Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sebagian berawan, 18.8 ° C

Dana Bansos 2020 Naik, Keluarga Penerima Manfaat Akan Mendapatkan Bantuan Lebih Banyak

Vebertina Manihuruk
WARGA menunjukan kartu peserta Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Gunung Sari, Citeureup, Bogor, Jawa Barat, Jumat, 14 Desember 2018.*/ANTARA
WARGA menunjukan kartu peserta Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Gunung Sari, Citeureup, Bogor, Jawa Barat, Jumat, 14 Desember 2018.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Menteri Sosial (Mensos) RI, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan, pagu anggaran untuk bantuan sosial (bansos) di Kementerian Sosial (Kemensos) naik sebesar Rp3 triliun pada 2020. Pada tahun 2019, anggaran bansos mencapai Rp56 triliun dan naik menjadi Rp59 triliun untuk 2020.

Dia mengatakan, total anggaran Kemensos untuk 2020 memang naik mencapai Rp62 triliun, dari sebelumnya Rp58 triliun pada 2019. Sebanyak 95% dari total anggaran Kemensos itu dialokasikan untuk bansos.

Terkait kenaikan anggaran tersebut, Agus mengemukakan bahwa ada penyesuaian dalam Program Keluarga Harapan (PKH). Namun, secara umum, itu  tidak akan mempengaruhi target Kemensos untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan (gini rasio).

Penyesuaian tersebut yaitu untuk komponen ibu hamil dan anak usia dini yang bantuannya akan naik menjadi Rp3 juta dari sebelumnya Rp2,4 juta setahun. "Itu bukti konkret bahwa pemerintah menaruh perhatian yang tinggi terhadap SDM," ujar Agus Gumiwang di Jakarta, Kamis, 22 Agustus 2019, dilansir dari kantor berita Antara.

Selain itu, kata dia, ada penyesuaian dalam program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau nantinya menjadi Program Kartu Sembako Murah. Bantuan yang diterima Keluarga Penerima Manfaat (KPM) tadinya sebesar Rp110 ribu per bulan, namun pada 2020 akan naik menjadi Rp150 ribu per bulan.

Dengan kenaikan indeks bantuan tersebut, menurutnya, KPM akan lebih fleksibel dalam membelanjakan uang bantuan di elektronik warung gotong-royong (e-warong). Sebelumnya, KPM hanya bisa membelanjakan uang untuk dua barang yaitu telur dan beras. Dengan tambahan indeks bantuan, mereka bisa belanja kebutuhan lain untuk pemenuhan gizi keluarga.

"Saat ini sedang kita rumuskan item apa saja yang bisa dibelanjakan dengan kartu sembako murah, bisa saja minyak goreng, susu, daging atau ayam," ucapnya.

WAKIL Presiden Jusuf Kalla bersama Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum, dan Komisaris Utama PR TV Witjaksono hadir dalam peresmian Pikiran Rakyat Televisi di Hotel Bidakara Grand Savoy Homann, Kota Bandung, Minggu 17 Maret 2019.*

Data kesejahteraan sosial masih jadi pekerjaan rumah Kemensos

Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, terkait perbaikan dan penyempurnaan data kesejahteraan sosial, hal itu diakuinya masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar baginya sejak memimpin Kemensos. Iameyakini bahwa data yang baik akan membawa keberhasilan pada pelaksanaan program di Kemensos.

"Karena saya berkeyakinan bahwa komitmen dari pemerintahan Jokowi dalam mengalokasikan program bantuan sosial hanya bisa berhasil kalau data baik dan akurat. Sehingga semua program bisa tepat sasaran, kuncinya adalah data," ucapnya.

Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah pembersihan data Penerima Bantuan Iuran (PBI) pada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sekitar 5,2 juta PBI program JKN telah dikeluarkan dari kepesertaan.

"Ketika kita keluarkan lima juta, dalam waktu bersamaan kita masukkan lima juta baru yang memang dia by name by address ada di DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial)," katanya. Kemensos rutin melakukan pemutakhiran data DTKS tiga bulan sekali.

Dikatakannya, prioritas pembersihan data dilakukan terkait penerima PBI yang tidak punya NIK valid serta yang terdata di dalam pusat data BPJS tapi tidak ada di DTKS. Selain itu, peserta itu pun sejak 2014 tidak pernah mengakses layanan kesehatan.

"Ada laporan kasus yang sedang cuci darah dihentikan layanan PBI-nya. Ini tidak mungkin karena prioritas kami yang dikeluarkan itu yang dari 2014 tidak pernah mengakses layanan BPJS," ujarnya. Karena itulah, Kemensos terus melakukan penyempurnaan data menggunakan aplikasi Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial-Next Generation (SIKS-NG).***

Bagikan: