Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya berawan, 20.2 ° C

BJ Habibie dan Mimpi Indonesia Membangun Jembatan Selatan Sunda Tahun 2023

Tim Pikiran Rakyat
BJ Habibie melambaikan tangan saat akan menghadiri Sidang Tahunan MPR Tahun 2015 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, 14 Agustus 2015.*/ANTARA
BJ Habibie melambaikan tangan saat akan menghadiri Sidang Tahunan MPR Tahun 2015 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, 14 Agustus 2015.*/ANTARA

MUNGKINKAH Golden Gate, Seikan Tunnel, atau Eurotunnel, yang kini telah menjadi ikon yang merepresentasikan keunggulan teknologi negara-negara maju bisa berwujud di Indonesia? Saat Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dijabat BJ Habibie, pembangunan Jembatan Selat Sunda menjadi topik penting.

Kemudian, Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPPM-ITB), tahun 2003, bersama Depkimpraswil, Dephub, serta Bappenas pernah membicarakan pembangunan Infrastuktur Lintas Selat Sunda (ILSS) secara intens.

"Jangan dipandang utopis. Memang projek ini tidak untuk dilaksanakan dalam waktu dekat. Kalau toh semuanya lancar, perhitungan paling dekat mungkin projek ini baru terlaksana 20 tahun mendatang. Akan tetapi, apa pun kondisinya, impian dan cita-cita untuk mengembangkan infrastruktur berteknologi tinggi jangan pernah terhapus," ujar ketua panitia semiloka Prof. Dr. Hang Tuah Salim saat memaparkan hasil semiloka di Gedung Rektorat ITB, Kota Bandung, 18 Maret 2003 silam.

Dengan kata lain, mimpi untuk bisa membangun infrastruktur darat penghubung Sumatera dan Jawa di Selat Sunda setidaknya baru bisa terwujud pada 2023 mendatang.

Kini, 4 tahun menjelang masa itu datang, BJ Habibie, sosok yang pernah begitu intens mewadahi wacana pembangunan itu telah berpulang. BJ Habibie meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta pada 11 September 2019. BJ Habibie wafat pada usia 83 tahun pukul 18.05.

Pengibaran bendera setengah tiang terkait masa berkabung nasional dilakukan selama tiga hari hingga 14 September 2019.

Jenazah BJ Habibie akan disemayamkan di samping makam mendiang istrinya, Ainun Habibie, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Raga Baapak Riset dan Teknologi itu boleh sirna, tetapi mimpi BJ Habibie tersebut terjaga dengan apik.

PETI jenazah presiden ke-3 Indonesia BJ Habibie digotong menuju ambulans di Rumah Jenazah Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu 11 September 2019. BJ Habibie meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSPAD.*/ANTARA

Hang Tuah menyampaikan perbandingan, projek Seikan Tunnel yang menghubungkan Selat Tsugaru di Jepang sepanjang 53,85 km, proses perwujudannya membutuhkan waktu setidaknya 41 tahun.

"Studi awal berlangsung pada 1946 dan hasil akhir proses itu baru terjadi pada 1987. Demikian juga dengan pembangunan ILSS yang kami paparkan sekarang ini baru sebatas studi awal," ujarnya.

Kepadatan di pelabuhan

Hang Tuah boleh jadi benar. Termasuk soal manfaat yang akan muncul seiring pembangunan infrastruktur di Selat Sunda. Kenyataannya menunjukkan bahwa antrean panjang kerap terjadi pada jalur penyeberangan feri yang melintasi Selat Sunda.

Mekanisme tutup botol telah menjadi hal yang biasa manakala mendekati hari-hari besar tertentu misalnya menjelang Lebaran atau Natal.

FOTO udara kendaraan pemudik tujuan Sumatrra antre memasuki kapal Roro di Dermaga Eksekutif Sosoro Pelabuhan Merak, Banten, Minggu, 2 Juni 2019. Terhitung sejak H-7 hingga H-4 pukul 08.00 jumlah penumpang yang menyeberang dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakauheni Lampung sebanyak 400.309 orang.*/ANTARA

Truk-truk pengangkut barang dan kendaraan pengangkut penumpang terpaksa antre berhari-hari menanti giliran diseberangkan di Pelabuhan Bakauheuni atau sebaliknya di Merak. Padahal, jarak yang ditempuh hanya 25 km dan waktu penyeberangan sekira 2,5 jam.

"Jalur ini memang cukup padat. Adanya jalur tetap (fixed link) sudah menjadi keharusan pada masa mendatang. Sebagai lembaga pendidikan yang juga harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat, LPPM ITB turut bertanggung jawab dalam pembahasan alternatif pembangunan apa yang dipilih," ujar Hang Tuah.

Hanya, menyimak penuturan para pembicara lain yang hadir pada pada acara 15 tahun lalu itu, senyatanya kita mungkin bisa melangkah lebih jauh ketimbang terus menyatakan bahwa perencanaan pembangunan baru sebatas studi awal.

Dituturkan bahwa secara historis, ide pembangunan jembatan Selat Sunda pertama kali diungkapkan pada 1960 oleh Prof. Soedyatmo.

Lama tak terdengar, selain juga karena perubahan konstelasi politik, baru pada 1986 ide itu ditindaklanjuti oleh seminar dan studi awal yang intensif oleh BPPT dan Departemen Pekerjaan Umum.

Saat Menristek dijabat BJ Habibie, wacana soal pembangunan infrastruktur memang semakin kencang. Bahkan, opsi sudah dipilih bahwa infrakstruktur tersebut akan berupa jembatan.

Pada 1990-an, saat BJ Habibie menjabat sebagai Menristek, satu perusahaan swasta tertarik mewujudkan projek itu. Namun, rencananya tak berlanjut karena krisis ekonomi yang melanda Indonesia. (Erwin Kustiman, Yusuf Wijanarko)***

Bagikan: