Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sedikit awan, 21.3 ° C

Hari Parlemen, Netty Prasetyani Legislator Perempuan Semakin Vokal

Muhammad Irfan
ANGGOTA DPD termuda Jialyka Maharani mengikuti pelantikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2019-2024 di Ruang Rapat Paripurna, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 1 Oktober 2019. Sebanyak 575 anggota DPR terpilih dan 136 orang anggota DPD terpilih diambil sumpahnya pada pelantikan tersebut.*/ANTARA
ANGGOTA DPD termuda Jialyka Maharani mengikuti pelantikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2019-2024 di Ruang Rapat Paripurna, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 1 Oktober 2019. Sebanyak 575 anggota DPR terpilih dan 136 orang anggota DPD terpilih diambil sumpahnya pada pelantikan tersebut.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Tanggal 16 Oktober 2019 kerap diperingati sebagai Hari Parlemen Indonesia. Memaknai ini, Anggota DPR RI Netty Prasetyani menilai perlunya peningkatan peran legislator perempuan untuk vokal di parlemen.

Menurut Wakil Ketua FPKS tersebut, selama ini perempuan kerap terkungkung dalam tugas domestik rumah tangga yang kerap disebut dapur, kasur, sumur. Sampai hari ini stereotype tersebut masih cukup kuat melekat di masyarakat.

"Bahkan, tidak sedikit orang yang mengaitkannya dengan doktrin agama sehingga melabelkan perempuan yang keluar dari tiga tempat tersebut sebagai perempuan salah arah. Padahal urusan dan kerumitan di tiga ruang tersebut amat dipengaruhi oleh kebijakan negara," kata Netty.

Sebut saja, harga bahan kebutuhan pokok, air bersih, listrik, kesehatan ibu, kesehatan anak, kecerdasan anak, dan risiko kematian ibu dalam proses persalinan. Semua itu tidak dapat dilepaskan dari kebijakan yang dihasilkan oleh proses politik. Oleh karena itu, menurut Netty, bagaimana mungkin perempuan tidak terlibat dalam ruang publik dan politik.

"Partisipasi perempuan adalah sebuah keniscayaan untuk kehidupan yang lebih baik dan berkeadilan. Bukan karena perempuan kurang kerjaan atau sekadar menuntut persamaan hak," ucap dia.

Netty yang terpilih sebagai anggota DPR RI Dapil Cirebon-Indramayu menuturkan, negara membutuhkan andil dan karya perempuan untuk melahirkan kebijakan yang ramah bagi perempuan, anak, keluarga, dan seluruh elemen bangsa. Sampai hari ini Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi, Rerata Lama Sekolah Perempuan masih rendah. Jumlah keluarga pra sejahtera, tingkat kekerasan terhadap anak dan perempuan, kasus perdagangan perempuan, dan jumlah pekerja anak di Indonesia masih tinggi.

"Hadirnya perempuan di parlemen, baik di tingkat kota/kabupaten, provinsi, dan nasional diharapkan dapat memberikan kontribusi penyesaian persoalan-persoalan krusial menyangkut perempuan, anak, dan keluarga. "Kiprah perempuan di parleman harus
memastikan hadirnya kebijakan publik yang pro rakyat," ucap dia.

Dengan tuntutan seperti itu, kata Netty yang pernah menjadi Ketua P2TP2A Jawa Barat, perempuan di parlemen harus terus meningkatkan kualitas, kapasitas, dan kompetensinya agar perannya dapat memberi manfaat bagi banyak orang. Saat ini baru 119 perempuan dari total 575 anggota DPR RI. Perlu upaya serius dari pemerintah, partai politik, dan elemen masyarakat lainnya guna
meningkatkan jumlah perempuan anggota legislatif di DPR RI.

"Perempuan Indonesia terus berkarya dan berprestasi dalam bidang yang digelutinya. Jangan terjebak dengan stereotype dapur, kasur, sumur, akan tetapi jadikan "dapur, kasur, dan sumur" sebagai pijakan untuk melakukan lompatan dan perluasan peran," ucap dia.***

Bagikan: