Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 24.2 ° C

Narasi Polisi: Situasi di Papua Berangsur Kondusif

Yusuf Wijanarko
WARGA antre menaiki pesawat milik TNI di Bandara Wamena, Jayawijaya, Papua, Sabtu 28 September 2019. Warga Wamena terus memadati bandara untuk meninggalkan Wamena usai kerusuhan Senin 23 September 2019.*/ANTARA
WARGA antre menaiki pesawat milik TNI di Bandara Wamena, Jayawijaya, Papua, Sabtu 28 September 2019. Warga Wamena terus memadati bandara untuk meninggalkan Wamena usai kerusuhan Senin 23 September 2019.*/ANTARA

JAYAPURA, (PR).- Pejabat Polda Papua menegaskan bahwa situasi di Papua berangsur kondusif usai kerusuhan di sejumlah daerah dalam sebulan terakhir.

"Situasi di Papua cukup kondusif, khusunya di Kota Jayapura dan kota-kota lainnya di Papua meski kita ketahui beberapa hari yang lalu terjadi aksi pembakaran di Kabupaten Pegunungan Bintang dan terjadi penembakan di Ilaga, Kabupaten Puncak serta beberapa kasus lainnya," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol. AM Kamal dalam dialog interaktif di Pro I RRI Jayapura, Kota Jayapura, Sabtu 29 September 2019.

Dialog interaktif itu menghadirkan sejumlah narasumber di antaranya Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol. AM Kamal, Staf Ahli Pangdam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf. Afrizal, Wakil Wali Kota Jayapura Rustan Saru, dan Waka Pendam XVII/Cenderawasih Letkol Inf. Dax Sianturi.

RUANGAN Kantor Bupati Jayawijaya yang terbakar saat aksi unjuk rasa di Wamena, Jayawijaya, Papua, Kamis 26 September 2019. Kerusuhan pada Senin 23 September 2019 tersebut mengakibatkan puluhan orang meninggal dan sejumlah bangunan rusak.*/ANTARA

AM Kamal berkata, sejumlah persoalan secara akumulatif dapat terkendali karena Polda Papua dibantu TNI mengetahui para pelaku dan telah diamankan.

"Saat ini sedang dilakukan penyidikan oleh polres setempat, baik Polres Pegunungan Bintang ataupun Polres Puncak, termasuk persoalan yang di Kota Jayapura," tuturnya seperti diberitakan Antara.

Dia mmenjelaskan dijelaskan bahwa kemungkinan ada isu-isu yang tersebar di media sosial yang dapat menimbulkan risiko kekacauan di Jayapura sehingga menimbukan kerugian, baik materi atau nyawa.

Konstruksi pemikiran yang sama

Letkol Inf. Dax Sianturi mengemukakan, penyebab konflik di Papua di antaranya adalah soal pembangunan, diskriminasi, dan penyelesaian sejumlah kasus.

"Kami tentunya sangat mendukung agar pemerintah benar-benar mendengar segala permasalahan ini dan juga menyampaikan di sini, bahwa pada dasarnya masalah tidak akan selesai apabila tidak dibangun dalam satu konstruksi pemikiran yang sama," ucapnya.

KANTOR Bupati Jayawijaya terbakar dalam aksi unjuk rasa di Wamena, Jayawijaya, Senin 23 September 2019.*/ANTARA

Karena dari awal, kata dia, tidak mempunyai satu konsep pemikiran yang sama sehingga hal itu akan selalu bertentangan dan tidak akan menemui titik terang.

"Untuk menjelaskan masalah ini, harus dulu dalam satu konsepsi pemikiran dalam bingkai NKRI. Kita tidak ada hubungannya dengan pernyataan mengatakan bahwa kita gagal meng-Indonesia-kan Papua, tentunya ini harus didukung dengan studi atau kajian yang mendalam," katanya.

"Tidak bisa kita membangun narasi-narasi yang tanpa didukung data dan fakta, apabila kita mengeluarkan pernyataan sekarang ini dan tidak berdasarkan fakta di media sosial berarti kita menyebarkan hoaks," ujarnya.

Sementara itu, Kolonel Inf. Afrizal mengatakan, upaya pencegahan dalam suatu persoalan harus sesuai dengan undang-undang pemerintah yakni melibatkan para pemangku kepentingan seperti tokoh agama, tokoh adat, dan melaksanakan kegiatan pembinaan teritorial terhadap masyarakat sebelum konflik.

"Kami melaksanakan tugas atau membantu kepolisian dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, ada tugas pokok TNI yang selalu melaksanakan karya bakti, komunikasi sosial dan kegiatan teritorial," kata Afrizal.***

Bagikan: