Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 24.4 ° C

Staf Khusus Presiden untuk Papua Bertemu Jokowi, Sampaikan Strategi Penanganan

Muhammad Ashari
WARGA membersihkan puing sisa kerusuhan di salah satu gedung yang terbakar di Manokwari, Papua Barat, Selasa 20 Agustus 2019. Usai kerusuhan Senin 19  Agustus 2019, situasi di Manokwari sudah kondusif dan warga mulai melakukan aktivitas di ruang publik.*/ANTARA
WARGA membersihkan puing sisa kerusuhan di salah satu gedung yang terbakar di Manokwari, Papua Barat, Selasa 20 Agustus 2019. Usai kerusuhan Senin 19 Agustus 2019, situasi di Manokwari sudah kondusif dan warga mulai melakukan aktivitas di ruang publik.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Organisasi masyarakat perlu mengendalikan diri dalam menyampaikan aspirasi di muka umum. Jangan sampai, aspirasi yang disampaikan menimbulkan pergesekan di masyarakat.

Staf Khusus Presiden untuk Papua Lenis Kogoya mengatakan hal tersebut terkait dugaan tindakan diskriminasi rasisme terhadap mahasiswa asal Papua di Malang dan penangkapan paksa mahasiswa asal Papua di Surabaya.

Lenis Kogoya meminta seluruh ormas di Indonesia mengendepankan persatuan dalam kerangka NKRI.

"Ormas perlu mengendalikan diri dalam menyampaikan aspirasi di muka umum. Menyampaikan aspirasi itu boleh, tapi jangan mengkhianati antara satu dengan yang lainnya," kata Lenis Kogoya di Istana Kepresidenan, Selasa 20 Agustus 2019.

WARGA melintas di samping bangkai mobil yang terbakar di Manokwari, Papua Barat, Selasa 20 Agustus 2019. Usai kerusuhan yang terjadi Senin 19 Agustus 2019, kondisi Manokwari sudah kondusif.*/ANTARA

Dia menyesalkan penggunaan kata-kata kasar sebagaimana yang terjadi di Surabaya. Begitu juga dengan seruan supaya mahasiswa asal Papua pulang ke tempat asalnya sebagaimana yang terjadi di Malang.

"Itulah yang kurang baik. Membuat sakit hati orang Papua," katanya.

Lenis Kogoya mengharapkan supaya warga Papua tidak dianggap sebagai musuh. Hal yang diperlukan adalah saling menghargai. "Indonesia kaya karena ada orang hitam. Ada tambang juga. Emas ada, ada pulau kita yang besar dan wilayah yang luas," katanya.

Bertemu Jokowi

Lenis Kogoya dipanggil Presiden Joko Widodo untuk membahas persoalan terkait mahasiswa asal Papua. Saat ditanya mengenai isi pertemuan, dia mengatakan, Jokowi pada intinya mendorong semua pihak untuk bisa saling memaafkan.

"Pada intinya, Pak Presiden menyampaikan seperti yang sudah disampaikan, bahwa kita harus saling memaafkan. Bagaimana caranya, kita harus bersama membangun masa depan Indonesia lebih baik," ujarnya.

Pada kesempatan itu, dia menyampaikan kepada Jokowi terkait strategi khusus untuk menangani permasalahan di Papua, khususnya dalam menangani mahasiswa asal Papua.

"Pola asrama kita perhatikan, pola hidup diperhatikan, pendidikan juga diperhatikan. Jadi, kejadian ini tidak terulang lagi ke depan. Itu yang saya laporkan. Mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama, kami ajak Pak Presiden ke Papua lagi untuk berdialog, berdiskusi dengan masyarakat Papua," ujarnya.

Lenis Kogoya engatakan, terkait situasi di Papua saat ini, dalam laporan yang diterimanya, sampai Selasa siang belum ada pergerakan yang signifikan seperti halnya yang terjadi pada Senin 19 Agustus 2019. Informasi itu dia dapatkan dari Lembaga Adat Papua. Namun, kondisi itu bisa saja setiap saat berubah.

Jusuf Kalla sampaikan pesan

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan Wali Kota Malang Sutiaji telah meminta maaf atas insiden yang melibatkan mahasiswa asal Papua.

Warga Papua dan Papua Barat diharapkan bisa menerima penyesalan dan permintaan maaf yang dilontarkan oleh para kepala daerah itu.   

"Intinya adalah kita harus saling menghargai. Kita menghargai masyarakat Papua yang ada di berbagai kota. Masyarakat Papua yang ada di banyak kota menghargai pula kehidupan sosial dan peraturan yang ada," ujarnya.***

Bagikan: