Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sedikit awan, 23.8 ° C

Polisi Sebut Tak Ada Tindakan Rasisme terhadap Mahasiswa Papua

Yusuf Wijanarko
POLISI membawa sejumlah orang yang diamankan dari Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10, Surabaya, Sabtu 17 Agustus 2019. Sebanyak 43 orang dibawa kepolisian untuk dimintai keterangannya tentang temuan pembuangan bendera Indonesia di depan asrama itu pada Jumat 16 Agustus 2019*/ANTARA
POLISI membawa sejumlah orang yang diamankan dari Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10, Surabaya, Sabtu 17 Agustus 2019. Sebanyak 43 orang dibawa kepolisian untuk dimintai keterangannya tentang temuan pembuangan bendera Indonesia di depan asrama itu pada Jumat 16 Agustus 2019*/ANTARA

SURABAYA, (PR) - Kepolisian Daerah Jawa Timur menegaskan tidak ada anggotanya yang mengucapkan kata-kata bernuansa rasisme saat mengamankan 43 mahasiswa Papua terkait temuan pembuangan bendera Indonesia di depan asrama Papua di Surabaya, Jumat 16 Agustus 2019.

Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol. Frans Barung Mangera di Surabaya, Senin 19 Agustus 2019 membantah adanya isu rasisme berupa ucapan nama hewan terhadap mahasiswa Papua.

"Kami jelaskan, tidak ada anggota kepolisian yang menyampaikan hal tersebut (rasisme). Kalaupun ada OKP (organisasi kepemudaan), kami akan lakukan penyelidikan," ujarnya.

Frans Barung Mangera menegaskan, tidak ada penindasan dengan kata-kata bernuansa rasisme terhdapa mahasiswa Papua seperti dalam isu-isu yang beredar.

Mengenai aksi memprotes tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya yang digelar di beberapa kota di Papua dan Papua Barat, polisi berharap masyarakat melihat secara objektif dugaan tindakan rasisme tersebut.

"Kepada masyarakat, agar melihat secara objektif apa yang terjadi agar tidak terpancing (hasutan) sosial media, terpancing isu-isu yang tidak benar," katanya kepada Antara.

Frans Barung Mangera mengatakan, hingga saat ini, polisi tidak melakukan penahanan terhadap mahasiswa Papua tapi hanya mengamankan puluhan mahasiswa Papua yang ada di Surabaya agar tidak terjadi bentrok dengan organisasi masyarakat.

Pengamanan tidak berlangsung lama karena pada malam harinya, para mahasiswa telah dipulangkan.

"Kami tegaskan tidak ada penahanan, tidak ada penangkapan. Yang ada, kami mengamankan 43 mahasiswa tersebut karena ada masyarakat dan beberapa OKP, ormas, akan masuk. Kalau tidak diamankan, akibatnya justru terjadi bentrok antara masyarakat dengan mahasiswa," tutur Frans Barung Mangera.***

Bagikan: