Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 24.6 ° C

BNPB: Masih Banyak Daerah di Indonesia yang Tidak Siap Hadapi Bencana

Tim Pikiran Rakyat
Kepala BMKG Pusat  Dwikorita Karnawati bersama Kepala BNPB Letjen Doni Monardo saat menyerahkan alat deteksi dini gempa kepada Sekda Provinsi Banten Al Muktabar di Hotel Marbella Anyer, Rabu, 14 Agustus 2019.*/KABAR BANTEN
Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati bersama Kepala BNPB Letjen Doni Monardo saat menyerahkan alat deteksi dini gempa kepada Sekda Provinsi Banten Al Muktabar di Hotel Marbella Anyer, Rabu, 14 Agustus 2019.*/KABAR BANTEN

SERANG, (PR).- Masih banyak daerah di Indonesia yang tidak siap dengan bencana. Oleh karena itu, harus dilakukan kerja keras untuk meningkatkan kapasitas penanganan bencana di berbagai daerah, sehingga masyarakat sadar tentang potensi ancaman bencana.

Hal itu dikatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo saat menutup Tim Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) di Hotel Marbella Anyer, Banten, Rabu, 14 Agustus 2019.

Menurut dia, ekspedisi tidak cukup hanya untuk tsunami, karena bencana di Indonesia terdiri dari banyak variabel. Mulai dari ancaman geologi, vulkanologi, hingga hidrometerologi.

“Vulkanologi bukan hanya gempa diikuti tsunami tapi juga likuifaksi. Dengan demikian, setiap daerah harus memetakan apa potensi ancamannya, lalu menyusun langkah penangggulanganya, baik mulai dari mitigasi, termasuk pencegahan dan siap siagaan,” ujarnya kepada Dindin Hasanudin dari Kabar Banten.

Doni mengatakan, tim telah melakukan perjalanan selama 1,5 bulan. “Kemudian bagaimana masyarakat mempersiapkan diri. Setelah sadar harus disiapkan dan ditingkatkan program edukasi dan simulasi. Terakhir harus punya daya atau ketangguhan ketika menghadapi bencana sehingga tidak ada korban besar,” ucapnya.

Saat ini, kata dia, edukasi ini masih dalam tingkat desa, tetapi ke depan, sedang dikonsep agar program pelatihan ini bisa sampai menyentuh tingkat keluarga. karena masih banyak keluarga yang belum dapat pelatihan.

"Kedua, keluarga adalah pihak pertama yang terdampak. Kalau keluarga bisa ditingkatkan kapasitasnya, maka ke depan kalau terjadi risiko kerugian akan kecil,” ucapnya.

Sekretaris Provinsi Banten Al Muktabar mengaku berterima kasih dengan dijadikannya jalur terakhir ekspedisi destana, juga menerima alat dari BMKG pusat.

Alat tersebut diyakini akan membantu kesiapsiagaan potensi bencana, khususnya gempa dan tsunami. “Pemda akan menjaga alat itu dan kita akan komunikasikan ke BMKG pusat, BNPB, dan BPBD untuk kita mengambil langkah terukur dan terstruktur untuk menghadapi kemungkinan bencana,” ujarnya.

Alat pendeteksi gempa

Sementara itu, Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyerahkan satu alat deteksi dini gempa. Hal itu dilakukan sebagai uji coba untuk mengurangi risiko kerugian gempa bumi di wilayah tersebut.

Kepal BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, pihaknya sudah menyerahkan sistem baru deteksi gempa yang selama ini belum pernah terpasang di Indonesia. Akan tetapi, saat ini sistem baru tersebut masih dalam tahap uji coba.

“Kita baru akan uji coba dan akan diletakan di Provinsi Banten,” ujarnya.

Dwi mengatakan, diharapkan dengan sistem baru ini bisa ada jeda waktu 15-30 detik sebelum gempa terjadi, untuk bisa diketahui. Dengan demikian, jaringan listrik, gas, kereta cepat atau pabrik petrokimia bisa segera mematikan sistem sehingga tidak meledak.

“Jadi ketika gempa tidak terjadi ledakan atau kebakaran, dan untuk tempat umum, kita bisa siap siap tinggalkan ruangan atau gedung. Ini sistem baru yang akan diuji coba,” katanya.

Ia mengatakan, peralatan deteksi dini gempa bumi ini tidak hanya dipasang di Banten, namun ada beberapa daerah lain seperti Sumatera Barat, Lampung, dan Jawa Barat.

Tahun depan, alat tersebut akan dipasang di sepanjang rute Destana. “Kemudian di Nusa Tengara dan pantai barat Sumatra juga. Negara lain juga baru pakai, karena perkembangan teknologi. 10 tahun lalu kita belum, Jepang dan Cina saja baru setelah tahun 2011 ke sini ekeperimen (alat deteksi dini gempa), mereka lebih dulu uji coba, sekarang kita,” tuturnya.

Dwi menjelaskan, untuk menanggulangi bencana gempa bumi, apabila masyarakat merasa ada guncangan yang dihitung sampai ke sepuluh tidak berhenti, masyarakat diimbau segera lari ke tempat yang lebih tinggi atau panjat pohon.

“Tentunya pemda sudah siapkan jalur evakuasi tersebut. Tidak perlu tunggu sirine karena peringatan dini bisa terlambat daripada datangnya ancaman,” katanya.***

Bagikan: