Pikiran Rakyat
USD Jual 14.039,00 Beli 14.137,00 | Berawan, 19.8 ° C

584 Titik Panas Kebakaran Hutan dan Lahan Kepung Sumatra

Yusuf Wijanarko
KEBAKARAN hutan dan lahan di Muara Medak, Bayung Lencir, Musi Banyuasin, Rabu 21 Agustus 2019.*/ANTARA
KEBAKARAN hutan dan lahan di Muara Medak, Bayung Lencir, Musi Banyuasin, Rabu 21 Agustus 2019.*/ANTARA

PEKANBARU, (PR).- BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) menyatakan, 584 titik panas yang "mengepung" Sumatra menjadi indikasi awal kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terdeteksi di Sumatra Sabtu 24 Agustus 2019.

Berdasarkan data pantauan satelit pukul 6.00 WIB yang dirilis BMKG Stasiun Pekanbaru menunjukan bahwa "lumbung" titik panas berlokasi di Riau yakni 272 titik. Jumlah tersebut naik dua kali lipat sejak sehari sebelumnya.

"Di Riau jumlahnya naik dari kemari sore 112 titik, pagi ini jadi 272," kata Staf Analis BMKG Stasiun Pekanbaru Nia Fadhila kepada Antara.

Selain Riau, provinsi lain di Sumatra yang terdapat banyak titik panas di antaranya Jambi 128 titik, Sumatra Selatan 99 titik, Bangka Belitung 41 titik, Lampung 18 titik, Sumatra Barat dan Kepulauan Riau masing-masing 11 titik, serta Bengkulu 4 titik.

"Asap dari provinsi tetangga ada peluang mencapai Riau tapi karena jaraknya jauh tidak begitu terasa, sedangkan di Riau sendiri banyak terdeteksi titik panas," katanya.

PETUGAS gabungan dari TNI dan Manggala Agni Daops Banyuasin memadamkan kebakaran lahan di Desa Pemulutan, Ogan Ilir, Jumat 23 Agustus 2019.*/ANTARA

Nia menjelaskan, dari 272 titik panas di Riau, lokasinya paling banyak terdapat di Kabupaten Pelalawan dengan 102 titik.

Daerah lainnya antara lain Indragiri Hilir 90 titik panas, Bengkalis 35 titik, Indragiri Hulu 17 titik, Kepulauan Meranti dan Siak masing-masing 9 titik, Rokan Hilir 7 titik, Kuansing 2 titik, dan Kampar 1 titik panas.

Dari jumlah tersebut, ada 192 lokasi yang teridentifikasi sebagai titik api. Lokasi paling banyak juga terdapat di Pelalawan yaitu 76 titik, Indragiri Hulu 60 titik, dan Bengkalis 29 titik.

Nia mengatakan, arah angin berembus dari tenggara ke barat daya sehingga asap kebakaran mencapai Pekanbaru.

Berdasarkan pantuan Antara, asap yang menyelimuti Pekanbaru cukup pekat pada Sabtu pagi. BMKG melaporkan, jarak pandang kini hanya mencapai 1.500 meter sedangkan kualitas udara memburuk mendekati status tidak sehat.

Meski begitu, keterbatasan jarak pandang dinilai belum mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Syarik Kasim II Pekanbaru.

"Sampai dengan saat ini penerbangan masih normal," kata Executive General Manager Bandara Sultan Syarik Kasim II Yogi Prasetyo.***

Bagikan: