Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 21.2 ° C

Kompetisi Terbuka Calon Ketum di Partai Golkar Sudah Biasa

Muhammad Irfan
WARGA berjalan melintasi kantor Dewan Pimpinan Daerah Partai Golongan Karya Kabupaten Bekasi, Selasa, 2 Juli 2019.*/TOMMI ANDRYANDY/PR
WARGA berjalan melintasi kantor Dewan Pimpinan Daerah Partai Golongan Karya Kabupaten Bekasi, Selasa, 2 Juli 2019.*/TOMMI ANDRYANDY/PR

JAKARTA, (PR).- Suksesi kepemimpinan di Partai Golkar kembali menjadi perhatian. Airlangga Hartanto, sosok ketua saat ini, berkompetisi dengan Bambang Soesatyo untuk merengkuh Kursi Golkar I pada Musyawarah Nasional nanti. Namun, suasana panas ini bukan kali ini saja terjadi.

Pengamat politik dari Saiful Mujani Research and Consulting, Sirojudin Abbas, mengatakan, kompetisi terbuka di Golkar selalu terasa sejak reformasi dimulai. Sejarah merekam perebutan kepimpinan antara Akbar Tanjung dan Edi Sudrajat, Jusuf Kalla dengan Wiranto, Surya Paloh dengan Abu Rizal Bakrie, hingga dualisme yang muncul saat Abu Rizal Bakrie menghadapi Agung Laksono.

Tak dipungkiri, kompetisi terbuka ini kerap menimbulkan perpecahan. Beberapa partai bahkan telah lahir karena imbas dari pertentangan kepemimpinan ini, seperti PKP, Hanura, dan NasDem. Meski demikian, Abbas menilai kalau kecenderungan ini bukan sesuatu yang negatif.

“Di Golkar, itu terjadi karena banyak kader yang punya kekuatan politik atau ekonomi yang bagus. Dengan begitu, tak ada kader yang terlalu menonjol dan luar biasa,” kata Abbas kepada “PR”, Senin, 9 September 2019.

Abbas menuturkan, distribusi kekuasaan di tubuh partai beringin itu relatif baik. Kompetisi pun dinilai penting dan bagus untuk proses demokratisasi di partai. Bahkan, bukan tidak mungkin, dengan kultur ini Golkar punya peluang untuk lebih progresif.

“Ini menunjukkan Golkar sebagai partai yang dinamis dan terbuka. Sekaligus menjadi contoh untuk partai lain agar tidak terjebak pada satu figur saja. Dengan begitu, yang kuat institusinya, bukan tokohnya,” ucap dia.

Kompetisi internal Partai Golkar tidak berpengaruh pada elektabilitas dan popularitas

Kejadian berulang ini pun disebut Abbas tak memengaruhi elektabilitas dan popularitas Golkar. Terbukti, meski diwarnai dualisme dan ketuanya Setya Novanto dipenjara karena korupsi, Golkar tetap bisa lolos parlemen pada Pemilu 2019 dengan hasil yang cukup bagus.

“Ini membuktikan kalau kompetisi ini tidak berimplikasi negatif pada pemilih. Secara lembaga, Golkar terlihat mapan,” ucap dia.

Dalam beberapa pekan terakhir, situasi internal Partai Golkar memang kembali memanas. Dua tokoh yang sama-sama telah mendeklarasikan diri maju menjadi calon ketua umum Golkar periode 2019-2024, Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo, mulai melakukan sejumlah manuver politik.

Sejumlah langkah mereka tempuh dalam rangka mencari dukungan kader. Mulai dari kader di Dewan Perwakilan Daerah (DPD) tingkat provinsi dan kabupaten/kota, serta di organisasi sayap yang merupakan pemegang hak suara dalam pemilihan ketua umum.

Airlangga bermanuver dengan membawa 34 DPD Golkar tingkat provinsi sowan ke Presiden Joko Widodo pada Juli 2019 lalu. Menteri Perindustrian itu pun mengklaim telah mengantongi 92 persen suara pada pemilihan ketua umum Golkar mendatang.

Airlangga sejauh ini telah mendapatkan dukungan dari sejumlah organisasi sayap Partai Golkar antara lain Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) yang diketuai oleh Roem Kono dan Kesatuan Organisasi Serba Guna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 yang diketuai oleh Agung Laksono. Dia juga telah mendapatkan dukungan dari anggota DPD Golkar Jawa Barat.

Sementara, Bambang Soesatyo juga mengklaim telah mendapatkan banyak dukungan dari pengurus Golkar di daerah, mulai tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Loyalis Bamsoet, Yorrys Raweyai, mengatakan, Bambang telah mendapatkan dukungan dari 400 kader Golkar pada Juli 2019 lalu. Dari sisi organisasi sayap, ia sudah mengantongi dukungan dari Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) yang diketuai oleh Bobby Suhardiman.***

Bagikan: