Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 20.4 ° C

Tak Hanya Gabah, Saat Musim Kemarau Mesin Penyedot Air juga Jadi Incaran Maling

Eviyanti
null
null

KEBUMEN, (PR).- Tidak hanya gabah yang rawan pencurian, mesin pompa penyedot air saat musim kemarau juga marak terjadi di Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Aksi tersebut terpicu oleh kebiasan petani sendiri yang meninggalkan mesin pompa beroperasi siang dan malam disawah tanpa penjagaan. Padahal sebagian mesin yang dicuri merupakan bantuan dari pemerintah.

Hal tersebut terungkap setelah Polres Kebumen menangkap WR (21) warga Desa Kaibon Kecamatan Ambal atas kasus pencurian pompa air. Selama musim kemarau  dia sudah mencuri empat mesin pompa yang ditinggalkan petani ditengah sawah. "Pencurinya sengaja memanfaatkan kelengahan petani," kata  Kapolres Kebumen AKBP Robertho Pardede didampingi  Kapolsek Ambal AKP Joko Maryono, Kamis, 22 Agustus 2019.

Pelaku sudah lama mengamati perilaku petani  di sawah, sehingga dia mengetahui jika banyak petani di desanya yang tidak membawa pulang mesin pompa air kerumah, tapi dibiarkan dalam kondisi hidup di tengah sawah selama berhari-hari. "Kebiasaan tersebut sebenarnya sudah lama, setiap kemarau mereka akan mengairi sawah pada pagi hingga pagi kembali bahkan sampai beberapa hari. Kebiasan petani yang seperti itu diketahui oleh tersangka, pencurian dilakukan pada dinihari," kata Kapolsek Joko.    

Mesin penyedot air oleh pelaku tidak langsung dibawa pulang tapi disembunyikan di area makam. Ketika ada kesempatan kemudian dia mengambil dan menjualnya. Pelaku tidak hanya mengambil 1 pompa air, karena pencurian pompa air pertama berhasil, WR masih melanjutkan aksinya sampai 4 kali. Barang-barang curian selanjutnya  dititipkan di rumah orang lain dengan alasan rusak dan akan akan diperbaiki.

Oleh tersangka mesin pompa penyedot air dijual sebagai barang rongsokan, "Hasil curian dia jual kiloan sebagai barang rongsok. Pencurian yang terakhir sebenarnya juga akan dijual kiloan namun tidak ada yang mau. Padahal masih berfungsi dengan baik sehingga kemungkinan hal tersebut yang mengundang kecurigaan pembeli, kemudian melaporkannya kepada polisi" jelas Joko.

Mesin pompa yang hilang menurut Joko, sebagian milik pribadi sebagian lainnya pompa bantuan dari pemerintah. Alasan petani tidak membawa pulang ke rumah pompa penyedor air karena biasanya dipakai secara bergantian, selain itu untuk mengairi sawah tidak cukup hanya beberapa jam, tapi berhari-hari. Bergantung luas tanahnya.

Tidak hanya mesin pompa yang rawan pencurian, pencurian gabah juga rawan dicuri. Kebiasaan petani meninggalkan hasil panen selama berhari-hari di lokasi penjemuran, seperti di jalan jalan, halaman rumah bahkan di pinggir sawah. Gabah baru disimpan jika sudah benar benar kering.  

Kepala Dinas Tanaman Pangan Kebumen Tri Haryono mengatakan, pihaknya belum menerima laporan pencurian  mesin pompa bantuan dari pemerintah."Kami akan mengecek dulu karena selama ini belum ada laporan soal pencurian mesin pompa bantuan negara. "Kita akan cek dulu kebenarannya," kata Tri. 

Namun, sebenarnya dinas sudah berulang kali meminta petani untuk tidak meninggalkan alsintan atau hasil panen gabah di sawah atau pekarangan karena rawan pencurian. Diakui, adalah kebiasaan petani meninggalkan mesin pompa di tengah sawah untuk pengaliri lahannya. Pengaliran  biasanya berlangsung selama berhari-hari dan secara bergantian selama kemarau. "Jika sawahnya luas maka pengalirannya juga akan lama, akan tetapi kemudian kebiasaan petani tersebut mengundang pencurian," kata Tri.***

Bagikan: