Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 24.2 ° C

Mengenal Wakil Jabar di DPR, dari Kepala Daerah dan Pesohor Hingga Anggota Keluarga Politisi

Muhammad Irfan
ANGGOTA DPR periode 2019-2024 diambil sumpahnya oleh Ketua Mahkamah Agung M Hatta Ali di Ruang Rapat Paripurna, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 1 Oktober 2019. Sebanyak 575 anggota DPR terpilih dan 136 orang anggota DPD terpilih diambil sumpahnya pada pelantikan tersebut.*/ANTARA
ANGGOTA DPR periode 2019-2024 diambil sumpahnya oleh Ketua Mahkamah Agung M Hatta Ali di Ruang Rapat Paripurna, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 1 Oktober 2019. Sebanyak 575 anggota DPR terpilih dan 136 orang anggota DPD terpilih diambil sumpahnya pada pelantikan tersebut.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Formasi Anggota DPR periode 2019-2024 diisi oleh sejumlah wajah baru. Dari 575 anggota dewan yang lolos, 44 persen di antaranya adalah pendatang anyar.

Akan tetapi, bukan berarti mereka baru di kancah politik. Ada yang sebelumnya menjabat sebagai kepala daerah, punya pertalian keluarga dengan politisi senior, atau dikenal sebagai pesohor.

Di daerah pemilihan Jawa Barat misalnya, dari 91 anggota DPR terpilih, beberapa anggota baru DPR adalah mereka yang naik kelas dari pemimpin daerah. Mereka kini berkiprah di level nasional lewat parlemen.

Nama-nama tersebut di antaranya adalah Cecep Muchtar Soleh yang merupakan Bupati Cianjur dua periode dan kini lolos ke Senayan lewat perahu Partai Nasdem.

Dedi Mulyadi dan paradigma berpikir DPR

Sementara yang cukup jadi sorotan adalah mantan bupati Purwakarta yang juga pernah mencalonkan diri sebagai calon wakil gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Ditemui usai pelantikan di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa 1 Oktober 2019 Dedi Mulyadi menyebut bahwa masuknya dia ke parlemen tentu mengubah kebiasannya dalam mengambil kebijakan dibanding saat masih menjabat sebagai eksekutif.

Jika dahulu dia bisa mengambil gagasan sendiri, di DPR perlu lebih luwes, negosiatif, dan harus bisa meyakinkan para anggota dewan, ketua partai, dan pihak lain mengenai gagasan yang dia tawarkan.

“Tapi dari segi praktis, saya mewakili wilayah yang merupakan bagian dari Jawa Barat, Purwakarta, Karawang, Bekasi. Lihat saja pekan pertama dan pekan kedua, saya bisa turun ke bawah, akan ada perubahan yang saya lakukan,” ucap Dedi Mulyadi.

KETUA DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi.*/ANTHIKA ASMARA/GM

Menurut dia, perubahan di daerah pemilihannya yang akan dia tawarkan, selain tetap dari pintu ke pintu, juga akan berupaya membangun sinergi dengan pimpinan daerah dari tingkat RT agar distribusi keadilan berbasis wilayah bisa terwujud.

Sementara yang bersifat nasional, Dedi Mulyadi punya gagasan tentang Indonesia kini dan ke depan yang sinergi dengan visi pembangunan Presiden Joko Widodo.

“Kepemimpinan Pak Jokowi ini banyak terobosan besar yang dilakukan dan perlu inovasi dari para anggota DPR sehingga sinergitas pemerintah dan DPR berjalan secara efektif bukan hanya yang formal tapi informal dan kultur,” ucap dia.

Konkretnya, Dedi Mulyadi akan banyak mencetuskan produk UU dan berupaya menginisiasi pembangunan paradigma berpikir DPR ke depan agar punya level tertinggi atas kepercayaan masyarakat.

Mengenai Komisi yang dipersiapkan untuknya, Dedi Mulyadi diamanatkan partai untuk berkiprah di Komisi IV yang membawahkan bidang pertanian, kehutanan, kelautan, dan pangan.

Dari kalangan pesohor, ada beberapa nama. Seperti aktor Tommy Kurniawan yang maju dari PKB, Mulan Jameela dari Gerindra, serta Muhammad Farhan yang sebelumnya dikenal sebagai pemandu acara radio dan TV.

ANGGOTA DPR Muhammad Farhan/ANTARA

Stigma keluarga politisi

Selain mantan kepala daerah dan pesohor, ada juga mereka yang berasal dari keluarga para politisi senior yang lebih dulu berkiprah. Dari daerah pemilihan Jawa Barat ada Puteri Komarudin misalnya. Dia merupakan anak perempuan politisi senior Golkar Ade Komarudin.

Ada pula Elly Rachmat Yasin yang merupakan istri mantan bupati Bogor Rachmat Yasin, serta Netty Prasetyani yang merupakan istri mantan gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Tak dimungkiri, status mereka sebagai keluarga politisi senior membuatnya sering mendapat stigma dan dipertanyakan kemampuannya.

Padahal, stigma itu tak sepenuhnya benar. Puteri Komarudin misalnya, pernah beroleh beasiswa Bachelor of Commerce Global Scholarship dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Melbourne, Australia dan menjabat sebagai Pengawas Bank Junior di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Netty Prasetyani dikenal sebagai aktivis kampus dan punya prestasi mengentaskan sejumlah masalah kekerasan perempuan dan anak saat menjabat sebagai Ketua P2TP2A Jawa Barat.***

Bagikan: