Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sebagian berawan, 20.5 ° C

Ridwan Kamil Beri Jokowi Masukan Soal Pemindahan Ibu Kota, Singgung Brasil dan Pedestrian

Muhammad Ashari
GUBERNUR Jawa Barat Ridwan Kamil menjawab pertanyaan wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu 28 Agustus 2019 terkait wacana pemindahan ibu kota negara.*/MUHAMMAD ASHARI/PR
GUBERNUR Jawa Barat Ridwan Kamil menjawab pertanyaan wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu 28 Agustus 2019 terkait wacana pemindahan ibu kota negara.*/MUHAMMAD ASHARI/PR

JAKARTA, (PR).- Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu 28 Agustus 2019. Menurut Ridwan Kamil, pertemuan itu pada dasarnya membahas kemajuan program-program pembangunan yang tengah berjalan di Jabar.

Dia menyampaikan juga secara langsung masukannya mengenai rencana pemindahan ibu kota.

Terkait rencana pemindahan ibu kota, Ridwan Kamil menyampaikan kembali kritiknya kepada Jokowi mengenai luas ibu kota yang terlalu besar dibandingkan jumlah penduduknya. Ridwan Kamil mengatakan, masukan itu disampaikan karena dia berkepentingan menyukseskan rencana perpindahan.

MONUMEN Nasional/ANTARA

Mengenai respons Jokowi terhadap masukannya itu, Ridwan Kamil mengatakan bahwa Jokowi cukup senang mendapatkan masukan. Menurut dia, setiap orang berkepentingan dengan rencana pemindahan ibu kota negara.

"Saya berkepentingan dengan keilmuan. Makanya datang (ke istana) sebagai anak bangsa. Bukan sebagai Gubernur, dalam konteks ini. Saya ingin agar cita-cita yang luar biasa besar ini berhasil," katanya.

Belajar dari Brasil

Ridwan Kamil membandingkan rencana pemindahan ibu kota dengan kasus ibu kota Brasil, Brasilia, yang dianggap gagal oleh beberapa kalangan setelah kota baru tersebut berdiri selama 50 tahun.

Ridwan Kamil berharap kejadian seperti di Brasilia tidak terulang di Indonesia.

"Saya mengingatkan saja agar kita berencana jauh lebih matang dan lebih baik. Masukan masyarakat juga harus diterima dan didengarkan dengan cara-cara baik," katanya.

Berorientasi pejalan kaki

Ridwan Kamil mengatakan, dari pengalamannya sebagai dosen, asumsi yang ada saat ini terkait luas ibu kota baru adalah terlalu luas. Dia tidak mengharapkan ibu kota yang baru nanti terlalu luas dan berorientasi kepada kendaraan dan mobil.

Menurut dia, kota yang futuristik, berorientasi kepada masa depan, adalah kota yang sangat mengakomodasi pejalan kaki. Dengan demikian, fasilitas seperti kantor, rumah, dan sekolah harus dibuat berdekatan supaya warga bisa mengaksesnya dengan jalan kaki.

"Kalau kepepet, baru naik transportasi publik, terakhir baru mobil. Jangan dibalik. Jangan mendesain ibu kota negara yang baru yang mayoritasnya untuk mobil, untuk bangunan, tapi aspek kemanusiaannya tidak maksimal," ujarnya.

Ridwan Kamil menyebut, Washington DC adalah ibu kota negara yang ideal untuk dijadikan percontohan. Perbandingan antara luas wilayah dan jumlah penduduk dipandangnya ideal. Berkaca kepada Washington DC, Ridwan Kamil mengatakan, idealnya luas ibu kota negara baru nanti memiliki luas maksimal 30.000 hektare. "Tidak usah 180.000 hektare," katanya.

Dukungan parlemen

Pada hari yang sama, Ketua DPR Bambang Soesatyo mengatakan, parlemen telah menerima surat dari Jokowi mengenai kajian pemindahan ibu kota negara. Saat ini, parlemen juga tengah menunggu rancangan undang-undang kepindahan ibu kota dari pemerintah.

"Yang kami terima sekarang adalah hasil kajian dan permohonan untuk beri dukungan. Itu sudah kami bahas di rapat pimpinan dan kami serahkan nanti ke Komisi II supaya dibahas. Jadi, belum masuk kepada pembahasan UU," ujarnya.

Ia mengatakan, sikap parlemen terkait dengan rencana pemindahan ibu kota adalah mendukungnya bila memang untuk kepentingan rakyat banyak.  "Pada prinsipnya, kalau untuk kepentingan masyarakat banyak, pasti akan kami dukung," katanya.***

Bagikan: