Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 23.3 ° C

Tak Ada Dana Perbaikan, Lima Kelas  Nyaris Ambruk

Nurhandoko
KONDISI salah satu kelas  MTs NU Kabupaten Ciamis yang nyaris ambruk .*/ NURHANDOKO
KONDISI salah satu kelas MTs NU Kabupaten Ciamis yang nyaris ambruk .*/ NURHANDOKO

CIAMIS,(PR).- Proses belajar mengajar di MTs NU (Nahdlatul Ulama) yang berada di  Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten Ciamis tidak maksimal akibat lima ruang kelasnya nyaris ambruk. Hingga saat ini sekolah yang berada di pusat kota tersebut tidak pernah mendapatkan bantuan pemerintah.

Pantauan di MTs NU Ciamis, Selasa 13 Agustus 2019, lokasi sekolah tersebut berada di permukiman padat penduduk. Untuk mencapai sekolah juga hanya dapat dilewati sepedamotor. Beberapa siswa bergegas pulang usai mengikuti pelajaran.

Di depan bangunan dua lantai tersbeut terdapat lapangan, yang selama ini dimanfaatkan untuk kegiatan olah raga. Lantai pertama terlihat lumayan bagus, catnya juga tampak baru. Sebaliknya ketika melihat kondisi lantai dua, dari luar jelas terlihat sepanjang lorong, plafon yang hancur.

Lebih menyedikan lagi ketika memasuki ruang kelas yang tampak sudah lama tidak dipakai untuk kegiatan proses belajar mengajar (PBM),  plafon yang masih menggunakan anyaman bambu atau bilik, sebagian sudah lepas. Beberapa bangku dan meja siswa tampak rusak. Lima ruang kelas di lantai II tersebut keadaaanya tidak jauh berbeda, rusak berat, bagian atap bangunan rawan ambruk.

Akibat kondisi tersebut, sebanyak 103 siswa harus bergantian memanfaatkan tiga ruang kelas yang tersisa di lantai I. Sedangkan ruang lainnya dimanfaatkan untuk ruang guru, perpustakaan dan mushala.  Saat ini sekolah yang didirikan pada Tahun 1989 diampu sebanyak 12 guru , plus bagian adminsitrasi.

“Saya terus terang selalu terenyuh ketika melihat anak-anak semangat belajar, meskipun kondisinya seperti itu. Kadang batin saya juga menangis. Akan tetapi mau bagaimana lagi, sampai saat ini tidak ada bantuan untuk perbaikan,” ungkap Kepala MTs Nu Ciamis Iis Asiah, ketika ditemui di ruang kerjanya Selasa 13 Agustus 2019.

Dia mengatakan ruang kelas di lantai II yang sebelumnya sudah rusak, kondisinya semakin parah ketika terjadi gempa besar tahun 2006, disusul dengan terjadinya gempa setelah itu. Kerusakan paling parah, lanjutnya terdapat pada bagian atap yang masih mempergunakan konstruksi kayu. Agar sisiwa tetap dapat belajar, bagian atap pernah diperbaiki sementara, tidak tuntas.

“Terus terang kami tidak memiliki anggaran untuk perbaikan besar tersebut. Karena kondisinya semakin mengkhawatirkan, sejak enam tahun lalu praktis PBM hanya di lantai I. Kami larang anak-anak bermain di atas. Setiap ada gempa perasaan saya juga selalu was-was, termasuk ketika turun hujan,” tuturnya.

Iis mengatakan berbagai upaya dilakukan agar mendapatkan perhatian dan bantuan dari pemerintah, akan tetapi yang ditunggunya tidak kunjung datang. Dia juga mengaku sedikit terhibur ketika nama MTs NU Ciamis masuk daftar sekolah yang mendapat bantuan. Beberapa proposal juga diajukan, akan tetapi hasilnya tetap nihil. Untuk menghibur diri, juga pernah mengukur dan membuat perhitungan apabila rangka atapnya diganti baja ringan.  

“Sampai sekarang tidak ada bantuan untuk perbaikan, ada juga BOS tetapi kan bukan untuk perbaikan, kadang juga terlambat. Kami juga tidak mungkin menarik sumbangan dari siswa, bahkan komite sekolah juga kesulitan ketika minta bantuan sebesar Rp 5.000 per bulan per siswa.  Kami akui siswa di sini sebagian besar dari keluarga kurang mampu,” ungkapnya.

Saat dilakukan penilaian akreditasi oleh asesor, dia mengatakan kepada petugas agar tidak melihat latai II, akan tetapi sebih baik melihat lantai satu. “Jangan lihat atas (lantai II) lebih baik lihat bawah saja,” tutur Iis.***

Bagikan: