Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 24.4 ° C

Soal Kualitas Buruk Udara Jakarta, Periset Greenpeace Ikut Bicara

Tim Pikiran Rakyat
PEMANDANGAN Monumen Nasional dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Senin, 29 Juli 2019.*/ANTARA
PEMANDANGAN Monumen Nasional dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Senin, 29 Juli 2019.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Soal udara Jakarta yang buruk, Periset Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Adila Isfandiari mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk melakukan inventarisasi emisi.

"Harus dilakukan inventarisasi emisi, apa saja yang memberi kontribusi besar termasuk parameter apa yang digunakan," kata Adila di Jakarta, Senin, 19 Agustus 2019.

Hal ini disampaikan Adila terkait angka Air Quality Index (AQI) di kota Jakarta yang akhir-akhir ini mencapai 161, dengan keterangan tidak sehat.

Adila melihat, besar kemungkinan emisi dihasilkan dari industri-industri yang berlokasi di daerah penyangga Jakarta, kemudian juga dari kendaraan bermotor di luar DKI Jakarta seperti Tangerang dan Bekasi yang melintasi Jakarta.

Begitu juga soal pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Meski pada kenyataannya pembangkit listrik berbahan bakar batubara rata-rata berlokasi jauh di luar kota sehigga sulit kalau disebut ikut memberikan kontribusi terhadap pencemaran udara.

"Karena itu perlu ditilik lagi sumbernya disebabkan oleh apa saja, seperti misalnya pembakaran sampah. Selain itu perlu dipertimbangkan di sini, kebijakan apa yang diambil terkait hal tersebut,” jelasnya kepada Antara.

Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menyebutkan, sumber polusi ibu kota terbagi menjadi empat, yakni transportasi darat (75 persen), pembangkit listrik dan pemanas (9 persen), pembakaran industri (8 persen), dan pembakaran domestik (8 persen).

Sedangkan Azis Kurniawan selaku Manajer Riset dan Pengembangan Koaksi Indonesia mengemukakan, Gubernur DKI sudah mengeluarkan Instruksi Gubernur No. 66 tahun 2019 di awal bulan ini mengenai percepatan pelaksanaan pengendalian kualitas udara Jakarta. Gubernur juga sudah memerintahkan semua gedung milik pemerintah daerah akan dipasangi pembangkit lisrik tenaga surya atap (PLTS Rooftop). Targetnya tahun 2022 pemasangan PLTS Rooftop akan selesai di DKI.***

Bagikan: