Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 28.8 ° C

Posisi Jaksa Agung Diisi Figur Perempuan?

Vebertina Manihuruk
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

JAKARTA, (PR).- Indonesia Police Watch (IPW) menilai Yenti Ganarsih berpeluang menggantikan Prasetyo sebagai Jaksa Agung. Hal itu seiring pernyataan Presiden RI Joko Widodo bahwa Jaksa Agung mendatang bukanlah dari kalangan partai politik.

"Sebab beredar kuat isu bahwa Jokowi akan mengangkat Jaksa Agung perempuan," kata Ketua Presidium ICW, Neta S Pane, seperti dilansir dari kantor berita Antara, Kamis, 15 Agustus 2019.

Jika benar bahwa Jaksa Agung mendatang adalah perempuan, kata dia, maka akan menjadi sejarah baru dalam Korps Kejaksaan. Dari informasi yang didapatkan IPW, Neta menyebutkan nama yang menguat untuk posisi Jaksa Agung yang berasal dari kalangan perempuan adalah Yenti Ganarsih.

Ia mengatakan, figur Yenti Ganarsih yang disebut-sebut sebagai calon Jaksa Agung, bukanlah orang baru di lingkungan Jokowi. Di era pertama pemerintahan Presiden Jokowi, Yenti diangkat sebagai anggota Panitia Seleksi (Pansel) KPK dan Kompolnas, serta sering diminta masukannya soal pemberantasan tindak pidana pencucian uang.

Bahkan sekarang, kata dia, Yenti yang merupakan pakar antipencucian uang dari Universitas Trisakti itu telah diangkat Jokowi sebagai Ketua Pansel Calon Pimpinan KPK.

"Jika Yenti diangkat menjadi Jaksa Agung, upaya pemberantasan korupsi diharapkan bisa terkonsolidasi dengan tiga kekuatan, kejaksaan, kepolisian, dan KPK, di mana Yenti saat ini menjadi panselnya," kata Neta.

Jaksa Agung harus bisa bekerja sama dengan kepolisian

Selain itu, IPW juga mengingatkan bahwa siapapun yang menjadi Jaksa Agung harus bisa bekerjasama dengan jajaran kepolisian. Dengan begitu, penegakan supremasi hukum bisa bersinergi dan berjalan maksimal sesuai harapan masyarakat.

Selama ini, kata dia, hubungan Polri dan kejaksaan agak terganggu, terutama terkait perkara penembakan yang diduga melibatkan penyidik KPK Novel Baswedan yang sudah dituntaskan kepolisian di Bengkulu dan sudah P 21. Akan tetapi, kasus itu tak kunjung dilimpahkan ke pengadilan oleh kejaksaan.

"Jaksa Agung sepertinya 'pasang badan' untuk Novel. Padahal, sikap itu sangat mencederai rasa keadilan keluarga korban," ujarnya.

Untuk itu, Neta mengatakan bahwa Jaksa Agung yang baru harus pula bisa menuntaskan kasus penembakan itu sampai ke pengadilan. Selain, Jaksa Agung pun harus bisa bersinergi dengan jajaran kepolisian.

"Tanpa itu, Jaksa Agung bisa dituding takut terhadap Novel Baswedan, mempermainkan hukum, serta tebang pilih dalam melakukan penegakan hukum," katanya.***

Bagikan: