Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sedikit awan, 20.7 ° C

Kendaraan Proyek Tol Lewat, Siswa dalam Gedung Sekolah Ketakutan

Tim Pikiran Rakyat
GAMBARAN proyek tol Serang-Panimbang.*/DOK. KABAR BANTEN
GAMBARAN proyek tol Serang-Panimbang.*/DOK. KABAR BANTEN

SERANG,(PR).- Kegiatan belajar mengajar di sekolah terdampak proyek tol Serang – Panimbang yakni SDN Cilayang Guha, SDN Inpres Cikeusal, SDN Seba dan SDN Cipete semakin terganggu. Bahkan akibat relokasi yang berlarut-larut ini beberapa siswa di sekolah terdampak sampai harus belajar di luar ruangan dan ada juga yang memutuskan pindah sekolah.

Seorang Guru SDN Inpres Cikeusal, Agung ‎mengatakan, sejak adanya aktiVitas proyek tol Serang-Panimbang kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolahnya cukup memprihatinkan. Banyak siswa yang pindah sekolah, bahkan banyak yang enggan mendaftar disekolahnya dengan alasan ketakutan. 

"Kalau mengajar seperti biasa yang namanya seorang guru mah harus pintar memenej, tapi kalau dilihat dari sisi orang tua memang sangat memprihatinkan‎, tidak cukup layak. Siswa yang tadinya ada 96 orang, sekarang tersisa 90," ujarnya dalam konferensi pers yang digelar Pattiro Banten di salah satu rumah makan di Kota Serang, Kamis 19 September 2019.

Kemudian, kata Agung, yang juga merupakan wali murid, akibat dekatnya proyek tersebut dengan bangunan sekolah, setiap kali alat berat bekerja anak-anak memilih belajar di luar ruang kelas. Sebab mereka takut bangunan sekolah itu akan ambruk akibat guncangan. 

“Kalau ini dikepung (proyek), jadi ketika alat berat bekerja siswa takut. Secara psikologis dan mereka bilang ke orang tuanya. Itu sudah sejak proyek dimulai,” katanya.

Terhambat

Selain itu, kata dia dampak yang dirasakan oleh pihaknya yaitu terhambatnya program kerja sekolah. Dimana sebelumnya sempat ada penilaian akreditasi, yang instrumennya penilaiannya menyangkut sarana dan prasarana. "Jadi dengan sarpras seperti itu, ya‎ (terganggu)," ucapnya.

Oleh karena itu dirinya berharap agar sekolahnya segera direlokasi. Karena jarak sekolahnya dengan proyek Tol - Serang Panimbang kurang dari satu meter. "Sekolah itu bakal jadi area tolnya juga, kena, untuk taman mungkin yah," tuturnya.

Komite SDN Seba Hilman mengeluhkan hal serupa. Untuk Seba, orang tua siswa sudah banyak yang khawatir karena sudah dipasang pancang. Sehingga suara getaran dari proyek itu sangat mengganggu. “Kondisi sekolah sudah retak, dulu sebelum proyek juga retak apalagi sekarang tambah (retak). Akhirnya otomatis terganggu,” ujarnya.

ILUSTRASI gedung SD.*/DOK. KABAR BANTEN

Ada empat

Sementara, Koordinator Sekolah Aman Pusat Telaah dan Informasi Regional (Pattiro) Banten‎, Amin Rohani mengatakan, sekolah yang terdampak Tol Serang - Panimbang di wilayah Kabupaten Serang semuanya ada empat. Tiga sekolah di Kecamatan Cikeusal, yaitu SDN Seba, SDN Inpres Cikeusal dan SDN Cilayangguha. Kemudian satu sekolah di Kecamatan Kragilan yaitu SDN Cipete.

Selama ini, kata dia, pihaknya sudah beruangkali melakukan pendampingan dan berdialog dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Serang dan pihak dari jalan tol. Pihaknya mengaku sudah menyampaikan bahwa sekolah tersebut harus segera direlokasi karena kegiatan belajar mengajar sudah mulai terganggu. ‎"Kegiatan belajar anak-anak terancam karena ada getaran yang luar biasa. Kadang - kadang anak sekolah belajar diluar gedung karena ketakutan. Kemudian sumber mata air di MCK mengalami kekeringan, sehinga sekolah setiap hari harus membawa air di aqua untuk kebutuhan MCK," ucapnya.

Ia menuturkan, dari hasil audiensi yang dilaksanakan sekitar  bulan Juni dengan  PPK tol Serang-Panimbang yang bertanggung jawab terkait pembebasan lahan, mereka menyampaikan bahwa target relokasi akan selesai diakhir tahun 2019. Tapi sampai saat ini tahapannya baru kepada mengukur lahan dan gedung sekolah yang akan digusur. Sementara pembangunan tol dimulai Februari tahun 2017 dan ditarget selesai November 2019. 

"Jadi menurut kita ini sangat lambat sekali, maka kita mendorong dan menuntut kepada badan usaha jalan tol Serang-Panimbang dan Pemkab Serang untuk mendorong agar segera direlokasinya ke empat sekolah ini. Jika tuntutan ini tidak segera dilaksanakan bukan tidak mungkin masyarakat. Akan melakukan demonstrasi," katanya kepada wartawan Kabar Banten, Dindin Hasanudin.***

Bagikan: