Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sebagian berawan, 20.8 ° C

Izin Rumah Makan, Operasinya Hiburan Malam

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI penutupan tempat hiburan malam.*/DOK. PR
ILUSTRASI penutupan tempat hiburan malam.*/DOK. PR

SERANG, (PR).- Gerakan Pengawal Serang Madani (GPSM) yang terdiri dari para ulama di Kota Serang menyebut Pemerintah Kota (Pemkot) Serang hanya sebatas formalitas dalam melakulan razia-razia tempat hiburan malam. 

Ketua GPSM Kota Serang Ustad Enting Abdul Karim mengatakan, razia yang sering dilakukan tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah maraknya hiburan malam di Kota Serang. Jika serius, seharusnya Pemkot berani mencabut izin tempat yang digunakan sebagai hiburan malam. 

"Kalau saya boleh mengatakan hanya sebatas formalitas saja, kerja itu harus kerja tuntas jangan formalitas. Cabut dari perizinannya, akarnya kan perizinannya masih rumah makan," kata Enting usai melakukan audiensi dengan Pemkot Serang di Aula Setda Kota Serang, Kamis 12 September 2019.

Ia mengatakan, Peraturan Daerah (Perda) tentang Penyelenggaraan Usaha Kepariwisataan (PUK) hingga saat ini masih belum selesai. Tetapi, hiburan malam semakin marak di Kota Serang. "Bisa juga ada main mata di situ terkait perizinannya, kongkalingkong," ucap dia. 

Dia menuturkan bahwa GPSM sama sekali tidak menolak Raperda PUK untuk disahkan, asalkan pasal-pasal karet yang berpotensi kembali memunculkan usaha berbau kemaksiatan dihapuskan. Pasal-pasal itu di antaranya terdapat pada pasal 64 dan pasal 21 yang menyatakan membolehkan adanya usaha panti pijat. 

"Masih diperkenankannya panti pijat, anehnya lagi panti pijat hanya diatur jam dari jam 8 pagi sampai jam 12 malam. Ini berpotensi ada celah yang digunakan untuk maksiat," tuturnya. 

Seharusnya, ujar dia, dalam perda tentang kepariwisataan itu didalamnya berisi tentang wisata-wisaya religi yang banyak terdapat di Kota Serang. Sehingga, tagline Kota Serang Madani bisa terwujud. "Iman dan takwa yang menjadi tagline Banten kemudian ditafsirkan di Kota Serang sebagai madani itu sangat sesuai," ujarnya. 

Bahas raperda

Wakil Wali Kota Serang Subadri Usuludin mengatakan, sangat mengapresiasi upaya para ulama yang selalu mengingatkan Pemkot Serang terkait makin maraknya hiburan malam di Kota Serang. "Intinya pertama kami ucapkan apresiasi setinggi-tingginya terkait selalu diingatkannya pemkot serang. Mudah-mudahan kebersamaan ini terus menerus dibina," katanya. 

Selanjutnya, Pemkot akan membahas kembali raperda PUK pasal perpasal yang saat ini sudah dalam tahap fasilitasi di Pemperintah Provinsi Banten. Kemudian, setiap malam sebanyak 30 personil Satpol PP disiagakan untuk melakukan penertiban penyakit masyarakat (pekat). Meskipun hal itu masih dianggap belum maksimal dalam memberantas pekat. 

"Sekalipun belum maksimal, karena yang diurus manusia, ditambah sekarang marak dongdot yang pakai jilbab, dongdot syar'i. Sehingga Pol PP kita masih semu," ujar dia. 

Diketahui sebelumnya, pada Rabu (11/9/2019) malam Satpol PP Kota Serang melakukan razia pekat di beberapa tempat hiburan malam Kota Serang. Pada razia itu, Satpol PP berhasil mengamankan Tiga pasangan yang bukan suami istri di kamar Hotel, dua pelajar yang masih duduk di bangku sekolah dan menyita lima dus berisi 68 minuman keras (miras).

"Alhamdulillah kita telah mengamankan 5 dus miras sebanyak 68 botol. Kita juga mengamankan 3 pasangan yang bukan suami istri di Hotel. Kemudian terdapat 2 wanita terjaring razia yang masih duduk di bangku sekolah," katanya kepada wartawan Kabar Banten, Masykur Ridho.***

Bagikan: