Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 28.8 ° C

LPSK Akan Lindungi Saksi Korban Pembunuhan Keluarga di Kabupaten Serang

Tim Pikiran Rakyat

ILUSTRASI ancaman pembunuhan.*/ANTARA
ILUSTRASI ancaman pembunuhan.*/ANTARA

SERANG, (PR).- Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK) akan memberikan perlindungan terhadap saksi korban SS (25) terkait pembunuhan satu keluarga di Kampung Gegeneng, Desa Sukadalam, Kecamatan Waringin Kurung, Kabupaten Serang. Perlindungan itu diberikan agar saksi korban bisa kembali pulih baik secara psikologis, medis, dan memiliki keamanan yang terjamin.

Tenaga Ahli LPSK, Mardiansyah, mengatakan, kasus itu menjadi perhatian LPSK sejak pertama kali mencuat. Oleh karena itu, pihaknya segera melakukan tindakan proaktif untuk menindaklanjuti kasus pembunuhan tersebut.

"Ini sangat memprihatikan karena ada keluarga yang dianiaya, bahkan ada yang meninggal dunia, bahkan ada yang usia empat tahun," ujarnya kepada wartawan, di Polres Serang Kota, Kamis, 15 Agustus 2019, seperti dilaporkan Dindin Hasanudin dari Kabar Banten.

Mardiansyah mengatakan, dalam mandat Undang Undang 31 tahun 2014, LPSK akan melakukan pendalaman dan penelaahan terhadap kasus yang akan didampingi. Apalagi, Kasat Polres Serang Kota, AKP Ivan Adhitira, juga sudah mengajukan perlindungan kepada LPSK terkait saksi korban.

“LPSK akan tindak lanjuti prosesnya sehingga nanti bisa disampaikan kepada rapat paripurna pimpinan LPSK apakah akan diputuskan bisa dilindungi atau tidak," tuturnya.

Ia mengatakan, jika nanti hasil rapat memutuskan akan melindungi saksi korban, maka saksi korban akan mendapatkan haknya sesuai yang diatur dalam undang undang. Di antaranya pelayanan bantuan medis dan psikologis, karena diduga saksi korban mengalami trauma. 

"Jika memang sudah jadi terlindung, maka LPSK berkewajiban memulihkan kembali kondisi medis psikologi, termasuk pendampingingan terhadap saksi korban ketika nanti dimintai keterangan dalam proses hukum. Nah, ini yang kami sampaikan ke keluarga korban, terkait negara secepatnya hadir melalui LPSK terkait kasus ini," kata pria yang menjabat sebagai juru bicara LPSK tersebut. 

TEMPAT kejadian perkara/DOK. PR

Strategi perlindungan dilakukan untuk membantu proses pengungkapan pelaku yang belum tertangkap

Disinggung soal perlindungan, Mardiansyah menuturkan, LPSK akan melihat kondisi dan perkembangan saksi korban lebih dulu. Namun yang pasti, ketika sudah jadi terlindung maka LPSK akan punya strategi perlindungan.

 "Sekarang tidak bisa dipaparkan strateginya. Karena ini strategi perlindungan di LPSK. Jika diputuskan jadi perlindungan LPSK, kita wajib menjamin keselamatan, kesehatan saksi korban sehingga bisa membantu proses tindak pidana agar bisa cepat terungkap," katanya.

Selama ini, kata dia, pascakejadian sadis itu, banyak yang khawatir terhadap keselamatan saksi korban. Apalagi, pelakunya pun belum bisa tertangkap.

"Jangan-jangan nanti saksi terancam untuk itu, LPSK respon cepat supaya bisa diputuskan semoga cepat. Biar ada tindak lanjut dari LPSK untuk memberi perlindungan. Kalau faktanya bukan ancaman lagi, setelah kejadian ini tentu ada rasa khawatir dari korban karena pelaku belum tertangkap. Dari psikologi juga dia tertekan, trauma ada. Ini jadi domain LPSK untuk recovery secara psikologis agar saksi korban bisa kembali," ucapnya. 

Sebelumnya diberitakan, terjadi pembunuhan sadis di kampung Gegeneng, Desa Sukadalam, Kecamatan Waringin Kurung, Selasa, 13 Agustus 2019. Pada peristiwa itu, dua orang yakni Rustadi (37) dan Alwi (4) meninggal dunia, sedangkan Siti Sadiyah (25) kritis dan dilarikan ke RSUD Kota Cilegon. Hingga saat ini, pelaku pembunuhan tersebut masih dalam pengejaran pihak kepolisian.***

Bagikan: