Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 21.2 ° C

Khofifah Indar Parawansa Minta Maaf kepada Warga Papua Atas Peristiwa di Surabaya dan Malang

Yusuf Wijanarko
ANGGOTA Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jatim bersiap masuk ke dalam Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10, Surabaya, Sabtu 17 Agustus 2019. Sebanyak 43 orang dibawa kepolisian untuk diminta keterangannya tentang temuan pembuangan bendera Indonesia di depan asrama itu, Jumat 16 Agustus 2019.*/ANTARA
ANGGOTA Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jatim bersiap masuk ke dalam Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10, Surabaya, Sabtu 17 Agustus 2019. Sebanyak 43 orang dibawa kepolisian untuk diminta keterangannya tentang temuan pembuangan bendera Indonesia di depan asrama itu, Jumat 16 Agustus 2019.*/ANTARA

SURABAYA, (PR).- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta maaf kepada warga Papua atas kejadian yang menimpa mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang.

"Saya sudah menelefon Gubernur Papua, Pak Lukas Enembe, dan kami mohon maaf karena itu (peristiwa di Surabaya dan Malang) sama sekali bukan mewakili masyarakat Jawa Timur," ujarnya saat menjenguk anggota Polsek Wonokromo korban penyerangan yang dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim, Surabaya, Senin 19 Agustus 2019.

Khofifah Indar Parawansa meminta masyarakat Papua dapat membedakan antara letupan yang bersifat personal dengan komitmen masyarakat Jawa Timur pada umumnya.

"Kami selalu mengingatkan Jogo (jaga) Jawa Timur. Oleh karena itu, hal-hal yang bisa dikomunikasikan, mari dimaksimalkan," ucapnya kepada Antara.

POLISI membawa sejumlah orang yang diamankan dari Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10, Surabaya, Sabtu 17 Agustus 2019. Sebanyak 43 orang dibawa kepolisian untuk dimintai keterangannya tentang temuan pembuangan bendera Indonesia di depan asrama itu pada Jumat 16 Agustus 2019*/ANTARA

Selama ini, kata Khofifah Indar Parawansa, komunikasi Forkopimda Jatim dengan mahasiswa Papua terjalin baik dan intensif. Bahkan, saat acara dalam rangka kampanye membangun pemilu damai, merka juga hadir.

"Saat Hari Bhayangkara, mereka hadir upacara. Saat Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Pendidikan Nasional juga ikut upacara di Grahadi. Komunikasinya sangat intensif," kata Khofifah Indar Parawansa.

Dia menyampaikan bahwa untuk meredam kejadian agar tidak semakin meluas, Gubernur Papua Lukas Enembe berencana berkunjung ke Jatim sekaligus berkomunikasi dengan mahasiswa maupun masyarakat Papua.

"Nanti Pak Gubernur Papua juga akan ke Jatim dan komunikasi bersama para mahasiswa Papua yang sedang studi di sini. Tidak hanya Surabaya dan Malang, tetapi juga di beberapa daerah lainnya," kata Khofifah Indar Parawansa.

Dia berharap mahasiswa Papua yang sedang belajar di daerah lain, termasuk di luar Jatim, turut merasakan keamanan.

"Harapannya, semua mahasiswa Papua yang studi di Jawa Timur akan terlindungi dan mereka aman bisa mengikuti program studinya dengan baik," katanya.

Media sosial panaskan suasana

Pengamat media sosial Hariqo Wibawa Satria kepada Antara mengatakan, ada sejumlah akun media sosial yang terlihat ikut memanaskan isu konflik horizontal Papua dan Jawa antara lain dengan menampilkan tudingan berdasarkan analisis pendek.

"Beberapa akun, saya perhatikan terus memanaskan situasi, baik sengaja atau tidak sengaja," kata direktur eksekutif konsultan media sosial Komunikonten itu.

Hariqo di antaranya mengamati adanya akun yang menuding satu kelompok sebagai penyebab kerusuhan dengan analisis pendek serta mengangkat satu golongan dan menjatuhkan golongan yang lain.

"Pasti ada pihak yang ingin memanfaatkan kerusuhan ini untuk kepentingan Gerakan Papua Merdeka atau untuk kepentingan golongannya. Dalam situasi krisis, unggahan yang benar sekalipun bisa berbahaya jika konteksnya tidak tepat atau tidak relevan. Belum tentu memproduksi-menyebar konten yang menguntungkan golongan kita juga menguntungkan NKRI," kata dia.***

Bagikan: