Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Cerah berawan, 29.9 ° C

Kerusuhan di Papua Dipicu oleh Berita Hoaks

Puga Hilal Baihaqie
MASSA membakar ban saat kerusuhan di pintu masuk Jalan Trikora Wosi Manokwari, Senin 19 Agustus 2019. Aksi massa itu merupakan buntut kemarahan mereka atas peristiwa yang dialami mahasiswa asal Papua di Surabaya, Malang, dan Semarang.*/ANTARA
MASSA membakar ban saat kerusuhan di pintu masuk Jalan Trikora Wosi Manokwari, Senin 19 Agustus 2019. Aksi massa itu merupakan buntut kemarahan mereka atas peristiwa yang dialami mahasiswa asal Papua di Surabaya, Malang, dan Semarang.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Kerusuhan yang terjadi di Kota Manokwari dan Kabupaten Sorong Papua Barat dipicu oleh penyebaran informasi yang tidak benar (hoaks) setelah penangkapan 43 orang mahasiswa terkait perusakan bendera merah putih di depan asrama mahasiswa Papua  di Surabaya pada 16 Agustus 2019. Selanjutnya polisi juga berupaya mengungkap pemilik akun media sosial yang disinyalir menyebar video berkonten profokatif dan diskriminatif terkait mahasiswa asal Papua.

“Pemilik konten sudah menghapusnya, namun jejak digitalnya tidak hilang begitu saja. Direktorat Siber Bareskrim Polri telah memprofilkan dan mengidentifikasi pemilik akun tersebut tinggal kami yang akan melacak dan menangkapnya,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo di Jakarta, Senin 19 Agustus 2019.

Pihak Mabes Polri menyebutkan akun bernada profokatif setelah penangkapan 43 mahasiswa asal Papua bukan dilakukan oleh satu pihak saja. Beberapa akun bahkan dengan terang-terangan menyebutkan adanya mahasiswa yang meninggal dunia saat penangkapan. Para mahasiswa mendapat intimidasi saat penangkapan,  ucapan rasis dan penghinaan terhadap mahasiswa dari aparat dan ormas yang melakukan penyisiran Asrama Mahasiswa Papua, hingga sejumlah konten lain yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

Padahal menurut Dedi, para mahasiswa yang di bawa ke Polrestabes Papua bukan untuk diinterograsi atau ditangkap, melainkan mereka diamankan agar tidak terjadi bentrok dengan warga yang telanjur marah karena adanya isu yang menyebutkan perusakan bendera merah putih dilakukan oleh salah seorang mahasiswa Papua. Namun setelah dilakukan penyelidikan ke-43 mahasiswa tersebut tidak ada yang terlibat dalam perusakan bendera merah putih, termasuk tidak ada bukti-bukti yang mendukung perusakan tersebut. Malam itu juga para mahasiswa Papua juga telah dikembalikan ke asrama.

Kerusuhan yang terjadi di Manokwari menyebabkan tiga orang anggota Polri mengalami luka-luka. Yaitu Kepala Biro Operasional Polda Papua Barat Komisaris Pol Moch Sagi dan kedua ranak buahnya. Ketiga anggota Polri itu terluka akibat lemparan batu saat mengamankan aksi unjuk rasa yang berujung pada kerusuhan.

Selain itu sejumlah fasilitas publik seperti Gedung DPRD Papua Barat, bekas Kantor Gubernur, dan beberapa fasilitas publik lainnya terbakar dalam kerusuhan di Manokwari. Aparat keamanan dan pemerintah daerah berupaya untuk meredam aksi masa, sehingga kerusuhan tidak meluas ke daerah lain. Upaya negoisasi juga dilakukan terhadap pengunjuk rasa seperti tindakan aparat yang memilih mundur dari kerumunan masa, agar tensi amarah mereka mereda.

Sementara kerusuhan yang terjadi di Sorong Papua mengakibatkan rusaknya Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Sorong.  Kepala Bagian Humas dan Protokoler Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia Ade Kusmanto menuturkan ada sekitar 552 warga binaan. Ia menyebutkan beberapa napi telah melarikan diri. “Namun kami belum mengetahui jumlahnya, karena masih dalam pendataan,” kata Ade.

 Ia juga  menyebutkan kondisi di sekitar Lapas Kelas II B Sorong sudah terkendali setelah diterjunkan aparat keamanan. Begitu juga dengan Bandara Domine Eduard Osok (DEO) yang sempat lumpuh total sudah terkendali. ***

Bagikan: