Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sebagian berawan, 20.8 ° C

Indonesia Impor Sampah dan Limbah, Jokowi Ingin Negara Hati-hati

Muhammad Ashari
SAMPAH plastik impor di Tempat Pembuangan Akhir Burangkeng, Kabupaten BekasiJumat 9 Agustus 2019.*/ANTARA
SAMPAH plastik impor di Tempat Pembuangan Akhir Burangkeng, Kabupaten BekasiJumat 9 Agustus 2019.*/ANTARA

BOGOR, (PR).- Presiden Joko Widodo menyinggung peningkatan impor sampah dan limbah dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan Bogor, Selasa 27 Agustus 2019.

Impor sampah dan limbah ke Indonesia disebut semakin meningkat. Lingkungan akan semakin terkena dampaknya bila impor sampah dan limbah tidak dikelola secara benar.

Jokowi mendapatkan laporan mengenai peningkatan tren impor sampah dan limbah. Selain itu, dalam acara sejumlah dan konvensi, kata dia, ekspor sampah dan limbah dari negara maju ke negara berkembang memang sedang meningkat.

“Jadi ini memang bukan hanya di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Jokowi, di satu sisi impor sampah seperti kertas dan plastik berguna untuk memenuhi bahan baku industri. Tapi di sisi lain, banyaknya sampah dan limbah yang masuk ke Indonesia akan berpotensi merusak lingkungan.

“Terutama jika sampah atau limbah impor itu tidak dapat didaur ulang dan terkontaminasi bahan berbahaya beracun,” katanya.

WARGA melintas di atas tumpukan sampah plastik impor di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat, 9 Agustus 2019. Menurut pantauan di lokasi tersebut ditemukan beberapa sampah kemasan plastik impor atau dengan label asal negara di Eropa yang diduga berasal dari limbah perusahaan industri.*/ANTARA

Jokowi kemudian meminta para menterinya menyikapi impor sampah dan limbah dengan hati-hati. Langkah-langkah pengendalian, dikatakannya, harus dilakukan.

Jokowi menekankan tiga hal mengenai pengendalian impor sampah dan limbah ini. Pertama, potensi sampah yang ada di dalam negeri untuk kebutuhan bahan baku industri harus dimaksimalkan.

Kedua, regulasi yang dibutuhkan untuk memperbaiki tata kelola impor sampah dan limbah segera dipercepat penyelesaiannya.

“Ketiga, penegakan aturan dan pengawasan yang ketat terhadap impor sampah dan limbah yang masuk ke Indonesia dan dilakukan langkah-langkah tegas yang harus dilakukan apabila ditemukan pelanggaran di lapangan,” ujarnya.

Jokowi mengatakan, koordinasi antara menteri-menteri terkait sangat diperlukan untuk mengelola impor sampah dan limbah. “Jangan sampai terjadi perbedaan pandangan yang menghambat penanganan impor sampah dan limbah,” ujarnya.

Adanya penyelundupan

Pada kesempatan terpisah, Direktur Eksekutif Ecoton Prigi Arisandi mengatakan, tren peningkatan impor sampah dan limbah menunjukkan adanya penyelundupan sampah terutama plastik ke Indonesia.

Menurut dia, kegiatan penyelundupan sampah plastik menunjukkan lemahnya pengawasan negara. Hal itu juga menunjukkan banyaknya instansi pemerintah yang masih belum mengarusutamakan perlindungan lingkungan.

“Penyelundupan sampah plastik menunjukkan banyak kecurangan yang dimainkan kementerian perdagangan, kementerian perindustrian, dan ketidakmampuan kementerian lingkungan hidup dalam mencegah dijadikannya Indonesia sebagai tempat sampah,” katanya.

Dia mengatakan, pemerintah harus tegas menghukum para importir yang terbukti menyelundupkan plastik dan Limbah B3 dalam waste paper yang diimpor. Pemerintah juga harus segera memberikan notifikasi kepada Amerika Serikat, Inggris, Australia, Uni Eropa, Selandia Baru, Kanada, Korea Selatan, dan Jepang bahwa Indonesia tidak menerima impor sampah plastik.***

Bagikan: