Pikiran Rakyat
USD Jual 14.024,00 Beli 14.122,00 | Umumnya berawan, 24.5 ° C

Terjebak Konflik Papua, Warga Kota Serang Minta Dijemput

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI kericuhan yang terjadi di Papua.*/ANTARA
ILUSTRASI kericuhan yang terjadi di Papua.*/ANTARA

SERANG, (PR).- Seorang warga Kota Serang Nur Hasanuddin yang hingga saat ini tertahan di Wamena Papua membutuhkan pertolongan. Arsih  ibunda dari Nur Hasanuddin, tak kuasa menahan tangis setiap harinya mengingat salah satu anaknya yang berada di sana. 

Dia sendiri pun pernah tinggal di Papua selama tujuh tahun bersama suami dan tiga orang anaknya. Tidak hanya itu, ia pun hafal betul dengan kerasnya kehidupan di sana. Arsih merasa khawatir akan keselamatan anak, menantu, dan cucunya yang terjebak dalam konflik rasis.

Arsih menuturkan, saat ini ada sembilan keluarganya yang masih berada di Papua dan ingin segera pulang. Akan tetapi, karena terbentur biaya, mereka pun tidak bisa pulang ke Kota Serang. Ia menyebutkan, ada tiga orang anaknya, tiga menantu, dan tiga orang cucu.

Cucu Arsih yang paling kecil masih berusia enam bulan. “Saya setiap hari nangis. Namanya anak kan di sana. Ketakutan aja gitu ngebayangin kalau enggak bakal ngumpul lagi. Cucu saya yang paling kecil baru umur enam bulan," katanya, saat ditemui di kediamannya, Lingkungan Secang, Kecamatan Serang, Kota Serang, Rabu 2 Oktober 2019.

Ia merasa khawatir, anak, menantu, dan cucunya di Papua menjadi korban kerusuhan. Sebab, berdasarkan cerita dari salah satu anaknya yang bernama Nur Hasanuddin, situasi di sana sudah tidak aman. Setiap saat kerusuhan bisa terjadi dan tidak sedikit nyawa melayang akibat kerusuhan itu. Bahkan daerah yang paling aman pun, seperti markas TNI, tidak bisa steril dari kerusuhan. “Kan ngedengernya serem. Kalau ketemu langsung bunuh-bunuh saja,” katanya.

Terbentur biaya

Arsih juga memperkirakan, saat ini ada ratusan warga Banten di Papua. Mereka tidak hanya berasal dari Kota Serang dan Kabupaten Serang saja. Melainkan ada juga yang berasal dari Pandeglang, serta daerah lainnya. Bahkan ia kenal dengan salah satu keluarga asal Pandeglang yang sudah puluhan tahun tinggal di Papua. Satu keluarga itu pun sangat ingin pulang ke Banten tetapi, lagi-lagi karena terbentur biaya.

Ahmad Nur, suami Arsih pun secara khusus meminta kepada Wali Kota Serang Syafrudin dan Gubernur Banten Wahidin Halim agar memulangkan keluarganya. Dalam situasi yang tidak aman, ia ingin agar keluarganya berkumpul di Serang.

“Kalau bisa pak wali kota dan pak gubernur ngasih pekerjaan atau modal supaya di Serang bisa usaha,” katanya kepada wartawan Kabar Banten, Rizki Putri.

Ia mengatakan, sempat menyaksikan di televisi warga dari provinsi lain yang ada di Papua dijemput untuk dipulangkan ke daerah asal mereka. Pemerintah provinsi bekerja menyelamatkan warga mereka dari bahaya. "Yang saya tahu itu Jawa Timur, Jawa Barat, Makassar, dan Maluku. Mudah-mudahan warga Banten juga segera dijemput,” tuturnya.

Ahmad Nur mengatakan, harga tiket pesawat dari Papua ke Jakarta biasanya lebih mahal dibandingkan sebaliknya. Tiket pesawat yang terakhir kali ia beli sekitar enam bulan lalu mencapai Rp 4,2 juta sekali jalan.

"Nur Hasanudin tinggal sama istrinya, Pindi dan anaknya Adam (2,5 tahun), Suebudin sama istrinya Resi dan anaknya Hani (4 tahunan), serta Aminudin sama istrinya Nesa dan anaknya Arfan (6 bulan)," ucapnya.***

Bagikan: