Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 24.6 ° C

Tersangka Penjual Data Dibekuk Polisi

Puga Hilal Baihaqie

ILUSTRASI tersangka tertangkap.*/DOK. PR
ILUSTRASI tersangka tertangkap.*/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri mengungkap adanya penjualan data kependudukan yang dilakukan oleh C (32) melalui website temanmarketing.com dan whatsapp. Modus yang dilakukan tersangka C terbilang klasik. Ia melakukan penawaran di website dengan mencantumkan nomor telefon seluler yang terhubung dengan aplikasi whatsapp. Bila ada pengunjung lama yang berminat, dilakukan transaksi jual-beli melalui whatsapp.

"Dalam menjalankan bisnis ilegalnya tersangka memiliki beberapa pilihan paket penjualan data. Dengan harga termurah Rp  350.000 untuk 1.000 data. Sedangkan harga termahal mencapai Rp 20 juta rupiah, terdiri dari 50 juta data kependudukan termasuk data nasabah di sejumlah bank," kata Wakil Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Komisaris Besar Polisi Asep Safruddin dalam keterangan persnya di Jakarta, Kamis 15 Agustus 2019.

Asep mengatakan sebagian besar transaksi jual-beli data dilakukan tanpa pertemuan antara pelaku dengan calon pembeli. Bila sudah terjadi kesepakatan harga, maka pelaku meminta calon pembelinya untuk transfer sejumlah uang ke nomor rekening pribadi milik C. Selain itu pembayaran juga bisa dilakukan melalui isi ulang (top up) ke saldo aplikasi OVO milik C dengan nomor 081288103307.

Adapun data yang dijual oleh tersangka C terdiri dari nama lengkap, nomor telefon seluler, nomor induk kependudukan (NIK), nomor kartu keluarga (KK), nama bank, dan sejumlah data pribadi lainnya. Berdasarkan pengakuan dari C, ia beroleh data tersebut dari seseorang yang identitasnya sudah diketahui polisi. "Pemasok tersebut masih dalam pengejaran polisi. Kami akan mengungkap alur data yang mereka dapatkan hingga sebanyak itu," ujar Asep.

Kasus tersebut terungkap seiring ramainya kabar di media sosial mengenai jual-beli data yang berpotensi disalahgunakan. Polisi menelusuri informasi tersebut dengan melakukan penyamaran untuk membeli data, hingga terungkap aktivitas C yang berprofesi sebagai penjual data. Diketahui tersangka  C tinggal di Cilodong Depok. Di tempat itu pula polisi menangkap tersangka C pada 6 Agustus 2019. Dari tangan tersangka polisi menyita sejumlah barang bukti di antaranya telefon seluler beserta nomor yang digunakan untuk transaksi penjualan data. Tersangka C dijerat UU No. 11/2008 tentang informasi dan transaksi elektronik juga UU Nom 24/2013 tentang administrasi kependudukan. ***

 

Bagikan: