Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

Industri Wig dan Bulu Mata Palsu di Purbalingga Terancam Produk Tiongkok

Eviyanti
null
null

PURBALINGGA, (PR).- Perusahaan bulu mata dan rambut palsu di kabupaten Purbalingga Jawa Tengah kalah bersaing dengan produk asal Tiongkok di pasar internasional. Selain kualitas lebih baik, harga bulu mata asal Cina juga lebih murah. Kondisi tidak kondusif dari dalam negeri serta persaingan ketat, sejumlah Penanam Modal Asing siap siap hengkang dari Purbalingga.

Saat ini terdapat 22 perusahaan PMA dan 11 perusahaan lokal di sektor industri wig dan bulu mata palsu. Sebagian besar PMA berasal dari Korea Selatan yang menyerap sekitar 55.000 tenaga kerja pada industri kerajinan tangan tersebut. Dengan total investasi mencapai antara Rp 300-400 miliar

Keluhan tersebut disampaikan sejumlah investor asing dari Kepada Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, saat kunjungan sejumlah pabrik rambut, Kamis, 10 Oktober 2019. Pemilik PT Indokores Sahabat Hyung Don Kim mengungkapkan, pihaknya hanya butuh ketenangan dan kenyamanan dalam menjalankan usaha. Saat ini perusahaan boleh dikatakan stagnan. “Jika pasaran lesu seperti saat ini, dan kondisi tidak nyaman, kami memprediksi perusahaan hanya bisa bertahan 5-10 tahun,” kata Kim.

Dia menambahkan, kompetitor bulu mata palsu yang bersaing ketat dari Purbalingga yakni dari Tiongkok. Sementara untuk wig masih bagus kualitasnya dari Purbalingga, dan belum mampu tersaingi.

“Dari sisi bahan baku, kami mengandalkan dari India dan Tiongkok. Bahan baku rambut sintetis dari Indonesia kualitasnya kurang bagus, bahkan banyak dicampur bahan lain. Ada juga bahan baku rambut sintetis yang sambungan,” kata  Kim.

Di tempat terpisah, Pemilik PT Hyup Sung Indonesia Song Hyung Keun mengakui, produksi bulu mata palsu di perusahaannya menurun tajam seiring dengan permintaan pasar yang menurun karena bersaing dengan Tiongkok. Biasanya rata-rata produksi per bulan 1,3 juta pasang, namun saat ini menurun hingga 30 persen. “Mau tidak mau, kami harus mengurangi jumlah karyawan dari 1.900 orang menjadi 1.300 orang," katanya.

Dia mengakui jika produktivitas tenaga kerja Purbalingga kalah jauh dengan pekerja di Tiongkok. "Produktivitas mereka tinggi, bahkan cenderung meminta lembur bekerja. Mentalitas pekerjanya sangat bagus sehingga produksinya meningkat tajam," tambahnya.

Dari sisi harga, bulu mata palsu Tiongkok lebih murah. Dari sisi kualitas juga sudah menyerupai produk rambut Purbalingga yang dikerjakan secara manual. "Oleh karenanya, kami mengistilahkan, untuk menyelamatkan perusahaan harus memotong ekornya dulu, daripada badannya ikut termakan. Caranya dengan mengurangi karyawan dan meningkatkan produktivitas pekerja serta inovasi produk,” kata tambah Song.

PT Indokores Sahabat, PT Hyup Sung, dan PT Sun Chang Indonesia, ketiganya merupakan perusahaan PMA dari Korea Selatan. Sementara satu perusahaan yakni pabrik rambut Bintang Mas Triyasa (BMT) merupakan investor PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri). 

Bupati Dyah mengakui, selain perekonomian global khususnya di Eropa dan Amerika yang lesu, persaingan pabrik bulu mata palsu di Tiongkok semakin pesat. "Produksinya lebih banyak, produktivitas tenaga kerjanya juga lebih baik, bahkan bisa 9 kali lebih tinggi dari produktivitas pekerja rambut di Purbalingga. Ini yang mengakibatkan ekspor bulu mata palsu Purbalingga berkurang dan melemah,” jelas Tiwi.

Oleh karena dengan situasi pasar produksi bulu mata palsu yang melemah, pihaknya meminta semua pihak untuk menahan diri khususnya para pekerja. Dia menyadari tindakan  perusahaan mau tidak mau harus mengurangi karyawan agar usahanya tetap berjalan adalah wajar.

Bahkan beberapa perusahaan PMA sudah mulai melirik usaha di luar negeri seperti Kamboja, dengan situasi yang kondusif,  upah serta produktivitas tenaga kerjanya lebih baik. "Kami berharap semua pihak untuk ikut situasi agar lebih baik, dan permintaan kembali pulih. Jika ada permasalahan, diselesaikan dengan baik dan musyawarah sesuai ketentuan regulasi ketenagakerjaan,” katanya.***

 

Area lampiran

Bagikan: