Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya berawan, 20.5 ° C

Warga dan TNI Kembali Bentrok di Kawasan Urut Sewu

Eviyanti
WARGA mendapat perawatan setelah terlibat bentrok dengan TNI.*/EVIYANTI/PR
WARGA mendapat perawatan setelah terlibat bentrok dengan TNI.*/EVIYANTI/PR

KEBUMEN, (PR).- Sebanyak 16 orang warga luka-luka satu orang di antaranya terkena peluru karet di bagian bokongnya, setelah  terjadi bentrokan antara warga dengan  TNI di kawasan Urut Sewu Desa Brencong Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten  Kebumen Jawa Tengah, Rabu 11 September 2019.

Sebagian besar korban  terluka  pada bagian kepala dan badan setelah  terkena pukulan TNI yang berjaga   selama proses  pemagaran lahan di kawasan konflik Urut Sewu. Warga yang terkena pukulan dan tembakan di bagian bokong dibawa ke Puskesmas Bulupensantren.

"Bentrokan yang terjadi terkait dengan penolakan warga atas pemagaran oleh TNI di kawasan Urut Sewu," kata Kuasa Hukum Warga Urut Sewu, Teguh Purnomo.

Sekitar pukul 08.00 masyarakat petani urut sewu mendatangi lokasi  pemagaran di Desa Brecong Kecamatan Buluspesantren. Namun kedatangan warga  dihadang  satu pasukan tentara yang sudah dilengkapi dengan atribut huru-hara yang menjaga proses pemagaran. "Tentara kemudian menghalau  warga supaya bubar. Bentrok antara TNI dan warga menyebabkan 16 orang warga terluka, " tambahnya.

Usai bentrok warga pergi  menuju kantor bupati untuk melaporkan kejadian tersebut. "Di hadapan warga, Bupati  Kebumen Yazid Mahfud berjanji akan  menghentikan pemagaran yang ada di Urut Sewu khususnya Desa Brecong," jelas Teguh.

Setelah dari kantor bupati warga masih berkumpul di pendopo kantor Kecamatan Buluspesantren, sedang korban yang luka dilakukan visum di Puskesmas Buluspesantren.

Sikap represif

Sebagai kuasa hukum warga Urut Sewu, Teguh  menyayangkan sikap represif TNI dalam mengatasi masalah. Oleh karena pihaknya akan menempuh jalur hukum. "Oknum TNI yang main hakim sendiri dengan memukuli warga yang menyebabkan 16 orang terluka, oknum tersebut  harus diproses secara pidana," jelasnya.

Bentrok terjadi karena  konflik tanah yang diabaikan penyelesaiannya oleh pemerintah. "Harusnya TNI tidak  main hakim sendiri memagar tanah rakyat dan melakukan kekerasan seperti itu. Kami berharap kejadian tahun 2011 lalu tidak terulang lagi dimana rakyat dikriminalkan oleh TNI sehingga ada beberapa yang masuk penjara," tambahnya.

Konflik saling klaim atas tanah Urut Sewu selatan Kebumen sudah berlangsung lama.  TNI menyebut jika kawasan Urut Sewu sebagai kawasan latihan menembak, sementara warga mengklaim sebagai tanah garapan. Kedua kelomppk yang berselisih juga mengklaim memiliki bukti kuat kepemilikan lahan kawasan tersebut.

Kawasan konflik berada antara  Kecamatan Klirong hingga Kecamatan Mirit selatan Kebumen memiliki lebar 500 meter dari garis pantai selatan Kebumen.

Proses pemagaran sudah berlangsung lama dan hampir selesai. Yang tersisa saat ini sedang proses pemagaran yakni di  Desa  Brencong dan   Sentrojenang sepanjang 5 kilometer.  "Dua desa tersebut paling akhir karena penolakan dari petani setempat cukup keras. Pada 2011 juga terjadi bentrok antara TNI dan warga," kata Teguh.***

Bagikan: