Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

Masih Ada 21 Penderita Gangguan Jiwa yang Dipasung di Banyumas

Eviyanti
ILUSTRASI penderita gangguan jiwa dipasung.*/KABAR BANTEN
ILUSTRASI penderita gangguan jiwa dipasung.*/KABAR BANTEN

PURWOKERTO, (PR).- Pemasungan merupakan akhir tragis dari penderita gangguan kejiwaan. Di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sebanyak 21 penderita gangguan kejiwaan yang terdata, masih dipasung oleh keluarganya. 

Pihak keluarga menolak membuka pasung, dengan alasan sudah merasa frustasi sehingga sulit untuk dimotivasi kembali.

Kasus pemasungan di Kabupaten Banyumas tergolong tinggi. Dari 36 kasus pemasungan, sebanyak 15 penderita akhirnya sudah dibebaskan setelah dilakukan pendekatan terhadap pihak keluarga,

"Sedangkan sebanyak 21 pesien gangguan kejiwaan lainnya, masih belum dibebaskan dari pemasungan. Pihak keluarga menolak membebaskan karena sudah frustasi sehingga sulit dimotivasi," kata Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Banyumas, Jasun, dalam Pertemuan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) Kabupaten Banyumas dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Internasional ke-27, Kamis, 10 Oktober 2019.

Jasun menambahkan, penderita gangguan kejiwaan tidak dapat terdeteksi secara tepat karena dari keluarga pun banyak yang merasa sudah frustasi. Bahkan, banyak juga yang tidak memasukan anggota keluarga yang mengalami gangguan kejiwaan tersebut dalam identitas keluarga (Kartu Keluarga).

Upaya mengobati

Berkaitan dengan hal tersebut, maka diadakan Pertemuan TPKJM yang diharapkan dapat kembali membangun harapan kepada keluarga, yang anggota keluarganya mengalami gangguan kesehatan jiwa. Diharapkan, keluarga bisa mengobati kembali anggota keluarganya tersebut.

Jasun juga menyampaikan, dari delapan rumah sakit jiwa di Banyumas, belum ada satu pun rumah sakit yang menangani rehabilitasi psikotik.
 
Pemasungan, kata dia, merupakan akhir tragis dari gangguan kejiwaan, selain bunuh diri dan menggelandang. Untuk kasus bunuh diri, ada satu hingga dua kasus per bulan, sedangkan untuk gelandangan tidak bisa dideteksi.

"Sebenarnya gangguan jiwa dapat dicegah secara dini dengan terapi dan kemauan dari keluarga,” tuturnya. 

Stigma masyarakat

Sementara itu, Dokter Spesialis Kejiwaan Taufik Hidayanto mengatakan, saat ini masih terjadi salah kaprah di kalangan masyarakat mengenai orang dengan gangguan kejiwaan. 

“Stigma gangguan jiwa seringkali diartikan sebagai kesurupan jin, tidak bisa diobati, tidak bisa sembuh, aib yang membuat malu keluarga dan juga pengobatannya menyebabkan kecanduan,” katanya. Padahal, tidak demikian. 

Menurutnya, ada dua ciri orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Pertama, mengeluh sendiri atas keadaan dirinya, dan yang kedua, dikeluhkan oleh lingkungannya. 

Gangguan jiwa juga bisa timbul dari usia dini. Hal itu berhubungan dengan penggunaan Napza yang memapari anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.***

Bagikan: