Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Cerah berawan, 20 ° C

134 Kepala Desa Terbang ke Pulau Dewata

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI studi  banding.*/ANTARA
ILUSTRASI studi banding.*/ANTARA

PANDEGLANG, (PR).- Sebanyak 134 Kepala Desa (Kades) di Kabupaten Pandeglang telah terbang ke Pulau Dewata Bali dengan dalih melangsungkan studi banding dan Bimbingan Teknis (Bimtek).

Rencananya ratusan Kades itu, selama empat hari bakal mempelajari keberhasilan Desa Kutuh di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali dalam mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Berdasarkan agenda, kegiatan yang dikoordinir oleh Lembaga Pengembangan Potensi Desa dan Kemandirian Desa (LPPKD) itu akan berlangsung selama tiga hari sejak tanggal 2 hingga 5 September 2019 yang dipusatkan di Fashion Hotel Legian dan The One Legian.

Sekretaris Asosiasi Perangkat Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kabupaten Pandeglang, Dedi Rivaldi menuturkan, keberangkatan Bimtek di Bali sudah dimasukkan ke APBDes masing-masing desa tahun 2019. 

"Anggarannya Rp 10 juta/desa dan sudah teranggarkan dalam APBDes. Rata-rata diambil dari Dana Desa tahap 2," kata Dedi saat dihubungi melalui telefon selurernya, Selasa 3 September 2019.

Dedi menjelaskan, alasan memilih desa di Pulau Bali, karena para Kades menilai, Desa Kutuh dianggap sudah maju lantaran mampu menghasilkan pendapatan hingga miliaran rupiah. 

"Ini untuk studi banding dan Bimtek ke Desa Kutuh di Bali. Kami ingin belajar ke desa yang sudah maju," ujarnya. 

Namun demikian, Dedi mengaku agenda tersebut hanya diikuti oleh 134 Kades dari total 326 desa yang ada di Pandeglang. Dia memastikan, tidak ada sanksi bagi desa yang tidak ikut berpartisipasi. 

"Kades yang tidak ikut tidak apa-apa. Karena sifatnya tidak memaksa. Tidak ada sanksi juga," katanya kepada wartawan Kabar Banten, Ade Taufik. 

Sementara, Bupati Pandeglang, Irna Narulita mendukung study banding ratusan Kades tersebut. Terlebih mereka juga sudah lebih dulu izin untuk dimasukkan ke APBDes. 

"Yang terpenting DD yang mereka gunakan bisa dipertanggungjawabkan," kata Irna.

Hanya saja Irna menuntut supaya agenda itu tidak cuma berorientasi menghasilkan anggaran, namun harus memiliki output yang inovatif. Irna menilai, kegiatan itu harus menambah wawasan bagi Kades untuk melakukan inovasi bagi wilayahnya. 

"Jadi Kades-kades kita juga harus jadi enterprenuer hebat. Kalau wawasannya enggak luas, ya Allah kasian banget," katanya.***

Bagikan: