Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Sedikit awan, 20.4 ° C

Penanganan Tumpahan Minyak di Lepas Laut Karawang Terus Dilanjutkan

Satrio Widianto
KONDISI pemukiman warga Desa Cemara Jaya, Kabupaten Karawang, yang tercemar tumpahan minyak mentah akibat bocornya sumur migas  YY-1  Offshore North West Java (ONWJ) milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Selasa, 3 September 2019.*/DODO RIHANTO/PR
KONDISI pemukiman warga Desa Cemara Jaya, Kabupaten Karawang, yang tercemar tumpahan minyak mentah akibat bocornya sumur migas YY-1 Offshore North West Java (ONWJ) milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Selasa, 3 September 2019.*/DODO RIHANTO/PR

JAKARTA, (PR).- Penanganan kebocoran gas dan tumpahan minyak dari anjungan yang dioperasikan PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) terus intensif dilakukan. PHE ONJW memprioritaskan penanganan insiden Sumur YYA  yang berlokasi di Lepas Laut  Karawang. 

Vice President Relations Pertamina Hulu Energi Ifki Sukarya menjelaskan, hingga saat ini, penanganan masih dilakukan untuk tiga aspek, yaitu pengendalian sumur, penanganan di laut, dan penanganan di darat. Ia terus berkordinasi dengan pihak-pihak terkait sehingga proses penanganan saat ini dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang ditentukan. 

Pengamat energi dari Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean mengemukakan, penanganan tumpahan minyak ini sudah sangat baik.

“Penanganan yang sudah berjalan dua bulan ini saya nilai sudah baik dan sesuai standar industri migas di berbagai belahan dunia,” katanya di Jakarta, Jumat, 20 September 2019.

Menurut dia, perkembangan penanganan tumpahan minyak oleh Pertamina patut diacungi jempol, terutama dalam hal kecepatan dan kesigapan BUMN tersebut. Hal itu termasuk memberikan ganti rugi sosial terhadap masyarakat yang terdampak.

Menurut dia, sejak peristiwa terjadi 12 Juli, Pertamina telah melakukan tindakan cepat dengan mengirimkan kapal, oil boom dan lainnya yang diperlukan untuk menangani tumpahan minyak. “Kita mengapresiasi Pertamina yang sampai saat ini mampu menangani tumpahan minyak dengan baik dan sesuai prosedur,” ujar Ferdinand.

Sesuai SOP global

Sementara itu, Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menilai, Pertamina melakukan penanganan insiden tumpahan minyak di Karawang dengan sangat baik. Upaya yang sudah berjalan dua bulan tersebut sudah sesuai dengan standar industri migas di berbagai belahan dunia. “Sudah tepat, sesuai dengan SOP global,” katanya.

Dalam konteks ini, Komaidi menegaskan, memang seharusnya Pertamina melakukan penanganan berlapis seperti saat ini. Dalam hal ini, Pertamina tidak hanya berusaha menutup sumur YYA-1 yang menjadi pusat kebocoran, namun juga membuat barikade agar tumpahan minyak tidak meluas, yang antara lain dilakukan melalui barikade oil boom. 

Selain itu, juga berusaha membersihkan ceceran minyak yang terbawa ombak hingga ke pantai. Termasuk di antaranya, melalui upaya pemberdayaan yang dilakukan kepada nelayan. "Ini kan musibah yang memang tidak terencana. Jadi yang dilakukan Pertamina sudah proaktif, baik aspek teknis maupun aspek demografis dengan menata masyarakat itu sendiri,” lanjutnya. 

Di sisi lain, Komaidi justru tidak sependapat jika saat ini dilakukan investigasi. Karena pada umumnya, yang harus dilakukan adalah menyelesaikan persoalan darurat terlebih dahulu, yaitu menutup kebocoran. Kalaupun terdapat konsekuensi lain, imbuhnya, bisa dilakukan setelah proses-proses yang mendesak selesai dilakukan. 

“Kalau investigasi dilakukan paralel, dikhawatirkan malah tidak optimal. Baik untuk investigasnya sendiri maupun untuk proses penanganan kebocoran yang sekarang sedang dilakukan. Mereka bisa tidak nyaman padahal harus fokus untuk menutup kebocoran. Jadi justru bisa mengganggu proses darurat itu sendiri,” tuturnya. 

Direktur Eksekutif Indonesian Club, Gigih Guntoro mengemukakan, peristiwa tumpahan blok ONWJ merupakan kejadian teknis di kilang offshore yang direspon cepat. Menurut dia, Pertamina mampu mengkonsolidasi tim internal dan melibatkan nelayan untuk bergerak cepat bahu membahu mengevakuasi minyak tersebut.

Gigih mengemukakan, peristiwa tumpahan blok ONWJ merupakan kejadian teknis di anjungan offshore yang direspon cepat oleh Pertamina (sebelumnya kilang). “Pertamina juga memberikan kompensasi terhadap masyarakat terdampak dengan cepat. Disamping itu juga Pertamina melakukan recovery titik kebocoran. Langkah-langkah ini merupakan satu bentuk tanggungjawab corporate secara umum,” kata Gigih.

Yang jelas, lanjut dia, Pertamina ada upaya untuk mengatasi dan mencari jalan keluar agar kebocoran dan dampak meluasnya tumpahan minyak tersebut tidak menyebar ke wilayah lain. “Kita layak mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan Pertamina,” ujar Gigih.***

Bagikan: