Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 24.6 ° C

Kebijakan Simplifikasi Ancam Puluhan Ribu Pekerja Kehilangan Pekerjaan

Satrio Widianto
Rokok/REUTERS
Rokok/REUTERS

JAKARTA, (PR).- Pengusaha dan Pengelola Perusahaan Rokok yang tergabung dalam Gaperoma, mendukung penuh kebijakan Presiden Joko Widodo menolak kebijakan Simplifikasi penerapan tarif cukai yang semula 10 tier menjadi 5 tier. Kebijakan itu dinilai akan berdampak banyak perusahaan rokok berguguran dan puluhan ribu tenaga kerja industri hasil tembakau (IHT) kehilangan lapangan pekerjaan. 

"Namun, Gaperoma tidak menolak rencana pemerintah menaikkan cukai rokok di tahun 2020 mendatang, asal tidak melebihi angka inflasi," papar Ketua Umum Gaperoma Johni SH di Jakarta, Rabu 14 Agustus 2019.

Menurut Johni, simplikasi adalah penyederhaan sistem tier cukai dari semula sepuluh menjadi lima tier sehingga hal ini memberatkan kalangan perusahaan rokok terutama rokok rakyat. "Ini akan mematikan rokok rakyat. Karena itu, kami mendukung kebijakan Presiden Joko Widodo yang menghentikan simplikasi penerapan cukai,” kata Johni.

Dikatakan, rencana Kementerian Keuangan yang akan menerapkan simplifikasi penarikan cukai, hanya akan menguntungkan monopoli pemasaran rokok perusahaan besar. Mematikan industri rokok di dalam negeri. Yang tercipta kemudian adalah monopoli usaha di bidang industri hasil tembakau. Johni sendiri sangsi, kebijakan simplifikasi akan meningkatkan pendapatan negara. Yang pasti hanya menguntungkan perusahaan dan produsen rokok besar. Mematikan produsen rokok rakyat.

“Kami minta, kementerian keuangan menghentikan rencana penerapan kebijakan simplifikasi tarif cukai sebab hal tersebut akan mematikan banyak perusahaan perusahaan rokok nasional terutama rokok rakyat. Dan menciptakan monopoli usaha dan industri rokok oleh kelompok usaha tertentu. Ini berbahaya bagi perekonomian negara dan masyarakat jangka pendek maupun jangka panjang,” papar Johni.

Apabila kementerian keuangan tetap memaksakan melakukan dan menerapkan simplifikasi, selain mematikan perusahaan perusahaan dan pabrik pabrik rokok, juga akan menimbulkan jutaan tenaga kerja di sektor industry hasil tembakau kehilangan lapangan pekerjaan. Mereka akan menganggur. Jika kondisi ini terjadi bukan hanya pengusaha rokok yang dirugikan, tetapi juga seluruh masyarakat, juga pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Gaperoma saat ini menaungi 18 pabrikan sebagai anggota, dengan jumlah tenaga formal tak kurang dari 22 ribu orang. Jika Kebijakan Simplifikasi cukai  jadi diterapkan,  puluhan ribu tenaga kerja di pabrik rokok milik anggota Gaperoma, terancam kehilangan pekerjaan.

“Pemerintah dan masyarakat harus melihat industri rokok itu secara keseluruhan. Bukan hanya dari kacamata pemerintah pusat. Majunya industri rokok bukan hanya menguntungkan pemerintah pusat, tapi juga pemerintah daerah. Pendapatan asli daerah meningkat. Ekonomi masyarakat bergerak. Lapangan pekerjaan tersedia, bukan hanya lapangan pekerjaan di pabrik pabrik rokok, tapi lapangan lapangan pekerjaan di industri turunan dari industri rokok seperti logistik, perusahaan periklanan dan sektor penginapan, kuliner di sekitar pabrik rokok juga diuntungkan," katanya.***

Bergantung presiden

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Berli Martawardaya berpendapat, jadi atau tidaknya kebijakan simplifikasi penarikan cukai diterapkan tahun depan, tergantung dari persetujuan Presiden Republik Indonesia, yang memimpin organisasi pemerintah, termasuk di dalamnya adalah Kementrian Keuangan. 

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) setelah melakukan kajian soal simplifikasi penarikan cukai rokok menyerahkan kebijakannya kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Menteri Keuangan sebelum menerapkan kebijakan tersebut tentunya akan berkonsultasi dengan Presiden Joko Widodo.

“Dalam sistem organisasi pemerintahan, meskipun Kementerian Keuangan mendukung dan sudah melakukan berbagai kajian, keputusan ada di tangan presiden. Presidenlah yang akan menentukan apakah simplikasi jadi atau tidak jadi diterapkan,” paparnya.***

Bagikan: