dan mengorbankan jiwa raga. Hari ini perjuangan dilakukan dengan melawan kebodohan, belajar menjadi milenial yang cerdas, kreatif, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk melakukan perubahan.

“Kaum santri akan  berkontribusi mewujudkan mimpi:  Indonesia keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah pada 2045 sesuai harapan Presiden,” ucap dia.***

Bagikan: