Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 19.1 ° C

Ranitidin Baru Ditarik, BPOM Dinilai Lambat

Ai Rika Rachmawati
ILUSTRASI.*/DOK PR
ILUSTRASI.*/DOK PR

BANDUNG, (PR).- Himpunan Lembaga Konsumen Indonesia Jawa Barat (Jabar), Banten, dan DKI Jakarta, menilai bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) lambat dalam menarik peredaran obat asam lambung ranitidin. Apalagi, Singapura sudah lebih dulu melarang delapan jenis obat yang mengandung ranitidin.

"Dengan baru dihentikannya peredaran obat asam lambung ranitidin membuktikan bahwa negara tidak optimal hadir dalam melindungi konsumen dan mengawasi kesehatan masyarakat," ujarnya, di Bandung, Selasa, 8 Oktober 2019.

Menurut Firman, dalam kasus tersebut, seharusnya pemerintah bertindak segera setelah negara lain menarik peredaran ranitidin. Ia mengatakan, untuk kasus kesehatan, tidak ada alasan "biar lambat asal selamat".

"Ini sungguh mengecewakan konsumen," ujar Firman yang juga menjabat sebagai Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Konsumen Indonesia dan Ketua Asosiasi Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Jabar tersebut.

Ia mengatakan, sesuai sesuai amanat konstitusi, negara wajib hadir untuk melindungi dan menyejahterakan rakyat. Rakyat itulah yang merupakan konsumen berbagai barang maupun jasa

"Konsumen adalah kekuatan besar bagi suatu negara dalam membangun perekonomian. Negara yang tidak hadir dalam melindungi konsumen, ibarat menunggu bom waktu," tutur Firman.

Ia menyatakan, bukan kali ini saja negara tidak hadir dalam melindungi konsumen di Indonesia. Kondisi serupa terjadi pada kasus peredaran vaksin palsu yang baru terungkap setelah 13 tahun beredar.

"Begitu juga pada kasus albothil, mi Samyang, juga visotin DS," tuturnya.

null

Hal serupa, menurut dia, terjadi dalam kasus yang lain. Misalnya, respon pemerintah terkait keluhan konsumen atas kenaikan tarif listrik. Pemerintah sempat melontarkan tanggapan dengan kalimat, "Cabut saja meterannya". 

Selain itu, dikatakan Firman, itu terjadi ketika pemerintah menanggapi keluhan rakyat terhadap harga cabai mahal. Respon yang hadir ketika itu adalah kalimat, “Tanam saja sendiri". Dan, saat rakyat mengeluh harga daging mahal, juga dijawab dengan, "Makan saja bekicot". 

"Lantas, saat datang keluhan harga beras mahal, justru direspon dengan suruhan untuk berdiet," kata Firman.

Ia menilai, hal itu menjadi bukti bahwa negara tidak hadir dalam melindungi konsumen. Seharusnya, pemerintah memberikan perlindungan menyeluruh bagi konsumen.

"Untuk obat-obatan, pemerintah harus melakukan pengawasan yang integral, intensif, dan terus-menerus," tutur Firman.

Satu produk ranitidin ditarik paksa dan empat produk ditarik sukarela

ILUSTRASI obat dari industri farmasi.*/CANVA

Seperti diketahui, Senin, 7 Oktober 2019, BPOM menarik lima produk ranitidin yang terkontaminasi N-Nitrosodimethylamine (NDMA). Satu produk diperintahkan untuk ditarik dan empat produk lainnya ditarik sukarela oleh produsen.

Produk ranitidin yang diperintahkan penarikannya setelah terdeteksi mengandung NDMA adalah Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/mL. Pemegang izin edarnya adalah PT Phapros Tbk. 

Sementara itu, produk ranitidin terdeteksi NDMA yang ditarik sukarela adalah Zantac Cairan Injeksi 25 mg/mL dari PT Glaxo Wellcome Indonesia, Rinadin Sirup 75 mg/5mL dari PT Global Multi Pharmalab, serta Indoran Cairan Injeksi 25 mg/mL dan Ranitidine cairan injeksi 25 mg/ML dari PT Indofarma.

Ranitidin sebetulnya telah mendapatkan persetujuan dari BPOM untuk pengobatan gejala penyakit tukak lambung dan tukak usus sejak 1989. Pemberian izin tersebut didasari oleh kajian evaluasi keamanan, khasiat, dan mutu.

Namun, pada 13 September 2019, BPOM Amerika Serikat (FDA) dan BPOM Eropa (EMA) mengeluarkan peringatan tentang adanya temuan cemaran NDMA dalam kadar rendah pada sampel produk yang mengandung bahan aktif ranitidin. NDMA merupakan turunan zat Nitrosamin yang dapat terbentuk secara alami.

Terkait cemaran NDMA, Health Sciences Authority's (HSA) Singapura sudah lebih dulu menghentikan penjualan delapan merek obat asam lambung ranitidin. Dikutip dari The Straits Times, produk-produk tersebut terdiri dari Aciloc, Apo-Ranitidine, Hyzan, Neoceptin, Vesyca (berlapis film), Xanidine, Zantac (injeksi, sirup, dan tablet) dan Zynol-150.

NDMA disinyalir sebagai sumber karsinogen atau zat penyebab kanker pada manusia. NDMA juga dikenal sebagai pencemar lingkungan yang kerap ditemukan dalam air dan makanan, termasuk daging, produk susu, serta sayuran.***

Bagikan: