Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Langit umumnya cerah, 18.4 ° C

WW8 AIDS 2019 dengan Tuan Rumah Indonesia Dibuka

Gita Pratiwi
PERMAINAN angklung dari Plenary Speakers, dan Steering Commitee, juga Staf Ahli Kemenkes M Subuh yang menabuh gong menandai dibukanya 8th World Workshop of Oral Health and Disease in AIDS, di Seminyak, Bali, Jumat, 13 September 2019.*/GITA PRATIWI /PR
PERMAINAN angklung dari Plenary Speakers, dan Steering Commitee, juga Staf Ahli Kemenkes M Subuh yang menabuh gong menandai dibukanya 8th World Workshop of Oral Health and Disease in AIDS, di Seminyak, Bali, Jumat, 13 September 2019.*/GITA PRATIWI /PR

DENPASAR, (PR). - Lokakarya Dunia Kesehatan Mulut dalam HIV AIDS ke-8, di Seminyak, Bali, resmi dibuka, Jumat, 13 September 2019. World Workshop Oral Health and Disease and HIV AIDS atau WW8 AIDS, mengangkat tema "Improving Health and Wellbeing".

Acara dibuka Jumat pagi dengan diawali pembacaan sambutan Menteri Kesehatan yang diwakili Staf Ahli Kementerian Kesehatan, M. Subuh. Setelahnya, Subuh memukul gong didampingi para speakers dari berbagai negara, yang memainkan angklung.

John Greenspan, penggagas Lokakarya tersebut, mengisi Plenary Session 1 melalui rekaman video, selain juga dipaparkan kembali oleh Stephen J Challacombe dari King's College London, UK. "Pelaksanaan workshop yang digagas 1988 telah memberikan dampak bagi perkembangan keilmuan kesehatan mulut dan HIV AIDS. Di antaranya dampak WW6 dan Deklarasi Beijing pada tahun 2013, Departemen Kesehatan Inggris mengumumkan bahwa, dengan peringatan khusus dan yang dapat dilakukan, dokter gigi dan petugas kesehatan lainnya dengan HIV dapat kembali ke praktik klinis termasuk prosedur invasif," kata pengajar di University of California San Francisco USA ini.

Greenspan mengatakan, Departemen Kesehatan mengakui bagian penting yang dimainkan oleh WW6 dalam mengambil keputusan yang berlaku baik untuk kedokteran gigi maupun kedokteran pada umumnya. Kepala Kantor Gigi Inggris menyatakan bahwa berdasarkan Deklarasi Beijing telah memberikan dorongan untuk analisis ulang praktik saat ini.

Sementara itu Deklarasi Phuket 2004 melahirkan komitmen untuk bertindak dalam penelitian dan pengelolaan HIV dan kesehatan mulut. Kesehatan Oral ditetapkan sebagai hak asasi manusia di seluruh dunia. Deklarasi Hyderabad 2014 lahir kepedulian untuk orang dengan HIV AIDS (ODHA) untuk memperoleh akses secara universal dan mudah, bebas stigma, dan diksriminasi. Institut Nasional Penelitian Gigi dan Craniofacia (NIDCR) juga mengadopsi hasil riset yang mengemuka di workshop.

"Agenda Penelitian Global NIDCR mengadopsi banyak agenda penelitian dari WW5, WW6, WW7 sebagai tempat. NIDCR membuat program penelitian AIDS dan oral secara khusus (OHARA) untuk bekerja secara sinergis dengan penelitian AIDS yang sedang berlangsung. Definisi yang disepakati mengenai manifestasi oral HIV menjadi sebuah prasyarat studi epidemiologi global, " kata Greenspan.

Plenary speakers lainnya Melissa Riddle dari NIDCR dalam sesi satu juga memaparkan penelitian terkini mengenai kesehatan mulut dalam HIV AIDS. Pandu Riono dari Universitas Indonesia memaparkan Dampak Sosial dan Ekonomi dari HIV di Indonesia dan Sekitarnya.

Agenda Lokakarya berlangsung tiga hari hingga 15 September 2019, dibagi ke sejumlah sesi seperti Education Sessions oleh pengampu dari London, Thailand. Terselenggara juga workshop yang mengupas stigma, tes HIV, HPV dan kanker mulut, inovasi penanganan candidiasis, dan working group penanganan pasien dan pelayanan publik HIV AIDS. Sebanyak 620 peserta terdiri dari terdiri dari dokter gigi, mahasiswa, penelitian, yang datang dari India, Meksiko, Russia, Inggris, dan lain-lain.***

Bagikan: