Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Langit umumnya cerah, 16.3 ° C

Kritis, Kabut Asap Kian Pekat di Riau dan Sumatra Barat

Yusuf Wijanarko
JEMBATAN Siak III terlihat samar-samar karena kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti Riau Kamis 12 September 2019.*/ANTARA
JEMBATAN Siak III terlihat samar-samar karena kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti Riau Kamis 12 September 2019.*/ANTARA

PEKANBARU, (PR).- Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau semakin pekat dan membuat jarak pandang di sejumlah daerah turun drastis menjadi hanya sekira 200-400 meter pada Jumat 13 September 2019 pagi.

“Jarak pandang paling buruk pada pagi ini di Kabupaten Pelalawan, hanya 200 meter,” kata Staf Analisis BMKG Stasiun Pekanbaru, Bibin Sulianto kepada Antara.

Dia menjelaskan, jarak pandang anjlok pukul 7.00. Di Pekanbaru, jarak pandang hanya 300 meter. Begitu juga di Rengat Kabupaten Indragiri Hulu yang sekira 300 meter. Di Dumai, jarak pandang sekira 400 meter.

Bibin menjelaskan, berselang dua jam atau pukul 9.00 WIB, jarak pandang di Pekanbaru naik jadi 800 meter dan di Pelalawan mulai membaik tapi masih di angka 300 meter.

Sementara di Dumai dan Rengat, jarak pandang belum membaik, masih sekira 400 dan 300 meter.

KABUT asap kebakaran hutan dan lahan di Riau, Kamis 12 September 2019.*/ANTARA

Ia mengatakan, pekatnya kabut asap karhutla masih ada di Riau dan provinsi tetangga. Kondisi angin yang berembus dari tenggara hingga selatan membawa polutan jerebu ke Riau. Jerebu menumpuk di Riau karena embusan angin cenderung lambat.

“Kecepatan angin di Riau tergolong lambat, hanya 5 knot atau 10 kilometer per jam,” katanya.

Berdasarkan data BMKG Stasiun Pekanbaru, pada Jumat pagi pukul 6.00, terpantau ada 1.319 titik panas yang jadi indikasi karhutla di Sumatra.

Titik panas paling banyak terdapat di Sumatra Selatan yakni 537 titik, Jambi 440 titik, dan Riau 239 titik.

Khusus di Riau, titik panas paling banyak terdapat di Kabupaten Indragiri Hilir yaitu 127 titik, Indragiri Hulu 31 titik, Pelalawan 30 titik, Rokan Hilir 18 titik, Kuansing dan Kampar masing-masing 11 titik, Bengkalis 7 titik, Siak 3 titik, dan Dumai 1 titik.

Dari jumlah tersebut, ada 177 yang dipastikan titik api. Lokasi paling banyak terdapat di Indragiri Hilir dengan 98 titik. Kemudian di Indragiri Hulu sebanyak 20 titik, Pelalawan 21 titik, Rokan Hilir 13 titik, Kuansing 9 titik, Kampar 8 titik, Bengkalis 6 titik, dan Siak 2 titik.

Sumatra Barat

BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang melaporkan, kualitas udara di wilayah Sumatra Barat menurun selama Kamis malam 12 September 2019 hingga Jumat 13 September 2019 pukul 10.00.

"Kualitas udara lebih buruk pada malam hari, lalu dini hari hingga pukul 10.00," kata Kepala BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang Wan Dayantolis.

"Dalam kondisi berkabut seperti saat ini, jika hendak beraktivitas di luar ruangan, sebaiknya siang hari. Namun, tetap perlu dibatasi terutama bagi kelompok rentan seperti orangtua dan anak," kata dia.

Selama kurun itu, polusi cenderung lebih pekat karena atmosfer dalam keadaan stabil sehingga polutan terperangkap di permukaan. Polutan baru bergerak saat ada pergerakan angin pada siang hari.

BMKG memperkirakan kabut asap masih akan meliputi Sumatra Barat hingga tiga hari ke depan karena peluang hujan kecil dalam rentang waktu tersebut.***

Bagikan: