Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 23.5 ° C

Gambut Indonesia Sama Penting dengan Hutan Amazon

Yusuf Wijanarko
KEBAKARAN hutan Amazon, Sabtu 17 Agustus 2019.*/REUTERS
KEBAKARAN hutan Amazon, Sabtu 17 Agustus 2019.*/REUTERS

JAKARTA, (PR).- Hutan Amazon merupakan hutan hujan terluas di dunia, membentang di delapan negara di Amerika Selatan. Ekosistem itu sering kali disebut sebagai paru-paru dunia karena menghasilkan 20 persen oksigen untuk penduduk bumi.

Tidak heran, kebakaran hutan Amazon yang memasuki pekan ketiga meresahkan penduduk dunia. Sekjen PBB Antonio Guterres, pesohor seperti Leonardo DiCaprio, Madonna, Shakira, hingga pemain sepak bola Cristiano Ronaldo turut lantang bersuara.

Antara melaporkan, kecaman terhadap Presiden Brasil Jair Bolsonaro masih terus mengalir dari penjuru dunia dan hal itu mengingatkan pada peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia pada 2015.

KEBAKARAN hutan Amazon, 22 Agustus 2019.*/REUTERS

Presiden Prancis Emmanuel Macron, melalui cuitan di akun Twitter miliknya menyebut bahwa kebakaran hutan Amazon merupakan krisis internasional.

Dia mengajak anggota Konferensi Tingkat Tinggi G7 membahas krisis itu terlebih dahulu

“Our house is burning. Literally. The Amazon rain forest - the lungs which produces 20% of our planet’s oxygen - is on fire. It is an international crisis. Members of the G7 Summit, let's discuss this emergency first order in two days! #ActForTheAmazon,” ujar Macron.

Gambut penyerap karbon

Kebakaran hutan dan lahan terjadi di banyak negara, tidak hanya di hutan Amazon. Kawasan hutan di wilayah Irkutsk, Siberia, Rusia, terbakar awal Agustus 2019 lalu seperti dilaporkan Reuters. Sebelumnya, kebakaran hutan bahkan terjadi di lingkar Kutub Utara di Alaska, Amerika Serikat.

Spanyol menjadi negara yang juga kerap mengalami kebakaran hutan dan lahan saat musim panas. Setidaknya, 9.000 penduduk dievakuasi dari desa-desa di Kepulauan Canary saat sekira 6.000 hektare hutan dan lahan terbakar hanya dalam waktu 48 jam.

Panel ahli perubahan iklim antarpemerintah (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) mencurigai peningkatan suhu bumi terjadi ketika jumlah titik api di bumi meningkat selain karena emisi karbon.

WARGA memadamkan kebakaran lahan gambut di desa Pulau Semambu, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Selasa 6 Agustus 2019.*/ANTARA

Karena itu, sangat penting menjaga vegetasi hutan dan lahan. Dalam skala kecil, hal itu akan menyerap emisi karbon. Kija hutan dan lahan dijaga dalam skala besar, besar pula emisi yang akan terserap.

“Terutama peatland,” kata Intan, menyebutkan gambut sebagai salah satu penyerap emisi karbon terbaik.

Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2019

Dalam Laporan Khusus tentang Perubahan Iklim dan Lahan dari IPCC, menurut dia, ada pernyataan terkait potensi mitigasi hutan yang berkurang. Artinya, jika hutan semakin matang, rasio kenaikan penyerapan emisi karbonnya menurun.

Akan tetapi, Intan mengatakan, kondisi itu berbeda dengan hutan dan lahan gambut yang bisa terus menyerap karbon dalam jangka waktu lama.

Karena itu, dengan luas hutan dan lahan gambut mencapai 22,5 juta hektare dan mampu menyimpan 30 persen karbon dunia, gambut Indonesia sama pentingnya dengan hutan Amazon.

Akan tetapi, kemampuan hebat gambut Indonesia hanya akan bertahan jika pihak-pihak tak bertanggung jawab berhenti membakarnya.

Pemerintah Indonesia mempermanenkan kebijakan penundaan pemberian izin baru di hutan alam primer dan lahan gambut menjadi penghentian izin baru melalui Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2019. Kebijakan itu diperkirakan pemerintah akan mampu menurunkan angka deforestasi.

Penghentian pemberian izin baru adalah sebuah langkah maju meski Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan Muhammad Teguh Surya menyayangkan bahwa selama 8 tahun moratorium izin sebelumnya, belum terlihat penguatan dalam hal cakupan dan tingkat perlindungan terhadap seluruh hutan alam dan lahan gambut Indonesia yang tersisa.

“Dibutuhkan lebih dari sekadar langkah-langkah kecil untuk menyelamatkan Indonesia dari bencana lingkungan hidup dan kemunduran ekonomi akibat kerusakan sumber daya alam dan dampak buruk perubahan iklim. Yang kita butuhkan adalah lompatan besar ke depan, langkah drastis untuk menyelamatkan seluruh hutan alam dan lahan gambut yang tersisa,” ujar Teguh.

Ia berharap, tidak ada batasan perlindungan terhadap hutan dan gambut serta perlindungan seharusnya tidak hanya berhenti pada hutan primer.

Untuk mencapai komitmen iklim, tekad Indonesia untuk turut melindungi hutan alam sekunder yang kaya karbon sangat penting. Keanekaragaman hayatinya menjadi tumpuan hidup masyarakat adat dan lokal.***

Bagikan: